Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Menanamkan Adab pada Anak (1)

Apa yang ada dalam benak kita ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan dan santun perilakunya, hormat dan patuh kepada orangtuanya, pandangannya tidak liar, wajahnya berseri-seri? Tentu, anak seperti ini membuat senang siapa saja yang melihat dan berjumpa dengannya. Pasti kita yakin bahwa ia adalah anak yang terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan adab yang baik serta akhlak yang mulia. Pastinya, setiap orangtua menginginkan anak yang demikian; anak-anak yang menjadi penyejuk hati orang-orang dekatnya, terutama orang tuanya.

Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Oleh karena itu, anak-anak harus mendapat perhatian saksama agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas prima. Mereka harus menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tangguh, yang selalu menjaga sikap dan perilakunya dengan baik. 

Dengan begitu mereka siap terjun dalam kancah kehidupan dengan membawa Islam dalam setiap langkah-langkahnya. Dengan itu pula mereka mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi, baik persoalan pribadinya maupun persoalan umat secara keseluruhan.

Kewajiban Menanamkan Adab

Banyak ulama telah membahas makna adab dalam pandangan Islam. Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah).

KH Asy’ari membuka karya tulisnya, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, dengan mengutip sabda Rasulullah, ”Hak seorang anak atas orangtuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik.”

Adab: Bagian dari Hukum Syariah

Penanaman adab dan sopan-santun pada anak merupakan hal yang sangat penting dalam Islam karena merupakan bagian dari hukum syara. Adab dan sopan-santun merupakan bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan Rasulullah. Setiap muslim wajib menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum muslim memiliki akhlak tercela. Abdullah bin Umar r.a. menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Islam memerintahkan orangtua untuk menanamkan adab dan sopan santun kepada anak sejak dini, sebagaimana sabda Rasulullah, “Jika anak telah mencapai usia enam tahun, hendaklah ia diajari adab dan sopan-santun.” (HR Ibnu Hibban).

Beliau pun bersabda:

 يَا غُلاَمُ سَمِّ الله، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang bersama anaknya. Rasulullah kemudian bertanya kepada anak tersebut, “Siapa ini?” Lalu ia menjawab, “Ayahku.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu jangan berjalan di depan dia, jangan melakukan perbuatan yang dapat membuat dia mengumpat kamu karena marah, jangan duduk sebelum ia duduk, dan jangan memanggil dengan menggunakan namanya.”

(bersambung: Cara Agar Anak Beradab)
Share:

Kekerasan Verbal Dibalik Kata 'Memotivasi'



Mendidik anak bukan hal yang mudah. Salah langkah bisa mengakibatkan salah asuhan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui apa yang semestinya dilakukan dan apa yang semestinya dihindari. Ditambah pula faktor-faktor yang akan mendukung pendidikan yang sedang kita lakukan.
Abu Umar Yusuf Ibnu ‘Abdil Barr al-Qurthubi rahimahullah dalam kitabnya Jami’ Bayanil ‘Ilmi fa Fadhlihi mengatakan, “Keadaan seorang anak di hadapan pendidiknya kala mendidiknya, bagaikan seorang pasien yang tergambar jelas di hadapan seorang dokter ketika mengobatinya. Dia mengawasi keadaan, kemampuan, dan tabiat si anak, sehingga pendidikan itu akan membuahkan hasil yang paling sempurna dan optimal.”
Kekerasan Verbal dalam Mendidik Anak

Ucapan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah ini merupakan fondasi bagi pergaulan orang tua terhadap anak-anak. Cara bertindak terhadap anak kecil juga bervariasi antara satu individu dan yang lain, antara satu anak dan anak yang lain, antara satu waktu dan waktu yang lain. Di sini kita akan memaparkan beberapa cara bertindak yang salah terhadap anak kecil, agar kita dapat menghindarinya semampu kita.

KEKERASAN NO KETEGASAN YES !

Para ahli pendidikan dan pakar kejiwaan memandang cara ini sebagai cara yang paling berbahaya bagi anak, apabila terlalu sering dilakukan. Memang ketegasan dibutuhkan dalam momen-momen tertentu, namun kekerasan justru hanya akan menambah ruwet masalah dan memuncak. Tatkala sang pendidik emosi hingga kehilangan kontrol, melupakan kesabaran dan kelapangan hati, dia akan menyerang si anak dengan cercaan dan mencaci-makinya dengan kata-kata yang amat jelek dan kasar.

Salah satu bentuk kekerasan yang sering dilakukan para orang tua dan pendidik adalah mengeluarkan kata. kasar dan ungkapan-ungkapan buruk yang ditujukan si anak. Muhammad Rasyid Dimas di dalam bukunya Siyasah Tarbawiyyah Khathi'ah mengutip beberapa contoh kalimat yang kerapkali diucapkan oleh para orang tua atau pendidik -- umumnya ketika sedang marah - dan disinyalir dapat melukai jiwa anak. Yakni ungkapan-ungkapan seperti, ”G*bl*k! " "Kamu t*l*l! ”, "Diam, dungu! ", "Kemarilah, hai anak nakal! ". "Kamu seperti keledai, tidak paham juga!”, "Aku tidak merasa bangga kamu jadi anakku! ", ”Kamu orang paling bodoh pernah saya lihat!", ”Mengapa kamu tidak Seperti adikmu! ", dan lain sebagainya.

Kalimat-kalimat semacam itu, menurut Rasyid Dimas, sangat berbahaya bagi jiwa anak, dan hendaknya dihindari oleh para pendidik. Kalimat-kalimat seperti itu jika terlalu sering diucapkan akan menjadikan anak merasa diintimidasi, dizhalimi dan diitindas, sehingga menyebabkan luka di dalam jiwanya. Luka tersebut tidak akan hilang dalam waktu yang cepat, melainkan akan menempel kuat dan membuat parit yang dalam pada perasaan dan jiwanya. Dan itu akan menghambat proses perkembangan jiwa si anak dan membuatnya menjadi orang yang introvert (tertutup), murung, merasa tidak aman dan membenci diri sendiri ; serta akan menumbuhkan sikap aproiri, pembangkang, frustasi, pasif dan permusuhan terhadap orang lain. Yang lebih parah lagi, hal itu akan rnemangkas rasa percaya diri dan motivasi anak, sehingga anak menjadi mudah putus asa, minder dan tidak memiliki semangat untuk maju.

Astaghfirullahal 'azhim. Dengan dalih mendidik, orang tua dan pendidik ternyata telah melakukan sebuah kesalahan besar terhadap anaknya. Mereka begitu enteng berkata kasar, membentak, marah-marah dan melayangkan tamparan atau _ pukulan keras penuh emosi kepada si anak, yang secara tidak disadari telah melukai jiwa anak dan membabat proses pertumbuhan elemen-elemen kejiwaan penting dari dalam dirinya, seperti rasa percaya diri, kreativitas, juga semangat inovasi dan kreasi. Inilah sebuah pembantaian motivasi, sebuah penindasan rasa percaya diri, sebuah penghancuran semangat berkreasi dan kebebasan berekspresi anak yang sungguh sangat kejam.  Dan mungkin juga,  inilah sebuah bentuk 'terorisme'  dalam pendidikan anak yang menjadikan anak tertindas secara kejiwaan.

Share:

Karakteristik Kepribadian Anak (1)


Salah satu penyebab utama kegagalan pendidikan anak adalah minimnya pengetahuan orang tua atau pendidik tentang karakteristik kejiwaan anak. Ibarat seorang dokter, orang tua dan pendidik kurang mampu mendiagnosis penyakit pasiennya, sehingga proses pengobatan yang ia lakukan menjadi tidak terarah dan asal-asalan.  Pendidikan yang tidak terarah sangat membahayakan perkembangan jiwa anak. Anak akan tumbuh dalam kondisi kejiwaan yang tidak utuh, seperti gampang putus asa, minder, penakut, pemarah dan lain sebagainya. Untuk itu, pengertahuan dan pemahaman tentang jiwa anak-anak (ma’rifatul aulad) menjadi modal dasar bagi kesuksesan mendidik anak. Ma’rifatul aulad menjadi landasan gerak bagi proses pendidikan anak.

SIFAT-SIFAT KHAS ANAK

Syaikh Muhammad Sa’id Mursi di dalam bukunya fan tarbiyatil Aulad fil Islam menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak. Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi, gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu Bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitive (peka).
Pentingnya memahami karakter anak
Diantara semua sifat –sifat khas yang dimiliki oleh anak-anak di atas  dan paling menonjol adalah,
  • BANYAK BERGERAK, GEMAR BERMAIN DAN BERSUKA

Inilah sifat motorik anak yang khas. Anak – terutama di bawah usia 8 tahun – selalu banyak bergerak, tidak bisa diam untuk waktu yang lama, gemar bermain dan selalu bersuka ria. Ini adalah sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka akan dipastika ia memiliki ‘kelainan’ secara kejiwaan. Orang tua dan pendidik yang paham dengan sifat anak ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak, dengan tetap memberikan kontrol yang  intens. Namun orang tua dan pendidik yang tidak memahami sifat anak ini, akan cenderung emosional dan suka memarahi anak. Dan ini merupakan sebuah bentuk ‘penindasan’ naluri fitriah anak. Banyak bergerak akan menambah kecerdasan dan pengalaman anak setelah dewasa.
  •  SELALU INGIN MENIRU

Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya dan gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Maka, salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik (syakhshiyyatul murabbi). Orang tua dan guru tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu, wahai para orang tua dan guru, jika Engkau ingin memperbaiki akhlak anak, maka ibda’ min nafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Perbaikilah dulu akhlak Engkau, niscaya akhlak anak pun akan ikut baik. Sebuah Syair yang cukup menggelitik mengatakan:

"Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah dari penyimpangan
JIka itu engkau lakukan maka engkau termasuk orang yang bijak
Kala itu nasihatmu akan diterima
Ilmumu  akan diikuti dan pengajaranmu akan berguna."

  • MEMILIKI  DAYA INGAT YANG SANGAT KUAT


Memori anak kecil itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam permasalahan. Oleh sebab itulah, anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Inilah yang dimaksud dengan daya ingat yang sangat kuat. Umur anak-anak merupakan ‘umur emas’ (‘umrun dzahabiyyun), yang ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang amat kuat. Maka, kita bisa menyalurkan daya ingat anak yang kuat itu untuk banyak menghafal Alquran, hadits, doa-doa dan dzikir. Apa yang sudah tersimpan dalam ingatan anak akan sulit terlupakan. Sehingga, dalam catatan sejarah, kita banyak mendapatkan para ulama yang telah hafal Alquran sebelum ia berumur 10 tahun. Orang tua dan guru yang cerdas akan berusaha memenuhi memori anaknya sejak kecil dengan hafalan Alquran, hadist, doa-doa. Itu akan berpengaruh sangat positif bagi kepribadian anak ketika menginjak dewasa. Memenuhi anak dengan sinetron-sinetron cinta, lagu-lagu dan tayangan-tanyangan televise yang tidak mendidik serta hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebuah kebodohan nyata yang banyak dilakukan oleh para orang tua dan guru. Mereka telah melakukan sebuah ‘pembunuhan moral’ dan ‘perusakan kepribadian’ satu generasi. Ini merupakan sebuah kedzaliman yang besar.

  •  SENANG DIMOTIVASI ATAU DIPUJI


Inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua dan guru. Yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbarui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi secara proporsional.
Salah satu hal yang efektif dan perlu diperhatikan orang tua dan guru dalam memberikan motivasi kepada anak adalah mengaitkan motivasi itu dengan pahala akhirat. Misalnya kita mengatakan kepada si anak, “Allah akan meridhai orang yang gemar membaca Alquran, pahala setiap hurufnya berlipat menjadi 10 kebaikan”, “Shalat yang kita lakukan di masjid pahalanya adalah 27 kali lipat dari shalat yang dilakukan sendirian di rumah”. Atau bisa juga kita kaitkan dengan apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak pergi berolahraga, kita katakan kepadanya, “Kamu akan menjadi orang yang kuat seperti Umar bin Khathab, sehingga orang-orang kafir takut kepadanya.” Motivasi atau dorongan yang dikaitkan dengan masalah agama dan akhirat lebih kuat dan mengakar dan mengendap pada jiwa anak. Dan hal tersebut sangat efektif untuk menumbuhkan kesadaran anak untuk melakukan kebaikan.


Bersambung…


Share:

Bangun Pagi Kunci Pertama Kesuksesan Anak

Perbaikan kualitas generasi selayaknya dimulai dengan kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab generasi unggul bermula dari pagi yg masygul (sibuk).

Jika anak terbiasa bangun pagi sedari dini, itu ciri anak berprestasi. Tak mudah dipengaruhi berbagai pergaulan yg tidak islami.
Bangun Pagi Kunci Pertama Kesuksesan Anak

8 cara membangunkan anak setiap pagi:

  1. Usap dadanya
  2. Kecup keningnya
  3. Bacakan doa bangun tidur ditelinganya
  4. Dudukan pelan-pelan
  5. Gosok punggungnya
  6. Ulangi baca doa
  7. Dalam kondisi duduk ulangi baca doa
  8. Setelah buka mata senyumlah dihadapannya


So, tunggu apalagi. Jangan cuma bisa marah dan mencaci. Segera bertindak untuk buah hati. Fokuslah kepada bangun pagi.

Semangat beraksi ayah bunda, Barokallohu fiikum.
Share:

Penting: Mencetak Anak yang Adibah

Kalimat-kalimat "Kasian tu anaknya sekolah di swasta" atau "Ah sekolahnya ngga favorit" sudah lama kami abaikan dan tebal kuping dengan kalimat tersebut.

Bagi kami yang notebene adalah seorang guru. Sejak anak masih kecil-kecil sudah memiliki prinsip bahwa pendidikan tidak bergantung pada dimana dia disekolahkan. Tapi pendidikan utama adalah kembali ke rumah dan kami sebagai orang tuanya lah yang bertanggung-jawab mendidik dan mengajar mereka. Sebab kelak kamilah
yang akan ditanya di akhirat tentang anak-anak kami. Bukan gurunya, kepala sekolah atau wali kelasnya.

Anak-anak kebetulan telah kami uji coba sekolah di sekolah negeri, setengah negeri dan sekolah swasta. Masing-masing sekolah selalu ada plus dan minusnya alias tidak ada sekolah yang sempurna.

Ya ujung-ujungnya konsep mendidik mereka kembali ke tangan kita sebagai orang tua. Apa yang mereka dapat di sekolah jika positif ya alhamdulillah. Jika negatif maka harus kita perbaiki di rumah dan menguatkan mereka.

Sebisa mungkin sebaiknya kita hindari intervensi pola didik gurunya kecuali dalam hal-hal yang membahayakan misalnya kasus bullying yang berulang di sekolah. Ketika anak masuk sekolah maka percayakanlah mereka pada institusi sekolah yang sudah kita teliti baik-baik.

Pendidikan anak sebaiknya adalah mengedepankan masalah akhlak. Zaman sekarang anak yang berakhlak lambat laun mulai berkurang jumlahnya. Sudah banyak contoh anak yang pintar & sekolah di sekolah favorit tapi gagal dalam hal akhlak atau adab.

"Mencetak anak pintar itu penting tapi mencetak anak yang berakhlak jauh lebih penting."

Sebab saat kita tua, kita tak memerlukan anak-anak yang nilainya excellent. Kita tak memerlukan anak-anak yang mendapat penghargaan ini dan itu. Kita tak memerlukan anak-anak yang hartanya melimpah.

Tapi kita perlu anak yang bisa merawat kita kala sakit. Memandikan jenazah kita. Menyolatkan kita. Menggotong dan mengantarkan kita ke liang lahat. Mendoakan dan menjaga keluarga sepeninggal kita.

Kita memerlukan anak-anak yang peduli dan berakhlak pada orang tua dan keluarganya.

Jangan terlalu sibuk dengan sekolah favorit ya pak bu. Pikirkan bagaimana nanti anak kita setelah kita tiada. Karena salah satu amalan yang tetap mengalir, adalah doan anak saleh dan salehah.
Share:

Rumah: Sekolah Istimewa Anak

Seringkali kita menjumpai sebagian orang tua yang manakala anaknya nakal, mereka langsung melontarkan tuduhan miring kepada pihak sekolahan. Menyalahkan para guru dan mencap mereka sebagai biang kerok kenakalan anaknya. Atau beralasan, “Anak saya nakal karena terpengaruh
Kebiasaan di rumah berperan sentral dalam perkembangan jiwa anak. 
lingkungan pergaulan teman-temannya”.
Yang jadi pertanyaan, mengapa anak tersebut lebih terpengaruh teman daripada terpengaruh orang tuanya?

Bukankah jasa besar orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya, seharusnya membuat anak lebih terpengaruh orang tua? Terlebih, sejatinya anak-anak menghabiskan waktu sejak 0-18 tahun pertamanya lebih banyak dengan orang-orang terdekatnya dalam keluarga, bukan dengan orang lain. Lalu, mengapa mereka yang baru mengenal orang lain (teman-teman sepergaulan), kok jadi lebih banyak dipengaruhi orang lain ini daripada orang-orang dekat yang ada di keluarganya?

Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih berintrospeksi diri, sudahkah rumah menjadi media pendidikan yang baik untuk anak-anak kita?

Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka si anak akan jatuh dalam ‘pendidikan-pendidikan’ di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Sehingga lahirlah anak-anak berstatus broken home.

Ayah dan ibunya tidak mengacuhkannya di rumah, karena kesibukan masing-masing. Si ayah bekerja di kantor, sedangkan si ibu juga sibuk berkarir di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak di rumah pun terbengkalai. Sehingga anak mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. ‘Serigala-serigala’ buas pun sudah siap untuk memangsa sang buah hati.

Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah di rumah. Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup terhadap mereka. Jangan sampai merasa dicuekin oleh orang tuanya.
Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah, sebelum melepas anaknya ke luar. Maka dalam hal ini, suasana rumah yang islami amat membantu keberhasilan orang tua dalam mendidik putra-putrinya.
Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:

1.Di dalamnya anggoa keluarga bekumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

2.Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan. Sehingga membantu mereka untuk menirunya.

3.Penyampaian nasehat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak, akan lebih besar pengaruh positifnya bagi jiwa anak.

4.Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama. Hal ini akan membangkitkan keberanian untuk menumbuhkan budaya saling menasehati.

5.Memanfaatkan berbagai media islami untuk membantu pendidikan anak.
Tulisan ini bukan sama sekali untuk mengatakan tidak perlunya anak masuk ke sekolahan di luar. Namun tulisan ini hanya untuk menggugah kesadaran kita bersama bahwa rumah adalah sekolah pertama anak yang amat menentukan keberhasilan pendidikan mereka selanjutnya. Semoga bisa menginspirasi!

[Buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 61-62) dengan berbagai tambahan. ]

==========
Share:

Menyiasati Pola Asuh Anak Bagi Ibu Bekerja

Ibu bekerja adalah salah satu jalan yang harus ditempuh karena banyak pertimbangan. Peran ibu dalam keluarga harus tetap bisa berjalan baik meski pekerjaan sudah terjadwal.

Senyuman kecil ananda membutuhkan balasan ibu. Tangan munngilnya mengharap kecupan kita. Bagaimana ibu bekerja menerapkan pola asuh anak dengan baik? 

Sebelum kita masuk dalam tips-tips.  Kita akan mengulas beberapa hal yang hilang dari peran asuh ibu bekerja. 
💟Yang hilang dari ibu bekerja adalah:

1. Attachment (kelengketan). 
Bukan dari segi fisik melainkan dari jiwa ke jiwa. Dengan kurangnya attachment ini, maka rangsangan ke otak juga berkurang.
Jiwa dan raga untuk ananda
Saat discan, anak dengan attachment yang cukup akan lebih berwarna dibandingkan yang kurang.

2. Waktu. 
Waktu terbagi dua yaitu real time dan moment. Moment anak mulai berjalan, mulai bicara. Ada kebutuhan anak yang tidak dapat dipenuhi oleh ibu di sini.

3. Komunikasi. 
Saat anak beranjak dewasa, komunikasi biasanya lebih banyak menggunakan media HP. Tidak ada ekspresi yang bisa ditangkap.

💟Kita harus menyadari tiga poin yang hilang tersebut. Otak akan bekerja sesuai dengan kebiasaan terbentuk. Pada ibu yang bekerja, dalam otaknya mau tidak mau porsi pikirannya akan lebih didominasi oleh masalah pekerjaan. Akhirnya porsi anak juga akan jadi berkurang secara otomatis. Switching harus didorong oleh kesadaran yang besar, dukungan keluarga, dan upaya dari orang yang bersangkutan.

💟Bagaimana menyiasatinya?

1. Attachment. 
Saat pulang, ambillah jarak antara pekerjaan dengan tanggungjawab sebagai ibu/ayah. Lepaskan semua beban pekerjaan di tempat kerja, entah itu tugas yang masih belum terselesaikan atau kemacetan di jalan yang membuat stres. Kita harus selalu ingat bahwa ketika diamanahi seorang anak, maka kita bertanggung jawab penuh pada Allah. Gunakan waktu untuk lebih banyak mengobrol, memeluk, membaca bahasa tubuh, dan mendengarkan perasaannya. Ini bukan masalah quality time versus quantity time. Tidak akan mungkin ada quality time tanpa ada quantity time.

2. Komunikasi. 
Harus pandai membaca bahasa tubuh dan menebak perasaannya agar anak merasakan adanya penerimaan.

💟30 menit sebelum sampai rumah, kita harus fokus. Tinggalkan semua pikiran tentang gadget.

❗❗❗Camkan dalam hati, ‘anakku sudah menunggu di rumah, anakku yang merupakan titipan dari Allah, anakku bisa saja sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya, saya harus memenuhi atau membayar waktu kala tidak berada di sampingnya.’

💟Jika tubuh terlalu lelah sedangkan anak terlalu cranky, beri batasan pada anak, ‘Maaf ya, Nak. Ibu/Ayah capek, kalau kamu begitu terus, ibu/ayah bisa marah, sebentar ya.’ Lalu usahakan untuk cooling down diri sendiri, bisa dengan shalat, mandi, atau hal lainnya. Pikirkan lagi dalam-dalam bahwa hutang waktu pada anak harus dibayar.

💟Jika amat terpaksa menggunakan baby sitter, maka camkan dalam hati bahwa dia hanyalah asisten. Kita juga harus telusuri riwayat baby sitter dengan baik. Bagaimana latar belakang keluarganya? Pola asuh ayah dan ibunya? Karena secara langsung akan memengaruhi caranya merawat anak kita. Jangan lupa pula untuk cek HP-nya untuk mengetahui adanya pornografi atau tidak. Hal yang terakhir adalah poin yang kerap terlewatkan pada kebanyakan keluarga saat ini.

Resume Indonesia Morning Show NET TV
Oleh: Ibu Elly Risman, Psi
Share:

Isi Toples Renungan Skala Prioritas

Seorang Guru, di depan siswanya memulai materi pelajaran dengan menaruh toples yang bening dan besar di atas meja.

Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi.
Skala prioritas
Beliau bertanya: "Sudah penuh?"
Siswa menjawab: "Sudah penuh".

Ooooo tunggu... Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya memasukkannya ke dalam toples tadi.
Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi.
Beliau bertanya: "Sudah penuh?"
Siswapun menjawab: "Sudah penuh".

Kemudian sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkannya ke dalam toples yang sama.
Pasir pun mengisi  sela-sela bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi.
Semua sepakat kalau toples sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.

Tetapi, terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng, dan pasir itu.

Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa: "Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti toples. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya."

Bola tenis adalah hal-hal besar dlm hidup kita, yakni tanggungjawab terhadap Allah, orang tua, istri/suami, anak-anak , serta sandang, pangan, papan, dan kesehatan.

Kelereng adalah hal-hal yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.

Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olahraga, rekreasi, Facebook, WA, dll.

Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng dan bola tennis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sementara Allah dan keluarga terabaikan.
Naudzubillah mindzalik.

Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dari hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yg menjadi pelengkap.

Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap.
Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali".

Lalu sang guru bertanya: "Adakah di antara kalian yang mau bertanya?"
Semua siswa terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.
Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya: "Apa arti secangkir air kopi yang dituangkan tadi...?"

Sang guru menjawab sebagai penutup: "Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dgn bersilaturahim sambil "minum kopi"... Dengan tetangga, teman, kerabat, sahabat yang hebat. Dan jangan lupa sahabat lama".

Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan, tidak saling mencurigai, tidak saling suudzon, tidak saling ghibah apalagi fitnah, tidak saling menyakiti, tidak saling menjatuhkan demi jabatan... tetapi saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa, siapa tahu nanti teman kita itu yang akan mengangkat kita dari neraka dengan izin Allah... Betapa indahnya hidup ini.
Share:

Generasi Bahagia & Generasi Keras

Ada 2 generasi. Yang pertama dibesarkan dengan pola asuh penuh stress dan kekerasan (bully)
Generasi Bahagia Penuh Cinta
Yang kedua dibesarkan dengan pola asuh penuh cinta kasih dan kebahagiaan.
Yang pertama melahirkan generasi stress penuh tekanan, yang siswa sekolahnya menembak gurunya atau gurunya menembak siswanya.
Yang kedua melahirkan sebuah Negara bernama Denmark, yang berdasarkan survey setiap tahun selama lebih dari 40 tahun berturut-turut menjadi negara dengan penduduk paling BAHAGIA sedunia.

Tidak hanya Paling Bahagia, tapi juga paling Makmur dengan pendapatan per kapita paling tinggi di dunia.
Dan tentu saja menjadi paling damai di dunia juga.
*************

Sahabatku,
Ternyata pola asuh yang telah dibangun oleh orang tua mereka dulu itu terus diturunkan dari Generasi ke Generasi.
Generasi yang dibangun dengan pola asuh PENUH KEKERASAN, akan mewariskan pola-pola penuh kekerasan ini pada anak mereka, anak mereka pada anaknya lagi, dan seterusnya.

Begitu juga sebaliknya, Generasi yang dibangun dengan polah asuh penuh cinta dan kasih sayang akan mewariskan hal yang sama.

Nah pertanyaannya bagaimana kita bisa memutus mata rantai kekerasan ini....?
Rahasia ini di ungkap dalam buku yang berjudul "Rahasia Cara Orang Denmark mendidik dan membesarkan anak-anaknya"  yang telah terbukti selama 40 tahun melahirkan generasi bangsa yang hidup paling Bahagia di dunia.
Dan sungguh bersyukur bahwa buku tersebut kini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan sudah bisa didapat di Toko buku Gramedia, Tokopedia dan toko buku on line lainnya.

Siapa yang mau belajar mengubah pola asuh dan memutus matarantai kekerasan ini, maka sesungguhnya dia adalah PAHLAWAN KELUARGA DAN BANGSA.
Semoga kita masih banyak memiliki orang tua yang mau menjadi PAHLAWAN KELUARGA pemutus mata rantai kekerasan pola asuh kita di rumah dan di sekolah.
-Ayah Edy-
Share:

Anak-anak yang Dijamin Oleh Allah SWT

Pejuang Subuh Sejak Dini

Anak-Anak Subuh... 

Ada Anak Lelaki yang hampir setiap Subuh ikut berjamaah, ia berdiri dan duduk persis di sebelah ayahnya. Meniru semua gerakan ayahnya, si ayah Salat Sunnah ia ikut, begitu seterusnya. 

Ada anak usia sekitar tiga tahun yang kadang-kadang ikut ayahnya ke masjid. Wajahnya terlihat baru bangun tidur, masih pakai diapers pula. Berdiri persis di samping ayahnya mengikuti ayahnya salat sunnah sebelum Subuh. Sampai gerakan sujud nggak bangun lagi, hingga ayahnya selesai salat fardu ternyata ia tertidur sambil sujud. 

Ada lagi anak yang usianya juga sekitar tiga tahun. Juga berdiri di sebelah ayahnya, namun pada saat salat Subuh tak berapa lama setelah takbir dan imam membaca alfatihah, ia ngeloyor meninggalkan barisan. Hingga salat Subuh usai, biasanya ia duduk di pojok masjid menunggu ayahnya selesai. 

Ada pula ayah yang membawa anaknya ke masjid dalam kondisi masih terlelap. Digendong turun dari mobilnya, sampai ke masjid dan bahkan hingga jamaah bubar si anak tetap terlelap. Meski sang ayah sudah mencoba membangunkannya. Maklum, masih usia dua tahun. 

Yang menarik ada anak yang rajin ke masjid padahal tidak ada ayahnya. Entah bagaimana ibunya mendidik, menarik pastinya. Meski tanpa ayah yang sudah lama meninggal, ia tetap rajin ke masjid. 

Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di Subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini. 

Selama masih ada orang-tua, terutama para ayah yang berupaya mengajak serta anak-anaknya salat Subuh berjamaah di masjid, maka akan  kokohlah barisan pejuang agama allah. Negarapun akan  selamat.

Insya' allah . . .

Khawatirlah. . .
Bila sudah tidak ada kalangan muda dalam barisan jama'ah Subuh di masjid-masjid, bagaimana nasib ummat ini di masa datang?

Ada riwayat yang terbaca, salah satu rahasia kehebatan para pejuang aceh, yang membuat penjajah kesulitan mengalahkan rakyat aceh adalah, teuku umar dan para panglima memilih pasukannya dari masjid-masjid di waktu Subuh.

Mereka yang bangun Subuh adalah para pejuang. Orang-orang yang bersungguh-sungguh, yang telah bisa mengalahkan rasa lelah dan malasnya, tak turuti kantuknya, menguasai egonya.

Kagum kepada para orang tua yang tak lelah mengenalkan, mengajarkan dan memberi contoh kepada anak-anaknya untuk salat berjamaah Subuh di masjid. Kelak anak-anak ini menjadi pribadi yang tangguh jiwa dan raganya.

Tak perlu khawatir, bila Subuh bisa dikuasai, kelak masa depan bisa di genggam....


Share:

Kekeliruan Jangan Katakan 'Jangan'

Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!


Kekeliruan Buku Pendidikan:
(1). Mengharomkan kata 'jangan'
Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.

Salah seorang pendidik pernah berkata,

”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu

🔴dunia psikologi dan

🔵dunia pendidikan



Karena itulah, berangkat dari hal ini.

Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku

👉pendidikan,

👉seminar,

👉teori pendidikan, dll.

yg kadang sudah menjangkiti bbrp para

👳pendidik muslim,

👪para ayah dan ibu.



Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.



Mari kita lihat, beberapa perkataan2

‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,



1. Diantaranya Ayah Edy,

dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,



“..gunakan kata-kata preventif, seperti

🔄hati-hati,

🚫berhenti,

❌diam di tempat, atau

⛔stop.

Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”



2. Pada media online, detik.com, 

pernah menulis judul artikel :



‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,



“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”



3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,

“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,



“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,

maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan 

yang dapat diterima anak…”



Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.



Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?



Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?



Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.



Allohu Akbar, banyak sekali!



Mau dikemanakan kebenaran ini ?

Apa mau dibuang ?

Dan diadopsi dari teori dhoif ?



Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?



Surah Luqman ayat 12 sampai 19.

👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,

👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)



Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?



Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,



“Wahai anakku,

🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.



Inilah bentuk tindakan preventif 

yang divaliditas dalam al-Qur’an.



Sampai pada ayat 19,

ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu

🙅“laa tusyrik billah”,

🙅“fa laa tuthi’humaa”,

🙅“Wa laa tusho’ir

khoddaka linnaasi”, dan

🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.



Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.



Pun demikian dengan “Laa” yang lain,

tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.



Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan 

“diam/hati-hati”?

👉Karena ini bimbingan Allah.

Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak,  sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.



Dan perkataan 'jangan' juga

➕positif,

➖tidak negatif.



Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.



Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?



Tidak ada!



Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya. 



Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.



Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.

Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.

Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.


Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.



Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. 



Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,



Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata



“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.



Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi



“mereka memang begitu, yang  penting saya tidak melakukannya”.



Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.



Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.



Simpan saja AL-Qur’an di lemari  paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.



Astagfirulloh…

Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..



Aamiin……



Mari kita renungkan bersama.





(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan  Budi Azhari)Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!



Kekeliruan Buku Pendidikan:



(1). Mengharomkan kata 'jangan'


Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.




Salah seorang pendidik pernah berkata,

”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu

🔴dunia psikologi dan

🔵dunia pendidikan



Karena itulah, berangkat dari hal ini.

Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku

👉pendidikan,

👉seminar,

👉teori pendidikan, dll.

yg kadang sudah menjangkiti bbrp para

👳pendidik muslim,

👪para ayah dan ibu.



Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.



Mari kita lihat, beberapa perkataan2

‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,



1. Diantaranya Ayah Edy,

dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,



“..gunakan kata-kata preventif, seperti

🔄hati-hati,

🚫berhenti,

❌diam di tempat, atau

⛔stop.

Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”



2. Pada media online, detik.com, 

pernah menulis judul artikel :



‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,



“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”



3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,

“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,



“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,

maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan 

yang dapat diterima anak…”



Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.



Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?



Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?



Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.



Allohu Akbar, banyak sekali!



Mau dikemanakan kebenaran ini ?

Apa mau dibuang ?

Dan diadopsi dari teori dhoif ?



Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?



Surah Luqman ayat 12 sampai 19.

👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,

👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)



Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?



Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,



“Wahai anakku,

🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.



Inilah bentuk tindakan preventif 

yang divaliditas dalam al-Qur’an.



Sampai pada ayat 19,

ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu

🙅“laa tusyrik billah”,

🙅“fa laa tuthi’humaa”,

🙅“Wa laa tusho’ir

khoddaka linnaasi”, dan

🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.



Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.



Pun demikian dengan “Laa” yang lain,

tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.



Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan 

“diam/hati-hati”?

👉Karena ini bimbingan Allah.

Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak,  sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.



Dan perkataan 'jangan' juga

➕positif,

➖tidak negatif.



Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.



Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?



Tidak ada!



Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya. 



Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.



Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.

Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.

Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.


Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.



Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. 



Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,



Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata



“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.



Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi



“mereka memang begitu, yang  penting saya tidak melakukannya”.



Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.



Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.



Simpan saja AL-Qur’an di lemari  paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.



Astagfirulloh…

Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..



Aamiin……



Mari kita renungkan bersama.





(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan  Budi Azhari)
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me