Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Penting: Mencetak Anak yang Adibah

Kalimat-kalimat "Kasian tu anaknya sekolah di swasta" atau "Ah sekolahnya ngga favorit" sudah lama kami abaikan dan tebal kuping dengan kalimat tersebut.

Bagi kami yang notebene adalah seorang guru. Sejak anak masih kecil-kecil sudah memiliki prinsip bahwa pendidikan tidak bergantung pada dimana dia disekolahkan. Tapi pendidikan utama adalah kembali ke rumah dan kami sebagai orang tuanya lah yang bertanggung-jawab mendidik dan mengajar mereka. Sebab kelak kamilah
yang akan ditanya di akhirat tentang anak-anak kami. Bukan gurunya, kepala sekolah atau wali kelasnya.

Anak-anak kebetulan telah kami uji coba sekolah di sekolah negeri, setengah negeri dan sekolah swasta. Masing-masing sekolah selalu ada plus dan minusnya alias tidak ada sekolah yang sempurna.

Ya ujung-ujungnya konsep mendidik mereka kembali ke tangan kita sebagai orang tua. Apa yang mereka dapat di sekolah jika positif ya alhamdulillah. Jika negatif maka harus kita perbaiki di rumah dan menguatkan mereka.

Sebisa mungkin sebaiknya kita hindari intervensi pola didik gurunya kecuali dalam hal-hal yang membahayakan misalnya kasus bullying yang berulang di sekolah. Ketika anak masuk sekolah maka percayakanlah mereka pada institusi sekolah yang sudah kita teliti baik-baik.

Pendidikan anak sebaiknya adalah mengedepankan masalah akhlak. Zaman sekarang anak yang berakhlak lambat laun mulai berkurang jumlahnya. Sudah banyak contoh anak yang pintar & sekolah di sekolah favorit tapi gagal dalam hal akhlak atau adab.

"Mencetak anak pintar itu penting tapi mencetak anak yang berakhlak jauh lebih penting."

Sebab saat kita tua, kita tak memerlukan anak-anak yang nilainya excellent. Kita tak memerlukan anak-anak yang mendapat penghargaan ini dan itu. Kita tak memerlukan anak-anak yang hartanya melimpah.

Tapi kita perlu anak yang bisa merawat kita kala sakit. Memandikan jenazah kita. Menyolatkan kita. Menggotong dan mengantarkan kita ke liang lahat. Mendoakan dan menjaga keluarga sepeninggal kita.

Kita memerlukan anak-anak yang peduli dan berakhlak pada orang tua dan keluarganya.

Jangan terlalu sibuk dengan sekolah favorit ya pak bu. Pikirkan bagaimana nanti anak kita setelah kita tiada. Karena salah satu amalan yang tetap mengalir, adalah doan anak saleh dan salehah.
Share:

Hujan Bulan Juni

Ketabahan Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Ketabahan Huhan Bulan Juni
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Pecinta puisi dan penggemar setia karya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, yang juga sering dipanggil SDD, pasti sangat familier (dan suka) puisi di atas–Hujan Bulan Juni. Hujan Bulan Juni hanya satu dari sederet puisi populer SDD. Beberapa puisi lain yang tidak kalah banyak pecintanya antara lain Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana dan Yang Fana Adalah Waktu.

Kesederhanaan pilihan kata-kata untuk setiap puisinya membuat orang yang bukan penggemar puisi pun mudah menyukainya karena langsung bisa meresapi maknanya.

Sastrawan kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940, ini mulai menulis sejak SMP; dia terus mengembangkan kecintaannya itu seiring tingkat pendidikannya semakin tinggi dan karier profesionalnya di dunia pendidikan (sebagai dosen) dan sebagai sastrawan semakin meningkat.

Hujan Bulan Juni yang legendaris
Jika dilakukan survei tentang karya SDD yang paling populer dan melekat di benak banyak orang, hampir bisa dipastikan puisi Hujan Bulan Juni menempati urutan teratas. Tidak salah jika puisi ini disebut puisi legendaris Prof. Sapardi Djoko Damono.

Saking legendaris, tahun 2017 Hujan Bulan Juni pun difilmkan setelah perjalanan yang cukup panjang. Puisi Hujan Bulan Juni pertama kali terbit di surat kabar tahun 1989. Tahun 1990 lahir album Hujan Bulan Juni yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu adalah bagian dari sejumlah penyanyi, yang merupakan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Menerima penghargaan
Tahun ini, Prof. Sapardi Djoko Damono mendapatkan penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2018 untuk dua buku terbaiknya, Hujan Bulan Juni dan Yang Fana Adalah Waktu. Penghargaan itu diberikan di acara Kuala Lumpur International Book Fair yang digelar di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu, 28 April 2018. Hujan Bulan Juni mendapatkan penghargaan untuk kategori Buku Kompilasi Terbaik, sedangkan buku Yang Fana Adalah Waktu mendapatkan penghargaan untuk kategori Penulisan Prolifik.

Tentu saja ini bukan penghargaan pertama yang dia terima. Pada 1978, Sapardi Djoko Damono menerima penghargaan Cultural Award dari Australia. Selain itu, dia juga pernah mendapatkan penghargaan Anugerah Puisi Putra dari Malaysia pada 1983.

Salut untuk kecintaan, dedikasi, dan konsistensi Prof. Sapardi Djoko Damono pada dunia sastra Indonesia. Semoga dari hatinya yang bening terus lahir puisi-puisi yang melembutkan banyak hati dan menginspirasi kita semua.

Saya semakin bangga Indonesia. Kalau kamu?

Keep Breathing, Keep Inspiring!
Share:

Bila Akhlak Telah Rusak

Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan:

"Apabila akhlak telah rusak,  maka rusak pula aqidah.  Dan bila aqidah telah
 rusak maka hilanglah ketergantungan kaum

muslimin kepada Robb mereka,  dan saat itulah mereka menjadi umat yang paling lemah".

(Tafsir Surat Fushilat hlm.  39)
Share:

Agar Ucapanmu Tak Melalaikanmu

Dalam banyak hadits ini, Nabi menganjurkan kepada kita untuk mengucapkan ucapan yang baik atau diam. Banyak sekali dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan sunnah yang memerintahkan kita untuk menjaga lisan & tidak ada asal ngegas tanpa memikirkan secara matang dampaknya.
Lalai dalam ucapan pun sangat berbahaya

Sungguh betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan yang tak bertulang sehingga menjadi faktor utama dicampakkannya ke api Neraka !!

Dan perlu diketahui bahwa seorang sebelum melintarkan sebuah ucapan,  maka hendaknya mengecek empat aspek:

1. Tujuan dan Niat.
Baiknya niat menjadikan kata yang terucap dari lisan terasa sejuk dan mendatangkan kedamaian bagi orang yang mendengarnya. Apalah artinya kata-kata indah jika ternyata tersimpan dalam hatinya bisa dan racun yang mematikan.

2. Kanduangan makna ucapan.
Oleh karenanya seorang harus selektif dalam bertutur kata karena setiap huruf yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, yang berdampak tentang nasibnya kelak di akherat.

3. Kelembutan kata.
Tutur kata yang lembut dan santun terbukti ampuh memikat hati dan meruntuhkan amarah yang berkobar-kobar dan berubah menjadi keakraban dan kasih sayang.

4. Efek ucapan.
Bisa jadi ucapan kita benar, dikemas secara santun, dilandasi dengan niat yang baik, namun ternyata berdampak buruk akibatnya. Oleh karenanya, pertimbangkan baik-baik ucapan sebelum disampaikan agar tidak berujung pada malapetaka dalam hidup dan melukai perasaan saudara anda. (Lihat buku “Cerdas Berkomunikasi Ala Nabi “ hlm. 11-43 oleh Dr. Muhammad Arifin Badri, cet Pustaka Imam Syafi’i).

Point keempat ini perlu diperhatikan baik-baik, terutama bagi para dai dan penuntut ilmu agar kita tidak menghancurkan bangunan yang terbangun. Imam Asy-Syathibi berkata:
"Memikirkan buah suatu perbuatan adalah sangat penting dalam pandangan syari'at, baik perbuatan tersebut benar atau salah, sebab seorang alim tidak bisa menghukumi secara benar tentang suatu perbuatan kecuali setelah melihat buah yang dihasilkan dari perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan". (Al Muwafaqot 5/177)
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhali hafizahullah berkata:

"Di antara fiqh menghadapai zaman fitnah:
Sesungguhnya keyakinan harus dibangun di atas ilmu, sedangkan ucapan dan penjelasan (kepada ummat) harus dibangun di atas kemaslahatan.

Maka seorang muslim harus meyakini apa yang ditunjukkan oleh dalil dan apa yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun ucapan dan penjelasan kepada ummat maka harus didasarkan pada kemaslahatan.

Maka tidak disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengucapakan setiap apa yang dia ilmui, akan tetapi dia harus menimbang, jika dengan mengucapkannya ada kemaslahatan maka dia mengucapkannya. Namun jika menurut maslahat, perkara tersebut harus diakhirkan maka diapun harus mengakhirkannya dan menunda untuk mengatakannya".
Sumber: (Fiqhul al-Fitan, Syeikh Dr.  Sulaiman Ar-Ruhaily, hlm.  40-41)
Share:

Tantangan dalam Berdakwah

Setiap orang yang mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat, pasti mendapatkan resiko dan tantangan dakwah. Alangkah bagusnya perkataan Waraqah bin Naufal kepada Nabi:

لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُوْدِيَ

“Tidak ada seorang pun yang datang
Tantangan yang medekatkan pada-Nya. 
dengan mengemban ajaranmu kecuali akan dimusuhi.”
(HR.  Al-Bukhori (no. 7) dan Muslim (no. 160)

 Syaikh al-Albani berkata: “Ketika aku menggariskan manhaj (metode) ini pada diriku yaitu berpegang teguh dengan Sunnah ash-Shohihah dan aku realisasikan dalam kitab-kitabku yang akan tersebar pada manusia -insya Allah-, aku sangat menyadari bahwa hal itu tidak akan menyenangkan sebagian kelompok dan madzhab, bahkan kemungkinan besar mereka akan meluncurkan dan melancarkan berbagai celaan padaku secara lisan dan tulisan.
Bagiku pribadi, semua itu tidak menjadi masalah karena memang keridhaan manusia adalah suatu tujuan yang sulit digapai dan sebagaimana sabda Nabi:

مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَّلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, niscaya Alloh akan menyerahkannya pada manusia.”(HR. Tirmidzi (II/67), al-Qudha'i (II/42), Ibnu Busyran dalam al-Amali (144-145) dan lain-lain dengan sanad Shohih. Lihat Silsilah ash-Shohihah (no. 2311) oleh al-Albani).

 Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:

وَلَسْتُ بِنَاجٍ مِنْ مَقَالَةِ طَاعِنٍ
 وَلَوْ كُنْتُ فِيْ غَارٍ عَلَى جَبَلٍ وَعْرِ
وَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْجُوْ مِنَ النَّاسِ سَالِمًا
 وَلَوْ غَابَ عَنْهُمْ بَيْنَ خَافِيَتَيْ نَسْرِ

Aku tidak akan pernah selamat dari celaan orang
 Sekalipun aku bersembunyi di gua atau gunung yang sulit didaki
Siapakah orangnya yang bakal selamat dari manusia
 Walau dia telah bersembunyi di antara dua sayap burung. (Muqaddimah Shifat Sholat Nabi (hal. 44-45).

 Tetapi percaya atau tidak, semua celaan dan tuduhan dusta tersebut tidaklah membahayakan dan menggoyang kursi kedudukan para penyeru al haq, bahkan sebalik-nya, sangat membahayakan nasib para pencela beliau sendiri.

يَا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِيْ لِيَكْلِمَهُ
 أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ

Hai orang yang akan menabrak gunung tinggi untuk menghancurkannya
 Kasihanilah kepala anda, jangan kasihan pada gunungnya. (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi Ibnu Abdil Barr 2/310)

 Bahkan kita optimis bahwa semua tantangan itu akan menambah tinggi kedudukan dan keutamaan para pendakwah,  sebagaimana kata penyair:

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلَةٍ
 طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ

Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia
 Maka, Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menebarkannya. (Diwan Abu Tammam (45).
Share:

Sifat malu: Belajar dari Putri Nabi

Putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pernah berpesan kepada Asma’:

 “Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk perilaku kaum wanit yang memakai pakaian yang dapat menggambarkan tubuhnya.
Muslimah wajib memiliki sifat malu.
Dan aku malu jika kelak aku mati saat dibawa keluar kepada para pria lalu terlihat lekuk tubuhku".

Asma' berkata: "Aku pernah melihat di Habasyah (Ethopia)  keranda yang ditutupi seperti penutup untuk pengantin wanita.

Fathimah mengatakan: "Alangkah bagusnya itu".

Ibnu Abdil Barr mengatakan: "Fathimah adalah orang yang pertama kali dalam Islam keranda jenazahnya ditutupi kain". (Al Isti'ab 4057)

Perhatikanlah sifat malu Fathimah yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat menyifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita.

Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bentuk dada, pinggang, betis, dan anggota badan lainnya.

Hendaknya mereka beristighfar kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya serta mengingat selalu sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya hal yang dijumpai manusia dari perkataan para nabi adalah, “Apabila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhori)
Share:

10 Golongan Umat Nabi Muhammad SAW Tidak Akan Masuk Surga

"Ada 10 golongan dari umatku tidak akan masuk surga". Begitu mula mula Ibnu Abbas RA meriwayatkan sebuah hadist baginda nabi.
Kelak semua akan kembali

​"Siapa mereka ya Rasulullah?"​

1. Al Qalla,
2. Al Jayyuf,
3. Al Qattaf,
4. Ad Daibub,
5. Ad Dayyuts,
6. Shahibul 'Athabah,
7. Shahibul Kubah,
8. Al 'Utul,
9. Az Zanim, dan
10. Al aq liwalidaith.

​"Terangkanlah siapa saja mereka itu?"​

​Beliau menjawab.​

AL QALLA, ​adalah manusia penjilat, mencari muka pada penguasa.​

AL JAYYUF, ​adalah pencuri kain kafan kuburan.​

AL QATTAR, ​adalah para pengadu "domba".​

AL DAIBUB, ​adalah mucikari penjual perempuan sebagai pelacur.​

AD DAYYUTS, ​adalah orang yang tidak cemburu melihat istri dan anak gadisnya bergaul dengan laki laki lain.​

SHAHIBUL "ATHABAH, ​adalah para penabuh gendang besar.​

SHAHIBUL KUBAH, ​adalah para penabuh gendang kecil.​

AL 'UTUL, ​adalah Orang sombong yang tidak mau memberi maaf saudaranya yg meminta maaf.​

AZ ZANIM, ​adalah para pengunjing orang yg suka duduk duduk di pinggir jalan.​

AL 'AQ LIWALIDAITH, ​adalah pendurhaka pada orang tuanya.​

Muadz RA lantas bertanya,

​"Terangkan pada kami apa maksud dari ayat; "Pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong bondong"​ (QS. An Naba (78) : 18)

​"Kau menanyakan perkara besar wahai sahabatku Muadz..."​

​"...kelak ummatku akan dikumpulkan terpisah 10 golongan. Mereka menampakan rupa sesuai amal perbuatannya di dunia. Ada yang bewujud...:"​

1. ​KERA, mereka para pengadu domba manusia.​

2. ​BABI, pemakan barang haram dan mencari rizki dengan cara haram.​

3. ​Ada yang berjalan dengan KAKI DIATAS dengan MUKA terseret dibawah, merekalah pemakan RIBA.​

4. ​BUTA dan BINGUNG, mereka manusia zalim dalam memutus hukum.​

5. ​TULI, BISU dan GILA, mereka orang yg bangga dengan amal perbuatannya.​

6. ​Ada yg lidahnya terjulur dan dikunyahnya sendiri hingga darah nanah mengalir dari mulutnya, merekalah para ALIM ULAMA yg perbuatannya bertolak belakang dengan ucapannya.​

7. ​Ada yg tangan kakinya buntung, mereka orang yg suka menyakiti tetangganya.​

8. ​Ada yg tersalip lempengan besi membara, merekalah orang yg suka melaporkan orang lain pada penguasa atas laporan palsu (kriminalisasi)​

9. ​Ada yg tubuhnya busuk, orang yang tenggelam dengan syahwat mereka.​

10. ​Ada yg berselimut aspal mendidih, merekalah orang sombong nan angkuh.​

(HR. Al Qurthubi dalam Nashaihul 'Ibad Syaikh Nawawi).

***

Mudah-mudahan kita bukan termasuk dalam golongan yg digambarkan baginda nabi SAW itu. Dan ​senantiasa berdoa agar tidak terjebak masuk dalam kubangan dan lingkungan ahli maksiat yg menjerumuskan.​

"Allahumma akrim hajihil ummatul muhammadiyah bi jamiyli 'awaidika fiddarini ikromaa liman ja'altaha min ummatihi sollallahu 'alayhi wassalam"

"Ya Allah, muliakanlah umat Muhammad ini dengan indahnya pahala-Mu, baik di dunia maupun di akhirat, sebagai bentuk kemurahan-Mu bagi orang yang telah Engkau jadikan dia sebagai bagian dari umatnya"
Aamiin Allahumma, Aamiin...
Share:

Rumah: Sekolah Istimewa Anak

Seringkali kita menjumpai sebagian orang tua yang manakala anaknya nakal, mereka langsung melontarkan tuduhan miring kepada pihak sekolahan. Menyalahkan para guru dan mencap mereka sebagai biang kerok kenakalan anaknya. Atau beralasan, “Anak saya nakal karena terpengaruh
Kebiasaan di rumah berperan sentral dalam perkembangan jiwa anak. 
lingkungan pergaulan teman-temannya”.
Yang jadi pertanyaan, mengapa anak tersebut lebih terpengaruh teman daripada terpengaruh orang tuanya?

Bukankah jasa besar orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya, seharusnya membuat anak lebih terpengaruh orang tua? Terlebih, sejatinya anak-anak menghabiskan waktu sejak 0-18 tahun pertamanya lebih banyak dengan orang-orang terdekatnya dalam keluarga, bukan dengan orang lain. Lalu, mengapa mereka yang baru mengenal orang lain (teman-teman sepergaulan), kok jadi lebih banyak dipengaruhi orang lain ini daripada orang-orang dekat yang ada di keluarganya?

Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih berintrospeksi diri, sudahkah rumah menjadi media pendidikan yang baik untuk anak-anak kita?

Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka si anak akan jatuh dalam ‘pendidikan-pendidikan’ di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Sehingga lahirlah anak-anak berstatus broken home.

Ayah dan ibunya tidak mengacuhkannya di rumah, karena kesibukan masing-masing. Si ayah bekerja di kantor, sedangkan si ibu juga sibuk berkarir di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak di rumah pun terbengkalai. Sehingga anak mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. ‘Serigala-serigala’ buas pun sudah siap untuk memangsa sang buah hati.

Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah di rumah. Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup terhadap mereka. Jangan sampai merasa dicuekin oleh orang tuanya.
Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah, sebelum melepas anaknya ke luar. Maka dalam hal ini, suasana rumah yang islami amat membantu keberhasilan orang tua dalam mendidik putra-putrinya.
Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:

1.Di dalamnya anggoa keluarga bekumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

2.Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan. Sehingga membantu mereka untuk menirunya.

3.Penyampaian nasehat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak, akan lebih besar pengaruh positifnya bagi jiwa anak.

4.Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama. Hal ini akan membangkitkan keberanian untuk menumbuhkan budaya saling menasehati.

5.Memanfaatkan berbagai media islami untuk membantu pendidikan anak.
Tulisan ini bukan sama sekali untuk mengatakan tidak perlunya anak masuk ke sekolahan di luar. Namun tulisan ini hanya untuk menggugah kesadaran kita bersama bahwa rumah adalah sekolah pertama anak yang amat menentukan keberhasilan pendidikan mereka selanjutnya. Semoga bisa menginspirasi!

[Buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 61-62) dengan berbagai tambahan. ]

==========
Share:

Doa Pemacu Semangat Agar Hilang Rasa Malas

Kebanyakan orang yang baru pulang mudik mungkin didera kemalasan untuk kembali beraktivitas. Apalagi liburan Lebaran tahun ini cukup panjang. Suasana pulang
Keysha semangat beraktivitas
Semangat Beraktivitas
kampung masih terasa dan ingin berlama-lama di rumah.

Kemalasan bisa membuat kita ketinggalan. Pekerjaan atau aktivitas yang harusnya selesai cepat bisa tertunda.

Akibatnya, banyak peluang yang terlewat begitu saja. Padahal, peluang tersebut sangat bermanfaat jika kita bisa meraihnya.

Rasulullah Muhammad SAW sudah mewanti-wanti umat Islam memanfaatkan dua keadaan yaitu sehat dan waktu luang.

Dua kondisi tersebut dapat menjadi jalan kita untuk berusaha lebih baik lagi. Sehingga manfaat yang kita hasilkan bisa semakin luas.

Sedangkan rasa malas adalah musuh dari dua keadaan tersebut. Peluang bisa lepas begitu kita terlena oleh kemalasan. 

Doa Usir Malas
Untuk mengusir rasa malas, Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang bisa kita terapkan kapan saja.

Allahumma inni a‘udzubika minal kasali wa a‘udzubika minal jubni wa a‘udzubika minal harami wa a’ûdzubika minal bukhli.

Artinya,
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, dan aku aku berlindung kepada-Mu dari pikun, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat pelit."
Share:

Aladdin dan Ancaman Tauhid

Saya tahu, mungkin ada banyak yang tidak setuju dengan tulisan saya ini.

Namun izinkan saya menuliskan apa yang muncul di benak saya setelah nonton cuplikan Aladdin dan membaca resensi filmnya.
Tauhid Kunci Surga

Tenang, ini bukan spoiler. Lagian sudah tahulah ya cerita Aladdin. Dari dulu ya begitu aja, tidak berubah.

Niat saya adalah Minimal tulisan ini bisa menjadi masukan buat para orang tua yang membawa anaknya menonton Aladdin.

Ada baiknya sebelum atau sesudah nonton film ini para orang tua bisa menjelaskan apa yang saya tulis ini kepada anak-anak kita.

Dan menurut saya yang terbaik, bagi anak di bawah umur 13 tahun memang tidak usah menonton film ini ya.

Film ini memang R13+, artinya tuk remaja 13 tahun ke atas, ya tidak pas untuk anak dibawah 13 tahun.

Dan sejatinya ada banyak yang harus diwaspadai dari film tersebut pun untuk anak di atas 13 tahun.

Kalau saya memang tidak mengizinkan anak saya nonton, karena memang belum cukup umur dan memang ingin meminimalisir “kelunturan Tauhid”.

⭕️⭕️⭕️

Anda mungkin bilang, “Ah ini kan cuma film, gak usah lebay dhyk!”.

Well, bukankah memang Ghowzul Fikr atau Perang Pemikiran paling efektif itu adalah lewat media film?

Ketika para penonton terbawa emosi dari film tersebut, maka apa yang dipesankan secara tak sadar dari film tersebut akan masuk ke pikiran bawah sadar para penontonnya.

Dan seringkali menjadi sebuah BELIEF atau keyakinan yang bisa jadi membahayakan.

Dan saya beranikan menulis ini karena bisa jadi yang Luntur adalah urusan TAUHID.

Hmmh.. kalau Tauhid bermasalah, saya khawatir anak-anak kita bisa terjangkiti penyakit syirik. Syirik halus? Well apapun itu namanya.

Makanya buat Anda para orang tua, kalaupun kepo jadi mau nonton filmnya karena tulisan ini bareng anak-anak, ya temani dan beri pemahaman yang benar kepada mereka!

Ini masalah serius brother and sister... urusan Tauhid brooo...

⭕️⭕️⭕️

Beberapa Hal terkait BELIEF / KEYAKINAN / / IMAN yang menurut saya membahayakan, kalau soal Princess Jasmine yang sexy gak usah dibahas lah ya. 😊

1. MENCURI ITU BAIK?

Aladdin adalah seorang pencuri ulung. Dikesankan mencurinya pun tuk menolong kaum dhuafa.

Saya khawatir, anak-anak yang belum punya  pikiran yang kritis ya akan menerima begitu saja “Belief Installation@ yang disematkan oleh film ini.

“Ah ini kan cuma film... plis deh dhyk!”

Ingat guys, dengan media film, game, banyak kejahatan pornografi, pornoaksi yang terjadi, betul?

Bahkan pembunuhan masal di masjid New Zealand beberapa waktu lalu juga terinspirasi dari game kan. Ingat?

Sampai disini paham bahayanya tontonan?

2. MINTA KE JIN
Ini sih yang paling membahayakan menurut saya pribadi.

Gosok lampunya, si Genie alias Jin keluar dari lampu tersebut.

“Your wish is my command”. Permintaan kamu adalah perintah untukku kata si Jin.

Namun sayangnya hanya dibatasi sebanyak 3 permintaan. Apapun itu akan dikabulkan. Nice...

Kenapa nama karakternya harus Genie si Jin sih?

Mungkin kalau namanya pakai nama lain, bisa jadi tidak terlalu ketara pesan tersembunyinya, namun ini jelas dan tegas menggunakan nama JIN.

Dan ini sudah 27 tahun lamanya membrainwash kita-kita sejak pertama kali film ini direlease.

Wajar aja banyak diantara kita yang pelihara tuyul tuk jadi jalan pintas kesuksesan. Hehehe.

Disini letak titik bahaya untuk Tauhid kita dan anak-anak kita. Ngeri...

Cari Lampu Ajaib, bagai cari aja jalan pintas menuju apa yang kamu inginkan!

Lalu Minta ke Jin? nah loh... 😭😭😭

⭕️⭕️⭕️

Saya jadi kepikiran untuk membuat film tandingan nih, siapa tahu ada yang mau kerjasama hehe.

Judulnya filmnya adalah:

“ALLAH+DIN”

Bukan Aladdin, melainkan Allah ditambah Din Al-Islam sebagai jawaban.

Bagaimana kita bisa menjadikan ALLAH ﷻ sebagai satu-satunya tempat meminta tuk apapun hajat kita.

Bukan kepada Jin guys kita meminta.

Ditambah DIN yang berarti AGAMA, yang akan menjadi KARPET AJAIB nya.

Karpet ajaib yang akan membawa kita ke tempat tujuan kita dengan aman dan sejahtera. Ad Din Al Islam.

⭕️⭕️⭕️

Kalau ke Allah gak dibatasi hanya 3 Permintaan, bisa sebanyak yang kamu mau.

Kalau ke Allah, gak usah gosok lampu dulu dan katakan I WISH (Aku Meminta), dalam hati pun bisa.

Kalau ke Allah bisa minta didekatkan ke si dis, karena Allah Maha Pembolak balik hati si doi, setuju? Kalau si Genie gak bisa kalau urusan cinta kan ya.

Kalau ke Allah, apapun itu juga pasti dikabulkan. Percaya?

Masa sama Allah gak percaya?

Nih di Qur’an ada kok jaminannya,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

(ud’uni astajib lakum)
QS Al mukmin 60

Artinya : Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu…

Tinggal berdoa, jadi deh tuh barang. Kun fayakun!

Mau minta apa?

Jodoh?

Rumah?

Mobil?

Apapun itu guys, tinggal minta ke Allah, maka niscaya kukabulkan.

AUTO-KABUL kalau kata anak sekarang sih.

Tapi kok aku sudah sering berdoa, belum terkabul juga?

Panjang nih bahasannya, mau penjelasan praktis dariku ?

Tinggal diamalkan, إِنْ شَاءَ الله joss gandoss!

Kun fayakun!

⭕️⭕️⭕️

Belum terkabul itu salah satunya karena DIN nya belum oke.

Karpet Ajaib nya belum “terbang” sempurna.

Kalau mau terbang sempurna, DIN nya harus OKE dulu. Setuju?

Nih lakukan 3 hal ini dengan SUNGGUH-SUNGGUH ya brothers sisters fillah.

Dalam Surat Al-Furqon 25 : 70:

اِلَّا مَنۡ تَابَ وَ اٰمَنَ وَ عَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰٓئِکَ یُبَدِّلُ اللّٰہُ سَیِّاٰتِہِمۡ حَسَنٰتٍ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.
Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Intinya guys, kalau kamu ingin semua yang buruk-buruk, yang jahat-jahat, yang gak enak, yang nyebelin, yang nyusahin dalam hidup kamu, apakah itu karir pekerjaan, bisnis, jodoh, rumah tangga, apapun itu...

Kamu ingin ganti dengan KEBAIKAN, ganti dengan yang kamu INGINKAN, ganti dengan yang kamu IMPIKAN, ganti dengan yang kamu WISHING FOR, maka kata Allah ﷻ lakukan 3 hal ini:

1. #TAUBAT
Minta Ampun bro sis atas semua dosa, taubat yang serius! Jangan lakukan lagi dosa dan maksiat yang sudah kamu lakukan. Siap?

2. #IMAN
Kuatkan Iman kamu bro sis! Yakin sama Allah. Yakin kalau Allah itu Maha Pengampun. Maha Mendengar dan Melihat. Maha mengabulkan doa-doa kamu.

Kalau kamu gak yakin, ya pantes aja belum terkabul juga permintaan kamu.

3. #AMALSHOLEH
Banyak-banyak deh sedekah, wakaf, infaq! Mulai sekarang perhatikan hak-hal anak yatim. Kasih makan orang miskin.

Bantu urusan agama Allah, maka Allah akan membantumu segala urusanmu. Itu rumusnya guys!

Ketiga hal di atas kami singkat dengan singkatan T-I-AS.

Taubat Iman Amal Sholeh. Siap action?

Dan ayat tersebut ditutup dengan pernyataan kalau Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Kalau dosa sudah diampuni, tak ada lagi penghalang atas doa-doa kita guys.

Kalau Allah sudah sayang sama kita, apa sih yang nggak buat kita?
Share:

Menyiasati Pola Asuh Anak Bagi Ibu Bekerja

Ibu bekerja adalah salah satu jalan yang harus ditempuh karena banyak pertimbangan. Peran ibu dalam keluarga harus tetap bisa berjalan baik meski pekerjaan sudah terjadwal.

Senyuman kecil ananda membutuhkan balasan ibu. Tangan munngilnya mengharap kecupan kita. Bagaimana ibu bekerja menerapkan pola asuh anak dengan baik? 

Sebelum kita masuk dalam tips-tips.  Kita akan mengulas beberapa hal yang hilang dari peran asuh ibu bekerja. 
💟Yang hilang dari ibu bekerja adalah:

1. Attachment (kelengketan). 
Bukan dari segi fisik melainkan dari jiwa ke jiwa. Dengan kurangnya attachment ini, maka rangsangan ke otak juga berkurang.
Jiwa dan raga untuk ananda
Saat discan, anak dengan attachment yang cukup akan lebih berwarna dibandingkan yang kurang.

2. Waktu. 
Waktu terbagi dua yaitu real time dan moment. Moment anak mulai berjalan, mulai bicara. Ada kebutuhan anak yang tidak dapat dipenuhi oleh ibu di sini.

3. Komunikasi. 
Saat anak beranjak dewasa, komunikasi biasanya lebih banyak menggunakan media HP. Tidak ada ekspresi yang bisa ditangkap.

💟Kita harus menyadari tiga poin yang hilang tersebut. Otak akan bekerja sesuai dengan kebiasaan terbentuk. Pada ibu yang bekerja, dalam otaknya mau tidak mau porsi pikirannya akan lebih didominasi oleh masalah pekerjaan. Akhirnya porsi anak juga akan jadi berkurang secara otomatis. Switching harus didorong oleh kesadaran yang besar, dukungan keluarga, dan upaya dari orang yang bersangkutan.

💟Bagaimana menyiasatinya?

1. Attachment. 
Saat pulang, ambillah jarak antara pekerjaan dengan tanggungjawab sebagai ibu/ayah. Lepaskan semua beban pekerjaan di tempat kerja, entah itu tugas yang masih belum terselesaikan atau kemacetan di jalan yang membuat stres. Kita harus selalu ingat bahwa ketika diamanahi seorang anak, maka kita bertanggung jawab penuh pada Allah. Gunakan waktu untuk lebih banyak mengobrol, memeluk, membaca bahasa tubuh, dan mendengarkan perasaannya. Ini bukan masalah quality time versus quantity time. Tidak akan mungkin ada quality time tanpa ada quantity time.

2. Komunikasi. 
Harus pandai membaca bahasa tubuh dan menebak perasaannya agar anak merasakan adanya penerimaan.

💟30 menit sebelum sampai rumah, kita harus fokus. Tinggalkan semua pikiran tentang gadget.

❗❗❗Camkan dalam hati, ‘anakku sudah menunggu di rumah, anakku yang merupakan titipan dari Allah, anakku bisa saja sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya, saya harus memenuhi atau membayar waktu kala tidak berada di sampingnya.’

💟Jika tubuh terlalu lelah sedangkan anak terlalu cranky, beri batasan pada anak, ‘Maaf ya, Nak. Ibu/Ayah capek, kalau kamu begitu terus, ibu/ayah bisa marah, sebentar ya.’ Lalu usahakan untuk cooling down diri sendiri, bisa dengan shalat, mandi, atau hal lainnya. Pikirkan lagi dalam-dalam bahwa hutang waktu pada anak harus dibayar.

💟Jika amat terpaksa menggunakan baby sitter, maka camkan dalam hati bahwa dia hanyalah asisten. Kita juga harus telusuri riwayat baby sitter dengan baik. Bagaimana latar belakang keluarganya? Pola asuh ayah dan ibunya? Karena secara langsung akan memengaruhi caranya merawat anak kita. Jangan lupa pula untuk cek HP-nya untuk mengetahui adanya pornografi atau tidak. Hal yang terakhir adalah poin yang kerap terlewatkan pada kebanyakan keluarga saat ini.

Resume Indonesia Morning Show NET TV
Oleh: Ibu Elly Risman, Psi
Share:

Isi Toples Renungan Skala Prioritas

Seorang Guru, di depan siswanya memulai materi pelajaran dengan menaruh toples yang bening dan besar di atas meja.

Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi.
Skala prioritas
Beliau bertanya: "Sudah penuh?"
Siswa menjawab: "Sudah penuh".

Ooooo tunggu... Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya memasukkannya ke dalam toples tadi.
Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi.
Beliau bertanya: "Sudah penuh?"
Siswapun menjawab: "Sudah penuh".

Kemudian sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkannya ke dalam toples yang sama.
Pasir pun mengisi  sela-sela bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi.
Semua sepakat kalau toples sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.

Tetapi, terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng, dan pasir itu.

Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa: "Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti toples. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya."

Bola tenis adalah hal-hal besar dlm hidup kita, yakni tanggungjawab terhadap Allah, orang tua, istri/suami, anak-anak , serta sandang, pangan, papan, dan kesehatan.

Kelereng adalah hal-hal yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.

Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olahraga, rekreasi, Facebook, WA, dll.

Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng dan bola tennis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sementara Allah dan keluarga terabaikan.
Naudzubillah mindzalik.

Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dari hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yg menjadi pelengkap.

Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap.
Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali".

Lalu sang guru bertanya: "Adakah di antara kalian yang mau bertanya?"
Semua siswa terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.
Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya: "Apa arti secangkir air kopi yang dituangkan tadi...?"

Sang guru menjawab sebagai penutup: "Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dgn bersilaturahim sambil "minum kopi"... Dengan tetangga, teman, kerabat, sahabat yang hebat. Dan jangan lupa sahabat lama".

Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan, tidak saling mencurigai, tidak saling suudzon, tidak saling ghibah apalagi fitnah, tidak saling menyakiti, tidak saling menjatuhkan demi jabatan... tetapi saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa, siapa tahu nanti teman kita itu yang akan mengangkat kita dari neraka dengan izin Allah... Betapa indahnya hidup ini.
Share:

Generasi Bahagia & Generasi Keras

Ada 2 generasi. Yang pertama dibesarkan dengan pola asuh penuh stress dan kekerasan (bully)
Generasi Bahagia Penuh Cinta
Yang kedua dibesarkan dengan pola asuh penuh cinta kasih dan kebahagiaan.
Yang pertama melahirkan generasi stress penuh tekanan, yang siswa sekolahnya menembak gurunya atau gurunya menembak siswanya.
Yang kedua melahirkan sebuah Negara bernama Denmark, yang berdasarkan survey setiap tahun selama lebih dari 40 tahun berturut-turut menjadi negara dengan penduduk paling BAHAGIA sedunia.

Tidak hanya Paling Bahagia, tapi juga paling Makmur dengan pendapatan per kapita paling tinggi di dunia.
Dan tentu saja menjadi paling damai di dunia juga.
*************

Sahabatku,
Ternyata pola asuh yang telah dibangun oleh orang tua mereka dulu itu terus diturunkan dari Generasi ke Generasi.
Generasi yang dibangun dengan pola asuh PENUH KEKERASAN, akan mewariskan pola-pola penuh kekerasan ini pada anak mereka, anak mereka pada anaknya lagi, dan seterusnya.

Begitu juga sebaliknya, Generasi yang dibangun dengan polah asuh penuh cinta dan kasih sayang akan mewariskan hal yang sama.

Nah pertanyaannya bagaimana kita bisa memutus mata rantai kekerasan ini....?
Rahasia ini di ungkap dalam buku yang berjudul "Rahasia Cara Orang Denmark mendidik dan membesarkan anak-anaknya"  yang telah terbukti selama 40 tahun melahirkan generasi bangsa yang hidup paling Bahagia di dunia.
Dan sungguh bersyukur bahwa buku tersebut kini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan sudah bisa didapat di Toko buku Gramedia, Tokopedia dan toko buku on line lainnya.

Siapa yang mau belajar mengubah pola asuh dan memutus matarantai kekerasan ini, maka sesungguhnya dia adalah PAHLAWAN KELUARGA DAN BANGSA.
Semoga kita masih banyak memiliki orang tua yang mau menjadi PAHLAWAN KELUARGA pemutus mata rantai kekerasan pola asuh kita di rumah dan di sekolah.
-Ayah Edy-
Share:

6 Aplikasi Android untuk Edit Video Sekeren Vlogger

Dengan berkembangnya teknologi yang pesat ini, segalanya jadi mudah. Termasuk bikin video yang berkualitas. Siapa bilang edit video se-kece video milik para YouTuber itu susah? Bahkan hanya melalui smartpone Android, kamu bisa bikin video sekeren para vlogger. Tentunya, gak kalah berkualitas.

Berikut ini adalah rangkuman beberapa aplikasi penyunting video yang bisa bikin videomu keren banget. Penasaran ingin tahu apa saja aplikasinya? Simak artikel ini!

1. FilmoraGo


FilmoraGo adalah aplikasi edit video ini sangat praktis dan mudah digunakan. Pengunduh aplikasi ini di Play Store sudah mencapai 10 juta orang, lho. Dengan efek dan transisi yang keren dan dinamis, dijamin bikin videomu cantik. Serta ada pilihan musik yang keren buat backsound videomu.


Tenang aja, tidak akan ada watermark atau batasan durasi video. Cara menggunakan FilmoraGo mudah banget. Tinggal pilih video maupun foto dari galeri, album, Facebook, atau Instagram. Kemudian bisa pilih tema, tambahkan musik, filter, judul dan bahkan transisi yang keren. Mudahkan?

2. Quick


Namanya aja Quick, dijamin cepat bikin videonya dan tidak pakai ribet. Tagline aplikasi ini adalah buat video keren dengan hanya beberapa kali ketuk. Tinggal pilih foto dan klip video, lalu Quik akan memberikan sentuhan ajaib. Dalam hitungan detik, aplikasi ini akan menambahkan transisi dan efek cantik.


Aplikasi yang juga sudah diunduh 10 juta pengguna ini bisa menambahkan teks, musik dan banyak lagi. Wajib dicoba nih!

3. KineMaster


KineMaster adalah editor video yang berfitur lengkap yaitu dapat menambah beberapa video sekaligus, gambar, dan teks, serta bisa memotong klip, menambah beberapa musik, kontrol volume, filter warna, dan lainnya.

4. VivaVideo


Cukup familiar dengan aplikasi yang satu ini, bukan? VivaVideo merupakan salah satu aplikasi edit video favorit yang memiliki fitur yang cukup lengkap. Di Play Store, aplikasi ini sudah diunduh oleh 100 juta pengguna, lho. Yang menarik dari VivaVideo ini, semua template, efek, judul, dan transisi bisa diunduh secara gratis.


Sayangnya, setiap video yang disunting dengan menggunakan VivaVideo akan ada watermark dan durasi video yang terbatas, yaitu hanya 10 detik saja. Untuk menghilangkan watermark dan batasan durasi itu caranya dengan membeli versi Pro.

5. Adobe Premiere Clip

Aplikasi yang satu ini tentu tidak asing lagi, kan? Meski tidak secanggih versi desktop, aplikasi Adobe Premiere Clip ini tetap memberikan kemampuan berkreatifitas dengan cara yang mudah. Adobe Premiere Clip memiliki fitur komplit, termasuk bikin video secara otomatis dari gabungan gambar dan video.


Selain itu, juga bisa sunting video secara manual dengan menambahkan berbagai efek, transisi, dan musik. Sudah punya akun Adobe Creative Cloud? Adobe Premiere Clip dapat melakukan sinkronisasi dengan Adobe Premiere Pro menggunakan akun Adobe Creative Cloud. Jadi lebih praktis, deh.

6. Videoshop

Aplikasi sunting video yang terakhir ini nggak kalah lengkap fiturnya. Bahkan, bisa tambah lagu dari memorimu. Selain menambah lagu, Videoshop juga memiliki fitur pemotong video dan efek suara. Dalam fitur efek suara tersebut, kamu bisa menambahkan suara tertawa, suara binatang bahkan efek suara kentut. Unik sekali, bukan?


Fitur yang tidak boleh dilewatkan dalam aplikasi yang sudah diunduh 10 juta pengguna ini adalah slow motion dan fast motion. Pasti bikin videomu tambah kece!

Baik, itu dia ke-6 aplikasi sunting video yang bisa bikin videomu sekeren para vlogger. Yuk, langsung torehkan kreativitasmu melalui aplikasi-aplikasi keren di atas. Pendapatan jadi vlogger juga lumayan, lho!
Share:

Anak-anak yang Dijamin Oleh Allah SWT

Pejuang Subuh Sejak Dini

Anak-Anak Subuh... 

Ada Anak Lelaki yang hampir setiap Subuh ikut berjamaah, ia berdiri dan duduk persis di sebelah ayahnya. Meniru semua gerakan ayahnya, si ayah Salat Sunnah ia ikut, begitu seterusnya. 

Ada anak usia sekitar tiga tahun yang kadang-kadang ikut ayahnya ke masjid. Wajahnya terlihat baru bangun tidur, masih pakai diapers pula. Berdiri persis di samping ayahnya mengikuti ayahnya salat sunnah sebelum Subuh. Sampai gerakan sujud nggak bangun lagi, hingga ayahnya selesai salat fardu ternyata ia tertidur sambil sujud. 

Ada lagi anak yang usianya juga sekitar tiga tahun. Juga berdiri di sebelah ayahnya, namun pada saat salat Subuh tak berapa lama setelah takbir dan imam membaca alfatihah, ia ngeloyor meninggalkan barisan. Hingga salat Subuh usai, biasanya ia duduk di pojok masjid menunggu ayahnya selesai. 

Ada pula ayah yang membawa anaknya ke masjid dalam kondisi masih terlelap. Digendong turun dari mobilnya, sampai ke masjid dan bahkan hingga jamaah bubar si anak tetap terlelap. Meski sang ayah sudah mencoba membangunkannya. Maklum, masih usia dua tahun. 

Yang menarik ada anak yang rajin ke masjid padahal tidak ada ayahnya. Entah bagaimana ibunya mendidik, menarik pastinya. Meski tanpa ayah yang sudah lama meninggal, ia tetap rajin ke masjid. 

Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di Subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini. 

Selama masih ada orang-tua, terutama para ayah yang berupaya mengajak serta anak-anaknya salat Subuh berjamaah di masjid, maka akan  kokohlah barisan pejuang agama allah. Negarapun akan  selamat.

Insya' allah . . .

Khawatirlah. . .
Bila sudah tidak ada kalangan muda dalam barisan jama'ah Subuh di masjid-masjid, bagaimana nasib ummat ini di masa datang?

Ada riwayat yang terbaca, salah satu rahasia kehebatan para pejuang aceh, yang membuat penjajah kesulitan mengalahkan rakyat aceh adalah, teuku umar dan para panglima memilih pasukannya dari masjid-masjid di waktu Subuh.

Mereka yang bangun Subuh adalah para pejuang. Orang-orang yang bersungguh-sungguh, yang telah bisa mengalahkan rasa lelah dan malasnya, tak turuti kantuknya, menguasai egonya.

Kagum kepada para orang tua yang tak lelah mengenalkan, mengajarkan dan memberi contoh kepada anak-anaknya untuk salat berjamaah Subuh di masjid. Kelak anak-anak ini menjadi pribadi yang tangguh jiwa dan raganya.

Tak perlu khawatir, bila Subuh bisa dikuasai, kelak masa depan bisa di genggam....


Share:

Kekeliruan Jangan Katakan 'Jangan'

Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!


Kekeliruan Buku Pendidikan:
(1). Mengharomkan kata 'jangan'
Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.

Salah seorang pendidik pernah berkata,

”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu

🔴dunia psikologi dan

🔵dunia pendidikan



Karena itulah, berangkat dari hal ini.

Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku

👉pendidikan,

👉seminar,

👉teori pendidikan, dll.

yg kadang sudah menjangkiti bbrp para

👳pendidik muslim,

👪para ayah dan ibu.



Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.



Mari kita lihat, beberapa perkataan2

‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,



1. Diantaranya Ayah Edy,

dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,



“..gunakan kata-kata preventif, seperti

🔄hati-hati,

🚫berhenti,

❌diam di tempat, atau

⛔stop.

Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”



2. Pada media online, detik.com, 

pernah menulis judul artikel :



‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,



“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”



3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,

“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,



“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,

maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan 

yang dapat diterima anak…”



Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.



Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?



Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?



Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.



Allohu Akbar, banyak sekali!



Mau dikemanakan kebenaran ini ?

Apa mau dibuang ?

Dan diadopsi dari teori dhoif ?



Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?



Surah Luqman ayat 12 sampai 19.

👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,

👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)



Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?



Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,



“Wahai anakku,

🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.



Inilah bentuk tindakan preventif 

yang divaliditas dalam al-Qur’an.



Sampai pada ayat 19,

ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu

🙅“laa tusyrik billah”,

🙅“fa laa tuthi’humaa”,

🙅“Wa laa tusho’ir

khoddaka linnaasi”, dan

🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.



Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.



Pun demikian dengan “Laa” yang lain,

tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.



Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan 

“diam/hati-hati”?

👉Karena ini bimbingan Allah.

Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak,  sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.



Dan perkataan 'jangan' juga

➕positif,

➖tidak negatif.



Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.



Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?



Tidak ada!



Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya. 



Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.



Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.

Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.

Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.


Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.



Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. 



Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,



Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata



“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.



Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi



“mereka memang begitu, yang  penting saya tidak melakukannya”.



Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.



Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.



Simpan saja AL-Qur’an di lemari  paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.



Astagfirulloh…

Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..



Aamiin……



Mari kita renungkan bersama.





(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan  Budi Azhari)Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!



Kekeliruan Buku Pendidikan:



(1). Mengharomkan kata 'jangan'


Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.




Salah seorang pendidik pernah berkata,

”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu

🔴dunia psikologi dan

🔵dunia pendidikan



Karena itulah, berangkat dari hal ini.

Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku

👉pendidikan,

👉seminar,

👉teori pendidikan, dll.

yg kadang sudah menjangkiti bbrp para

👳pendidik muslim,

👪para ayah dan ibu.



Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.



Mari kita lihat, beberapa perkataan2

‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,



1. Diantaranya Ayah Edy,

dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,



“..gunakan kata-kata preventif, seperti

🔄hati-hati,

🚫berhenti,

❌diam di tempat, atau

⛔stop.

Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”



2. Pada media online, detik.com, 

pernah menulis judul artikel :



‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,



“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”



3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,

“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,



“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,

maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan 

yang dapat diterima anak…”



Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.



Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?



Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?



Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.



Allohu Akbar, banyak sekali!



Mau dikemanakan kebenaran ini ?

Apa mau dibuang ?

Dan diadopsi dari teori dhoif ?



Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?



Surah Luqman ayat 12 sampai 19.

👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,

👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)



Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?



Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,



“Wahai anakku,

🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.



Inilah bentuk tindakan preventif 

yang divaliditas dalam al-Qur’an.



Sampai pada ayat 19,

ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu

🙅“laa tusyrik billah”,

🙅“fa laa tuthi’humaa”,

🙅“Wa laa tusho’ir

khoddaka linnaasi”, dan

🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.



Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.



Pun demikian dengan “Laa” yang lain,

tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.



Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan 

“diam/hati-hati”?

👉Karena ini bimbingan Allah.

Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak,  sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.



Dan perkataan 'jangan' juga

➕positif,

➖tidak negatif.



Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.



Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?



Tidak ada!



Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya. 



Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.



Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.

Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.

Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.


Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.



Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. 



Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,



Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata



“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.



Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi



“mereka memang begitu, yang  penting saya tidak melakukannya”.



Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.



Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.



Simpan saja AL-Qur’an di lemari  paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.



Astagfirulloh…

Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..



Aamiin……



Mari kita renungkan bersama.





(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan  Budi Azhari)
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me