Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

Agar Ucapanmu Tak Melalaikanmu

Dalam banyak hadits ini, Nabi menganjurkan kepada kita untuk mengucapkan ucapan yang baik atau diam. Banyak sekali dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan sunnah yang memerintahkan kita untuk menjaga lisan & tidak ada asal ngegas tanpa memikirkan secara matang dampaknya.
Lalai dalam ucapan pun sangat berbahaya

Sungguh betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan yang tak bertulang sehingga menjadi faktor utama dicampakkannya ke api Neraka !!

Dan perlu diketahui bahwa seorang sebelum melintarkan sebuah ucapan,  maka hendaknya mengecek empat aspek:

1. Tujuan dan Niat.
Baiknya niat menjadikan kata yang terucap dari lisan terasa sejuk dan mendatangkan kedamaian bagi orang yang mendengarnya. Apalah artinya kata-kata indah jika ternyata tersimpan dalam hatinya bisa dan racun yang mematikan.

2. Kanduangan makna ucapan.
Oleh karenanya seorang harus selektif dalam bertutur kata karena setiap huruf yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, yang berdampak tentang nasibnya kelak di akherat.

3. Kelembutan kata.
Tutur kata yang lembut dan santun terbukti ampuh memikat hati dan meruntuhkan amarah yang berkobar-kobar dan berubah menjadi keakraban dan kasih sayang.

4. Efek ucapan.
Bisa jadi ucapan kita benar, dikemas secara santun, dilandasi dengan niat yang baik, namun ternyata berdampak buruk akibatnya. Oleh karenanya, pertimbangkan baik-baik ucapan sebelum disampaikan agar tidak berujung pada malapetaka dalam hidup dan melukai perasaan saudara anda. (Lihat buku “Cerdas Berkomunikasi Ala Nabi “ hlm. 11-43 oleh Dr. Muhammad Arifin Badri, cet Pustaka Imam Syafi’i).

Point keempat ini perlu diperhatikan baik-baik, terutama bagi para dai dan penuntut ilmu agar kita tidak menghancurkan bangunan yang terbangun. Imam Asy-Syathibi berkata:
"Memikirkan buah suatu perbuatan adalah sangat penting dalam pandangan syari'at, baik perbuatan tersebut benar atau salah, sebab seorang alim tidak bisa menghukumi secara benar tentang suatu perbuatan kecuali setelah melihat buah yang dihasilkan dari perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan". (Al Muwafaqot 5/177)
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhali hafizahullah berkata:

"Di antara fiqh menghadapai zaman fitnah:
Sesungguhnya keyakinan harus dibangun di atas ilmu, sedangkan ucapan dan penjelasan (kepada ummat) harus dibangun di atas kemaslahatan.

Maka seorang muslim harus meyakini apa yang ditunjukkan oleh dalil dan apa yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun ucapan dan penjelasan kepada ummat maka harus didasarkan pada kemaslahatan.

Maka tidak disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengucapakan setiap apa yang dia ilmui, akan tetapi dia harus menimbang, jika dengan mengucapkannya ada kemaslahatan maka dia mengucapkannya. Namun jika menurut maslahat, perkara tersebut harus diakhirkan maka diapun harus mengakhirkannya dan menunda untuk mengatakannya".
Sumber: (Fiqhul al-Fitan, Syeikh Dr.  Sulaiman Ar-Ruhaily, hlm.  40-41)
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me