Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!
Kekeliruan Buku Pendidikan:
(1). Mengharomkan kata 'jangan'
Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.
Salah seorang pendidik pernah berkata,
”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu
🔴dunia psikologi dan
🔵dunia pendidikan
Karena itulah, berangkat dari hal ini.
Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku
👉pendidikan,
👉seminar,
👉teori pendidikan, dll.
yg kadang sudah menjangkiti bbrp para
👳pendidik muslim,
👪para ayah dan ibu.
Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.
Mari kita lihat, beberapa perkataan2
‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,
1. Diantaranya Ayah Edy,
dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,
“..gunakan kata-kata preventif, seperti
🔄hati-hati,
🚫berhenti,
❌diam di tempat, atau
⛔stop.
Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”
2. Pada media online, detik.com,
pernah menulis judul artikel :
‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,
“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”
3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,
“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,
“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,
maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan
yang dapat diterima anak…”
Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.
Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?
Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?
Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.
Allohu Akbar, banyak sekali!
Mau dikemanakan kebenaran ini ?
Apa mau dibuang ?
Dan diadopsi dari teori dhoif ?
Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?
Surah Luqman ayat 12 sampai 19.
👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,
👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)
Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?
Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,
“Wahai anakku,
🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.
Inilah bentuk tindakan preventif
yang divaliditas dalam al-Qur’an.
Sampai pada ayat 19,
ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu
🙅“laa tusyrik billah”,
🙅“fa laa tuthi’humaa”,
🙅“Wa laa tusho’ir
khoddaka linnaasi”, dan
🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.
Pun demikian dengan “Laa” yang lain,
tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.
Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan
“diam/hati-hati”?
👉Karena ini bimbingan Allah.
Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.
Dan perkataan 'jangan' juga
➕positif,
➖tidak negatif.
Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.
Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?
Tidak ada!
Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya.
Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.
Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.
Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.
Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.
Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.
Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum.
Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,
Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata
“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.
Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi
“mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.
Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.
Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.
Simpan saja AL-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.
Astagfirulloh…
Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..
Aamiin……
Mari kita renungkan bersama.
(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan Budi Azhari)Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!
Kekeliruan Buku Pendidikan:
(1). Mengharomkan kata 'jangan'
Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.
Salah seorang pendidik pernah berkata,
”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu
🔴dunia psikologi dan
🔵dunia pendidikan
Karena itulah, berangkat dari hal ini.
Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku
👉pendidikan,
👉seminar,
👉teori pendidikan, dll.
yg kadang sudah menjangkiti bbrp para
👳pendidik muslim,
👪para ayah dan ibu.
Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.
Mari kita lihat, beberapa perkataan2
‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,
1. Diantaranya Ayah Edy,
dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,
“..gunakan kata-kata preventif, seperti
🔄hati-hati,
🚫berhenti,
❌diam di tempat, atau
⛔stop.
Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”
2. Pada media online, detik.com,
pernah menulis judul artikel :
‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,
“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”
3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,
“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,
“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,
maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan
yang dapat diterima anak…”
Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.
Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?
Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?
Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.
Allohu Akbar, banyak sekali!
Mau dikemanakan kebenaran ini ?
Apa mau dibuang ?
Dan diadopsi dari teori dhoif ?
Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?
Surah Luqman ayat 12 sampai 19.
👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,
👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)
Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?
Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,
“Wahai anakku,
🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.
Inilah bentuk tindakan preventif
yang divaliditas dalam al-Qur’an.
Sampai pada ayat 19,
ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu
🙅“laa tusyrik billah”,
🙅“fa laa tuthi’humaa”,
🙅“Wa laa tusho’ir
khoddaka linnaasi”, dan
🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.
Pun demikian dengan “Laa” yang lain,
tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.
Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan
“diam/hati-hati”?
👉Karena ini bimbingan Allah.
Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.
Dan perkataan 'jangan' juga
➕positif,
➖tidak negatif.
Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.
Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?
Tidak ada!
Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya.
Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.
Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.
Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.
Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.
Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.
Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum.
Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,
Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata
“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.
Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi
“mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.
Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.
Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.
Simpan saja AL-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.
Astagfirulloh…
Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..
Aamiin……
Mari kita renungkan bersama.
(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan Budi Azhari)






