Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

Remaja: Masa Pencarian Jati Diri, Benarkah?

 Masa remaja mampu berkontribusi untuk perubahan umat yang hakiki
Ada sebuah pernyataan, “Masa remaja adalah masa pencarian jati diri”. Sebagian orang mungkin setuju, mungkin ada pula yang tidak setuju. Namun kebanyakan orangtua menganggap bahwa fase remaja adalah masa mencari jati diri.  

Apa sebenarnya makna fase mencari jati diri? Fase ini adalah proses saat seseorang mencari karakter dasar dirinya. Biasanya ditandai dengan berbagai perubahan sikap. Baik sikap positif ataupun negatif.

Benarkah bahwa masa remaja adalah fase seseorang disibukkan dengan mencari jati dirinya? Dr. Khalid Asy-syantut, pakar pendidikan dari King Abdul Aziz University Jeddah, dalam bukunya Tarbiyatusy Syabab Al-Muslim lil Aba’ wad du’at menjelaskan bahwa "masa remaja adalah fase mencari jati diri” merupakan pernyataan yang keliru. Pernyataan yang selama ini diwariskan turun menurun. Sehingga masyarakat termakan opini bahwa masa remaja adalah masa kegilaan (madness). Ditandai dengan sikap pembangkangan, pemberontakan, ketegangan dan sulit diatur.

Opini ini diperkuat dengan pernyataan seorang ahli psikolog remaja pertama, yaitu Stanley Hall. Dia mengatakan bahwa, "Remaja adalah fase sulit diatur, keras dan kasar, diiringi krisis kejiwaan, dengan perasaan berat, frustasi, perang batin, resah, banyak masalah, dan sulit menurut, yang semuanya itu mendominasi emosi.”

Namun apa yang dikemukakan Stanley ini bukan kebenaran secara mutlak. Melainkan hasil penelitian yang dilakukan kepada anak remaja di Amerika. Sudah pasti kehidupan remaja Amerika jauh dari aturan Islam. Berbagai karakter negatif yang dikemukakan Stanley tersebut adalah karakter khas para remaja di Amerika. Maka masa remaja sebagai fase mencari jati diri dengan berbagai perubahan sikap yang negatif sejatinya merupakan produk sistem kehidupan sosial yang terjadi pada remaja Amerika. Bukanlah fenomena alamiah yang dialami umat manusia.   

Lain yang dikemukakan Stanley, lain pula pernyataan yang dikemukakan oleh Margaret Mead. Seorang antropolog yang melakukan penelitian di masyarakat tradisonal. Margaret mengatakan bahwa “Remaja adalah fase perkembangan biasa, selama berjalan secara normal dan tidak menghadapi berbagai krisis.”

Dari kedua peneliti di atas, dapat ditarik pelajaran bahwa, orangtua hendaknya berpikir cerdas dan tidak termakan opini yang salah tentang remaja. Sebab opini yang salah dapat berpengaruh pada persepsi orangtua dalam mendidik dan mendampingi tumbuh kembang mereka. Akibatnya orang tua akan memandang wajar setiap perilaku negatif yang dilakukan mereka di masa remaja dengan dalih “proses mencari jati diri”.

Lantas seperti apa Islam memandang masa remaja?

Sama halnya dengan pernyataan Margaret Mead, Islam memandang bahwa masa remaja adalah fase normal biasa. Justru sejatinya fase remaja itu tidak ada. Yang ada adalah perubahan dari fase anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan proses aqil baligh. Di fase ini, mereka memiliki banyak potensi besar. Energi, semangat, waktu dan kreativitas untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat.

Jadi sejatinya masa remaja bukanlah masa mencari jati diri melainkan masa berkontribusi untuk perubahan umat yang hakiki. Maka tugas orangtua membantu mereka menjadi sosok pemuda revolusioner dambaan umat. Pemuda yang dapat mengubah peradaban kufur menjadi peradabn yang bermarbat dengan Islam.
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me