Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Tampilkan postingan dengan label public speaking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label public speaking. Tampilkan semua postingan

Betapa Banyak Manusia yang Mendapatkan Hidayah Berpakaian, Tetapi Tidak Mendapatkan Hidayah Lisan

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata,

اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء

Hasil gambar untuk lisan keji pakaian baik“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)

Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara?

Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.

Yahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,

القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه

“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)

Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)

Hamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut.

Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ

“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)

Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, tetapi tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.

Oleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ

“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)

Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Share:

Agar Ucapanmu Tak Melalaikanmu

Dalam banyak hadits ini, Nabi menganjurkan kepada kita untuk mengucapkan ucapan yang baik atau diam. Banyak sekali dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan sunnah yang memerintahkan kita untuk menjaga lisan & tidak ada asal ngegas tanpa memikirkan secara matang dampaknya.
Lalai dalam ucapan pun sangat berbahaya

Sungguh betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan yang tak bertulang sehingga menjadi faktor utama dicampakkannya ke api Neraka !!

Dan perlu diketahui bahwa seorang sebelum melintarkan sebuah ucapan,  maka hendaknya mengecek empat aspek:

1. Tujuan dan Niat.
Baiknya niat menjadikan kata yang terucap dari lisan terasa sejuk dan mendatangkan kedamaian bagi orang yang mendengarnya. Apalah artinya kata-kata indah jika ternyata tersimpan dalam hatinya bisa dan racun yang mematikan.

2. Kanduangan makna ucapan.
Oleh karenanya seorang harus selektif dalam bertutur kata karena setiap huruf yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, yang berdampak tentang nasibnya kelak di akherat.

3. Kelembutan kata.
Tutur kata yang lembut dan santun terbukti ampuh memikat hati dan meruntuhkan amarah yang berkobar-kobar dan berubah menjadi keakraban dan kasih sayang.

4. Efek ucapan.
Bisa jadi ucapan kita benar, dikemas secara santun, dilandasi dengan niat yang baik, namun ternyata berdampak buruk akibatnya. Oleh karenanya, pertimbangkan baik-baik ucapan sebelum disampaikan agar tidak berujung pada malapetaka dalam hidup dan melukai perasaan saudara anda. (Lihat buku “Cerdas Berkomunikasi Ala Nabi “ hlm. 11-43 oleh Dr. Muhammad Arifin Badri, cet Pustaka Imam Syafi’i).

Point keempat ini perlu diperhatikan baik-baik, terutama bagi para dai dan penuntut ilmu agar kita tidak menghancurkan bangunan yang terbangun. Imam Asy-Syathibi berkata:
"Memikirkan buah suatu perbuatan adalah sangat penting dalam pandangan syari'at, baik perbuatan tersebut benar atau salah, sebab seorang alim tidak bisa menghukumi secara benar tentang suatu perbuatan kecuali setelah melihat buah yang dihasilkan dari perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan". (Al Muwafaqot 5/177)
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhali hafizahullah berkata:

"Di antara fiqh menghadapai zaman fitnah:
Sesungguhnya keyakinan harus dibangun di atas ilmu, sedangkan ucapan dan penjelasan (kepada ummat) harus dibangun di atas kemaslahatan.

Maka seorang muslim harus meyakini apa yang ditunjukkan oleh dalil dan apa yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun ucapan dan penjelasan kepada ummat maka harus didasarkan pada kemaslahatan.

Maka tidak disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengucapakan setiap apa yang dia ilmui, akan tetapi dia harus menimbang, jika dengan mengucapkannya ada kemaslahatan maka dia mengucapkannya. Namun jika menurut maslahat, perkara tersebut harus diakhirkan maka diapun harus mengakhirkannya dan menunda untuk mengatakannya".
Sumber: (Fiqhul al-Fitan, Syeikh Dr.  Sulaiman Ar-Ruhaily, hlm.  40-41)
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me