Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Saat Diberi Ucapan Selamat Ulang Tahun

  1. Jika kita mendapat ucapan selamat ulang tahun, tidak perlu direspon atau dijawab. Jika harus disetujui pun, ya Ucapkan saja terima kasih. 

  2. Jika kita didoakan, semisal semoga semakin berkah usianya , semoga semakin shalihah, dst… Maka aminkan doanya. 
  3. Jika kita menerima hadiah ulang tahun, maka tolaklah secara halus dan katakan: mohon maaf saya tidak setuju ulang tahun .. 
  4. Jika dia memberi hadiah dan khawatir dia tersinggung jika menolaknya, maka terima hadiahnya dan ucapkan terima kasih. 
  5. Ucapkan padanya : Tahâdû tahâbû (salinglah memberi hadiah niscaya kalian saling mencintai).
  6. Jika kita ditraktir makan, maka terima traktirannya dan sampaikan padanya: tidak ada ucapan selamat ulang tahun atau yang semisal. 
  7. Jika kita suka orang tua kita untuk mentraktir kawan² kita sebagai rasa syukur lalu mereka memberi kita uang, maka silakan gunakan uang ini itu mentraktir mereka atau selainnya. Semoga bisa menjadi sedekah. Tapi ingat, jangan diniatkan untuk ulang tahun dan sampaikan ke kawan yang ditraktir, maka ini adalah traktiran bukan karena ulang tahun.
  8. Jika banyak yang komplain dan protes, kamu kok ekstrem banget sih beragama. Masak ulang tahun aja ga boleh… 
            ❗ Maka sampaikan aku Muslim, aku terima agamaku, aku juga cinta Nabîku. Orang lain: man                 tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum ("Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia                 termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar).

            ❗ Aku tidak mau diserupakan dengan kaum selain Islam.

       9. Jika ada yang mengatakan: bukan untuk merayakan ultah, tapi bersyukur atas usia kita dengan                 acara syukuran dan berdoa, selamat milad, dan semisalnya. Masak nggak boleh?

            ❗ Maka katakanlah, aku bersyukur kepada Allâh setiap hari, dan hari² yang telah lalu tidak ada                 yang istimewa dan spesial kecuali Allâh sendiri atau Nabî yang mengistimewakan atau                         menspesialkan. 

            ❗ Hari kelahiranku tidak istimewa dan spesial, bahkan usiaku tidak semakin panjang, namun                 semakin pendek. Aku bersyukur kepada Allâh setiap waktu, jika aku disuruh memilih untuk                 berbagi seperti sedekah atau hadiah, maka aku cari hari yang diistimewakan oleh Nabîku, yaitu              pada hari Jumat, atau pada hari Arofah, atau pada 10 hari awal Dzulhijjah, atau hari² lain yang                 Allah istimewakan… 

❗ Jadi, tetap istiqomah, tidak perlu takut menjawab yang benar, tetap rendah hati, selalu                         melakukan yang baik, santun dan sopan, insya Allah, yang berhubungan dengan kita adalah                     orang-orang yang baik dan sholeh/sholehah, serta keberkahan lainnya…

Hanya Allah yang menberi Taufik




Share:

Nikmatnya Digibahin: 3 Cara Menikmatinya

Hasil gambar untuk pahala gibahMasing-masing kita pernah menjadi korban gunjingan, atau malah menjadi penggunjing. Kali ini saya fokus bagaimana menyikapi gunjingan, Jadi gak perlu ngambek atau mutung dan ngamuk-ngamuk, pakai saja cara orang-orang cerdas nan shalih sebelum kita. Jika kita luput dari satu cara, semoga tidak luput dgn dua cara yang lain, Atau setidaknya bisa mempraktikkan satu di antara 3 cara berikut ini,

PERTAMA
"Selamat datang pahala, tanpa beramal apa-apa,  tanpa tenaga dan tak ada ujub dan riya'di sana." ini adalah jurus Imam Hasan al-Bashri menghadapi gunjingan.

KEDUA
"Jika apa yang dikatakannya benar (tentang keburukanku), semoga Allah mengampuniku, namun jika apa yg dikatakannya dusta, semoga Allah mengampuninya." Ini adalah jurus Imam asy-Sya'bi menyikapi tuduhan

KETIGA
Adalah Imam asy-Syafi'i ketika digunjing, beliau mengirimkan hadiah kepada penggunjing seraya berkata, "Anda telah hadiahkan kebaikan Anda kepada saya, dan ini adalah hadiah saya untuk Anda, tapi maafkan jika hadiah saya tidak setara dengan hadiah Anda."
Share:

Betapa Banyak Manusia yang Mendapatkan Hidayah Berpakaian, Tetapi Tidak Mendapatkan Hidayah Lisan

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata,

اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء

Hasil gambar untuk lisan keji pakaian baik“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)

Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara?

Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.

Yahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,

القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه

“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)

Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)

Hamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut.

Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ

“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)

Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, tetapi tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.

Oleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ

“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)

Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Share:

Wahai Santri... Jadilah 'Ember' yang Baik

Menjadi santri itu sungguh luar biasa karena merupakan anugerah Ilahi sehingga ia harus selalu rajin mengaji dan mau serta mampu melakukan berbagai aktifitas secara mandiri.

Sebagai salah-seorang yang tumbuh remaja sebagai santri dan kini berkhidmah untuk memberikan excellent service kepada para santri, kami punya pengalaman menarik bagimana membersamai mereka ketika sedang mengaji di masjid dan belajar di kelas sampai timbul fikiran membuat analogi ini yang diharapkan mudah difahami para santri bagaimana seharusnya sikap mereka ketika mengaji dan belajar. Jika berkenan silahkan gunakan juga tulisan ini untuk menasehati para santri yang antum sedang didik, semoga menjadi shadaqah jariyah bagi kita semuanya.

Jika para Kiai dan Ustadz/ah yang menyampaikan pencerahan berbagai ilmu pengetahuan dibaratkan hujan yang tercurah dari langit maka para santri laksana tempat yang akan menerima air tersebut. Tempat air tersebut bisa saja berupa kolam, bak, drum, ember, baskom, gelas dan lainnya sesuai kapasitas masing-masing. Kami ambil pertengahan yakni ember yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Juga, karena kata ember ini sudah sering dijadikan 'panggilan atau julukan' untuk menyifati orang tertentu.

Kami gunakan Piramida terbalik sebagai pola penulisan dengan harapan akan lebih membuat kesan dan perhatian hal mana yang harus paling dihindari bagi seorang santri ketika sedang belajar atau mengaji bersama Ustadz/ah atau Kiai.

Pertama, ketika air hujan turun dari langit dan ember yang ada dalam keadaan tengkurap (bagian terbuka menghadap ke bawah) maka tidak akan ada sedikitpun air yang masuk ke dalamnya. Inilah kondisi santri yang tidur ketika mengaji atau belajar di kelas. Sehebat dan sesemangat apapun Kiai dan Ustadz/ah mengajarkan ilmu pengetahuan yang penting kalau santrinya tidur maka tidak akan mendapatkan tambahan pengetahuan sama sekali. An Nâim Kal Mayyit, orang yang tidur itu seperti mayat.

Kedua, ketika air hujan turun ke bumi namun sementara embernya dalam posisi miring maka air yang masuk tidak akan penuh. Demikian juga santri yang melamun, menghayal dan tidak fokus menyimak pencerahan dari Kiai atau Ustadz/ah tidak akan memahaminya dengan kuat dan tepat.

Ketiga adalah ember bocor yang menerima air hujan, meskipun air masuk maka tidak akan tersisa karena keluar lagi semuanya. Inilah gambaran santri yang suka ngobroooool saja ketika Kiai atau Ustadz/ah menyampaikan pencerahan, walaupun ia mendengar tetapi dapat dipastikan tidak akan mengerti sama sekali.

Nah, ember yang terbaik adalah yang tidak bocor, tidak miring dan tidak tengkurap ketika turun air hujan sehingga akan terisi air dengan penuh.

Sikap santri yang dengan penuh khusyu', khudhu' dan tawadhu' ketika menyimak penjelasan Kiai atau Ustadz/ah merupakan bagian dari Shuhbatul Ustâdzi yakni 1 diantara 6 syarat memperoleh ilmu: Cerdas, Tamak terhadap Ilmu, Bersungguh-sungguh, Dana, Bergaul dengan guru, Waktu yang memadai.
Share:

Menanamkan Adab pada Anak (1)

Apa yang ada dalam benak kita ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan dan santun perilakunya, hormat dan patuh kepada orangtuanya, pandangannya tidak liar, wajahnya berseri-seri? Tentu, anak seperti ini membuat senang siapa saja yang melihat dan berjumpa dengannya. Pasti kita yakin bahwa ia adalah anak yang terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan adab yang baik serta akhlak yang mulia. Pastinya, setiap orangtua menginginkan anak yang demikian; anak-anak yang menjadi penyejuk hati orang-orang dekatnya, terutama orang tuanya.

Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Oleh karena itu, anak-anak harus mendapat perhatian saksama agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas prima. Mereka harus menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tangguh, yang selalu menjaga sikap dan perilakunya dengan baik. 

Dengan begitu mereka siap terjun dalam kancah kehidupan dengan membawa Islam dalam setiap langkah-langkahnya. Dengan itu pula mereka mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi, baik persoalan pribadinya maupun persoalan umat secara keseluruhan.

Kewajiban Menanamkan Adab

Banyak ulama telah membahas makna adab dalam pandangan Islam. Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah).

KH Asy’ari membuka karya tulisnya, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, dengan mengutip sabda Rasulullah, ”Hak seorang anak atas orangtuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik.”

Adab: Bagian dari Hukum Syariah

Penanaman adab dan sopan-santun pada anak merupakan hal yang sangat penting dalam Islam karena merupakan bagian dari hukum syara. Adab dan sopan-santun merupakan bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan Rasulullah. Setiap muslim wajib menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum muslim memiliki akhlak tercela. Abdullah bin Umar r.a. menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Islam memerintahkan orangtua untuk menanamkan adab dan sopan santun kepada anak sejak dini, sebagaimana sabda Rasulullah, “Jika anak telah mencapai usia enam tahun, hendaklah ia diajari adab dan sopan-santun.” (HR Ibnu Hibban).

Beliau pun bersabda:

 يَا غُلاَمُ سَمِّ الله، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang bersama anaknya. Rasulullah kemudian bertanya kepada anak tersebut, “Siapa ini?” Lalu ia menjawab, “Ayahku.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu jangan berjalan di depan dia, jangan melakukan perbuatan yang dapat membuat dia mengumpat kamu karena marah, jangan duduk sebelum ia duduk, dan jangan memanggil dengan menggunakan namanya.”

(bersambung: Cara Agar Anak Beradab)
Share:

Karakteristik Kepribadian Anak (1)


Salah satu penyebab utama kegagalan pendidikan anak adalah minimnya pengetahuan orang tua atau pendidik tentang karakteristik kejiwaan anak. Ibarat seorang dokter, orang tua dan pendidik kurang mampu mendiagnosis penyakit pasiennya, sehingga proses pengobatan yang ia lakukan menjadi tidak terarah dan asal-asalan.  Pendidikan yang tidak terarah sangat membahayakan perkembangan jiwa anak. Anak akan tumbuh dalam kondisi kejiwaan yang tidak utuh, seperti gampang putus asa, minder, penakut, pemarah dan lain sebagainya. Untuk itu, pengertahuan dan pemahaman tentang jiwa anak-anak (ma’rifatul aulad) menjadi modal dasar bagi kesuksesan mendidik anak. Ma’rifatul aulad menjadi landasan gerak bagi proses pendidikan anak.

SIFAT-SIFAT KHAS ANAK

Syaikh Muhammad Sa’id Mursi di dalam bukunya fan tarbiyatil Aulad fil Islam menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak. Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi, gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu Bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitive (peka).
Pentingnya memahami karakter anak
Diantara semua sifat –sifat khas yang dimiliki oleh anak-anak di atas  dan paling menonjol adalah,
  • BANYAK BERGERAK, GEMAR BERMAIN DAN BERSUKA

Inilah sifat motorik anak yang khas. Anak – terutama di bawah usia 8 tahun – selalu banyak bergerak, tidak bisa diam untuk waktu yang lama, gemar bermain dan selalu bersuka ria. Ini adalah sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka akan dipastika ia memiliki ‘kelainan’ secara kejiwaan. Orang tua dan pendidik yang paham dengan sifat anak ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak, dengan tetap memberikan kontrol yang  intens. Namun orang tua dan pendidik yang tidak memahami sifat anak ini, akan cenderung emosional dan suka memarahi anak. Dan ini merupakan sebuah bentuk ‘penindasan’ naluri fitriah anak. Banyak bergerak akan menambah kecerdasan dan pengalaman anak setelah dewasa.
  •  SELALU INGIN MENIRU

Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya dan gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Maka, salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik (syakhshiyyatul murabbi). Orang tua dan guru tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu, wahai para orang tua dan guru, jika Engkau ingin memperbaiki akhlak anak, maka ibda’ min nafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Perbaikilah dulu akhlak Engkau, niscaya akhlak anak pun akan ikut baik. Sebuah Syair yang cukup menggelitik mengatakan:

"Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah dari penyimpangan
JIka itu engkau lakukan maka engkau termasuk orang yang bijak
Kala itu nasihatmu akan diterima
Ilmumu  akan diikuti dan pengajaranmu akan berguna."

  • MEMILIKI  DAYA INGAT YANG SANGAT KUAT


Memori anak kecil itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam permasalahan. Oleh sebab itulah, anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Inilah yang dimaksud dengan daya ingat yang sangat kuat. Umur anak-anak merupakan ‘umur emas’ (‘umrun dzahabiyyun), yang ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang amat kuat. Maka, kita bisa menyalurkan daya ingat anak yang kuat itu untuk banyak menghafal Alquran, hadits, doa-doa dan dzikir. Apa yang sudah tersimpan dalam ingatan anak akan sulit terlupakan. Sehingga, dalam catatan sejarah, kita banyak mendapatkan para ulama yang telah hafal Alquran sebelum ia berumur 10 tahun. Orang tua dan guru yang cerdas akan berusaha memenuhi memori anaknya sejak kecil dengan hafalan Alquran, hadist, doa-doa. Itu akan berpengaruh sangat positif bagi kepribadian anak ketika menginjak dewasa. Memenuhi anak dengan sinetron-sinetron cinta, lagu-lagu dan tayangan-tanyangan televise yang tidak mendidik serta hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebuah kebodohan nyata yang banyak dilakukan oleh para orang tua dan guru. Mereka telah melakukan sebuah ‘pembunuhan moral’ dan ‘perusakan kepribadian’ satu generasi. Ini merupakan sebuah kedzaliman yang besar.

  •  SENANG DIMOTIVASI ATAU DIPUJI


Inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua dan guru. Yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbarui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi secara proporsional.
Salah satu hal yang efektif dan perlu diperhatikan orang tua dan guru dalam memberikan motivasi kepada anak adalah mengaitkan motivasi itu dengan pahala akhirat. Misalnya kita mengatakan kepada si anak, “Allah akan meridhai orang yang gemar membaca Alquran, pahala setiap hurufnya berlipat menjadi 10 kebaikan”, “Shalat yang kita lakukan di masjid pahalanya adalah 27 kali lipat dari shalat yang dilakukan sendirian di rumah”. Atau bisa juga kita kaitkan dengan apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak pergi berolahraga, kita katakan kepadanya, “Kamu akan menjadi orang yang kuat seperti Umar bin Khathab, sehingga orang-orang kafir takut kepadanya.” Motivasi atau dorongan yang dikaitkan dengan masalah agama dan akhirat lebih kuat dan mengakar dan mengendap pada jiwa anak. Dan hal tersebut sangat efektif untuk menumbuhkan kesadaran anak untuk melakukan kebaikan.


Bersambung…


Share:

Bolehkah Bercanda Model "Prank" ?

Akhir-akhir ini sering kita saksikan guyonan dengan model prank yaitu bercanda untuk ngerjain orang sehingga bikin dia panik atau nangis. Bagaimana sebenarnya hukum prank dalam pandangan agama?

Bercanda dengan model prank hukumnya Tidak Boleh,  karena beberapa dalil berikut:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

"Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti saudara muslim lainnya". (HR. Abu Dawud 5004 dan Ahmad 23064 dengan sanad shohih, dishahihkan al-Albani dalam Ghoyatul Marom 447).
Hadits ini menunjukkan tidak boleh membuat panik dan takut saudara kita sesama muslim.

Lebih tegas lagi, Nabi menjelaskan bahwa tidak boleh menakuti saudara kita walaupun hanya bercanda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا

“Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.” (HR. Abu Dawud, dihasankan Al Albani)

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh membuat takut, panik serta sedih saudara kita dengan apapun bentuknya,  karena hal itu bisa jadi akan meretakkan hubungan sesama muslim dan menyakiti perasaannya, apalagi tidak semua orang mau untuk dikerjain.

Ingat, Islam sangat menekankan kepada kita untuk menjaga persaudaraan sesama muslim. Oleh karenanya,  segala bentuk sarana yang dapat merusak persaudaraan maka harus ditutup rapat-rapat.

Bercanda hukum asalnya boleh,  hanya saja ada aturan-aturan dan batasan-batasannya,  diantaranya:

1. Tidak boleh bercanda dalam urusan agama.
2. Tidak boleh bikin panik,  takut dan sedih orang lain.
3. Tidak boleh berlebihan.
4. Memperhatikan orang dan waktu yang pas.
5. Jujur tidak boleh bohong hanya demi membuat orang lain tertawa.
Share:

Penting: Mencetak Anak yang Adibah

Kalimat-kalimat "Kasian tu anaknya sekolah di swasta" atau "Ah sekolahnya ngga favorit" sudah lama kami abaikan dan tebal kuping dengan kalimat tersebut.

Bagi kami yang notebene adalah seorang guru. Sejak anak masih kecil-kecil sudah memiliki prinsip bahwa pendidikan tidak bergantung pada dimana dia disekolahkan. Tapi pendidikan utama adalah kembali ke rumah dan kami sebagai orang tuanya lah yang bertanggung-jawab mendidik dan mengajar mereka. Sebab kelak kamilah
yang akan ditanya di akhirat tentang anak-anak kami. Bukan gurunya, kepala sekolah atau wali kelasnya.

Anak-anak kebetulan telah kami uji coba sekolah di sekolah negeri, setengah negeri dan sekolah swasta. Masing-masing sekolah selalu ada plus dan minusnya alias tidak ada sekolah yang sempurna.

Ya ujung-ujungnya konsep mendidik mereka kembali ke tangan kita sebagai orang tua. Apa yang mereka dapat di sekolah jika positif ya alhamdulillah. Jika negatif maka harus kita perbaiki di rumah dan menguatkan mereka.

Sebisa mungkin sebaiknya kita hindari intervensi pola didik gurunya kecuali dalam hal-hal yang membahayakan misalnya kasus bullying yang berulang di sekolah. Ketika anak masuk sekolah maka percayakanlah mereka pada institusi sekolah yang sudah kita teliti baik-baik.

Pendidikan anak sebaiknya adalah mengedepankan masalah akhlak. Zaman sekarang anak yang berakhlak lambat laun mulai berkurang jumlahnya. Sudah banyak contoh anak yang pintar & sekolah di sekolah favorit tapi gagal dalam hal akhlak atau adab.

"Mencetak anak pintar itu penting tapi mencetak anak yang berakhlak jauh lebih penting."

Sebab saat kita tua, kita tak memerlukan anak-anak yang nilainya excellent. Kita tak memerlukan anak-anak yang mendapat penghargaan ini dan itu. Kita tak memerlukan anak-anak yang hartanya melimpah.

Tapi kita perlu anak yang bisa merawat kita kala sakit. Memandikan jenazah kita. Menyolatkan kita. Menggotong dan mengantarkan kita ke liang lahat. Mendoakan dan menjaga keluarga sepeninggal kita.

Kita memerlukan anak-anak yang peduli dan berakhlak pada orang tua dan keluarganya.

Jangan terlalu sibuk dengan sekolah favorit ya pak bu. Pikirkan bagaimana nanti anak kita setelah kita tiada. Karena salah satu amalan yang tetap mengalir, adalah doan anak saleh dan salehah.
Share:

Bila Akhlak Telah Rusak

Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan:

"Apabila akhlak telah rusak,  maka rusak pula aqidah.  Dan bila aqidah telah
 rusak maka hilanglah ketergantungan kaum

muslimin kepada Robb mereka,  dan saat itulah mereka menjadi umat yang paling lemah".

(Tafsir Surat Fushilat hlm.  39)
Share:

Agar Ucapanmu Tak Melalaikanmu

Dalam banyak hadits ini, Nabi menganjurkan kepada kita untuk mengucapkan ucapan yang baik atau diam. Banyak sekali dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan sunnah yang memerintahkan kita untuk menjaga lisan & tidak ada asal ngegas tanpa memikirkan secara matang dampaknya.
Lalai dalam ucapan pun sangat berbahaya

Sungguh betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan yang tak bertulang sehingga menjadi faktor utama dicampakkannya ke api Neraka !!

Dan perlu diketahui bahwa seorang sebelum melintarkan sebuah ucapan,  maka hendaknya mengecek empat aspek:

1. Tujuan dan Niat.
Baiknya niat menjadikan kata yang terucap dari lisan terasa sejuk dan mendatangkan kedamaian bagi orang yang mendengarnya. Apalah artinya kata-kata indah jika ternyata tersimpan dalam hatinya bisa dan racun yang mematikan.

2. Kanduangan makna ucapan.
Oleh karenanya seorang harus selektif dalam bertutur kata karena setiap huruf yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, yang berdampak tentang nasibnya kelak di akherat.

3. Kelembutan kata.
Tutur kata yang lembut dan santun terbukti ampuh memikat hati dan meruntuhkan amarah yang berkobar-kobar dan berubah menjadi keakraban dan kasih sayang.

4. Efek ucapan.
Bisa jadi ucapan kita benar, dikemas secara santun, dilandasi dengan niat yang baik, namun ternyata berdampak buruk akibatnya. Oleh karenanya, pertimbangkan baik-baik ucapan sebelum disampaikan agar tidak berujung pada malapetaka dalam hidup dan melukai perasaan saudara anda. (Lihat buku “Cerdas Berkomunikasi Ala Nabi “ hlm. 11-43 oleh Dr. Muhammad Arifin Badri, cet Pustaka Imam Syafi’i).

Point keempat ini perlu diperhatikan baik-baik, terutama bagi para dai dan penuntut ilmu agar kita tidak menghancurkan bangunan yang terbangun. Imam Asy-Syathibi berkata:
"Memikirkan buah suatu perbuatan adalah sangat penting dalam pandangan syari'at, baik perbuatan tersebut benar atau salah, sebab seorang alim tidak bisa menghukumi secara benar tentang suatu perbuatan kecuali setelah melihat buah yang dihasilkan dari perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan". (Al Muwafaqot 5/177)
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhali hafizahullah berkata:

"Di antara fiqh menghadapai zaman fitnah:
Sesungguhnya keyakinan harus dibangun di atas ilmu, sedangkan ucapan dan penjelasan (kepada ummat) harus dibangun di atas kemaslahatan.

Maka seorang muslim harus meyakini apa yang ditunjukkan oleh dalil dan apa yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun ucapan dan penjelasan kepada ummat maka harus didasarkan pada kemaslahatan.

Maka tidak disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengucapakan setiap apa yang dia ilmui, akan tetapi dia harus menimbang, jika dengan mengucapkannya ada kemaslahatan maka dia mengucapkannya. Namun jika menurut maslahat, perkara tersebut harus diakhirkan maka diapun harus mengakhirkannya dan menunda untuk mengatakannya".
Sumber: (Fiqhul al-Fitan, Syeikh Dr.  Sulaiman Ar-Ruhaily, hlm.  40-41)
Share:

Tantangan dalam Berdakwah

Setiap orang yang mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat, pasti mendapatkan resiko dan tantangan dakwah. Alangkah bagusnya perkataan Waraqah bin Naufal kepada Nabi:

لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُوْدِيَ

“Tidak ada seorang pun yang datang
Tantangan yang medekatkan pada-Nya. 
dengan mengemban ajaranmu kecuali akan dimusuhi.”
(HR.  Al-Bukhori (no. 7) dan Muslim (no. 160)

 Syaikh al-Albani berkata: “Ketika aku menggariskan manhaj (metode) ini pada diriku yaitu berpegang teguh dengan Sunnah ash-Shohihah dan aku realisasikan dalam kitab-kitabku yang akan tersebar pada manusia -insya Allah-, aku sangat menyadari bahwa hal itu tidak akan menyenangkan sebagian kelompok dan madzhab, bahkan kemungkinan besar mereka akan meluncurkan dan melancarkan berbagai celaan padaku secara lisan dan tulisan.
Bagiku pribadi, semua itu tidak menjadi masalah karena memang keridhaan manusia adalah suatu tujuan yang sulit digapai dan sebagaimana sabda Nabi:

مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَّلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, niscaya Alloh akan menyerahkannya pada manusia.”(HR. Tirmidzi (II/67), al-Qudha'i (II/42), Ibnu Busyran dalam al-Amali (144-145) dan lain-lain dengan sanad Shohih. Lihat Silsilah ash-Shohihah (no. 2311) oleh al-Albani).

 Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:

وَلَسْتُ بِنَاجٍ مِنْ مَقَالَةِ طَاعِنٍ
 وَلَوْ كُنْتُ فِيْ غَارٍ عَلَى جَبَلٍ وَعْرِ
وَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْجُوْ مِنَ النَّاسِ سَالِمًا
 وَلَوْ غَابَ عَنْهُمْ بَيْنَ خَافِيَتَيْ نَسْرِ

Aku tidak akan pernah selamat dari celaan orang
 Sekalipun aku bersembunyi di gua atau gunung yang sulit didaki
Siapakah orangnya yang bakal selamat dari manusia
 Walau dia telah bersembunyi di antara dua sayap burung. (Muqaddimah Shifat Sholat Nabi (hal. 44-45).

 Tetapi percaya atau tidak, semua celaan dan tuduhan dusta tersebut tidaklah membahayakan dan menggoyang kursi kedudukan para penyeru al haq, bahkan sebalik-nya, sangat membahayakan nasib para pencela beliau sendiri.

يَا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِيْ لِيَكْلِمَهُ
 أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ

Hai orang yang akan menabrak gunung tinggi untuk menghancurkannya
 Kasihanilah kepala anda, jangan kasihan pada gunungnya. (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi Ibnu Abdil Barr 2/310)

 Bahkan kita optimis bahwa semua tantangan itu akan menambah tinggi kedudukan dan keutamaan para pendakwah,  sebagaimana kata penyair:

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلَةٍ
 طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ

Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia
 Maka, Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menebarkannya. (Diwan Abu Tammam (45).
Share:

Sifat malu: Belajar dari Putri Nabi

Putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pernah berpesan kepada Asma’:

 “Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk perilaku kaum wanit yang memakai pakaian yang dapat menggambarkan tubuhnya.
Muslimah wajib memiliki sifat malu.
Dan aku malu jika kelak aku mati saat dibawa keluar kepada para pria lalu terlihat lekuk tubuhku".

Asma' berkata: "Aku pernah melihat di Habasyah (Ethopia)  keranda yang ditutupi seperti penutup untuk pengantin wanita.

Fathimah mengatakan: "Alangkah bagusnya itu".

Ibnu Abdil Barr mengatakan: "Fathimah adalah orang yang pertama kali dalam Islam keranda jenazahnya ditutupi kain". (Al Isti'ab 4057)

Perhatikanlah sifat malu Fathimah yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat menyifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita.

Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bentuk dada, pinggang, betis, dan anggota badan lainnya.

Hendaknya mereka beristighfar kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya serta mengingat selalu sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya hal yang dijumpai manusia dari perkataan para nabi adalah, “Apabila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhori)
Share:

10 Golongan Umat Nabi Muhammad SAW Tidak Akan Masuk Surga

"Ada 10 golongan dari umatku tidak akan masuk surga". Begitu mula mula Ibnu Abbas RA meriwayatkan sebuah hadist baginda nabi.
Kelak semua akan kembali

​"Siapa mereka ya Rasulullah?"​

1. Al Qalla,
2. Al Jayyuf,
3. Al Qattaf,
4. Ad Daibub,
5. Ad Dayyuts,
6. Shahibul 'Athabah,
7. Shahibul Kubah,
8. Al 'Utul,
9. Az Zanim, dan
10. Al aq liwalidaith.

​"Terangkanlah siapa saja mereka itu?"​

​Beliau menjawab.​

AL QALLA, ​adalah manusia penjilat, mencari muka pada penguasa.​

AL JAYYUF, ​adalah pencuri kain kafan kuburan.​

AL QATTAR, ​adalah para pengadu "domba".​

AL DAIBUB, ​adalah mucikari penjual perempuan sebagai pelacur.​

AD DAYYUTS, ​adalah orang yang tidak cemburu melihat istri dan anak gadisnya bergaul dengan laki laki lain.​

SHAHIBUL "ATHABAH, ​adalah para penabuh gendang besar.​

SHAHIBUL KUBAH, ​adalah para penabuh gendang kecil.​

AL 'UTUL, ​adalah Orang sombong yang tidak mau memberi maaf saudaranya yg meminta maaf.​

AZ ZANIM, ​adalah para pengunjing orang yg suka duduk duduk di pinggir jalan.​

AL 'AQ LIWALIDAITH, ​adalah pendurhaka pada orang tuanya.​

Muadz RA lantas bertanya,

​"Terangkan pada kami apa maksud dari ayat; "Pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong bondong"​ (QS. An Naba (78) : 18)

​"Kau menanyakan perkara besar wahai sahabatku Muadz..."​

​"...kelak ummatku akan dikumpulkan terpisah 10 golongan. Mereka menampakan rupa sesuai amal perbuatannya di dunia. Ada yang bewujud...:"​

1. ​KERA, mereka para pengadu domba manusia.​

2. ​BABI, pemakan barang haram dan mencari rizki dengan cara haram.​

3. ​Ada yang berjalan dengan KAKI DIATAS dengan MUKA terseret dibawah, merekalah pemakan RIBA.​

4. ​BUTA dan BINGUNG, mereka manusia zalim dalam memutus hukum.​

5. ​TULI, BISU dan GILA, mereka orang yg bangga dengan amal perbuatannya.​

6. ​Ada yg lidahnya terjulur dan dikunyahnya sendiri hingga darah nanah mengalir dari mulutnya, merekalah para ALIM ULAMA yg perbuatannya bertolak belakang dengan ucapannya.​

7. ​Ada yg tangan kakinya buntung, mereka orang yg suka menyakiti tetangganya.​

8. ​Ada yg tersalip lempengan besi membara, merekalah orang yg suka melaporkan orang lain pada penguasa atas laporan palsu (kriminalisasi)​

9. ​Ada yg tubuhnya busuk, orang yang tenggelam dengan syahwat mereka.​

10. ​Ada yg berselimut aspal mendidih, merekalah orang sombong nan angkuh.​

(HR. Al Qurthubi dalam Nashaihul 'Ibad Syaikh Nawawi).

***

Mudah-mudahan kita bukan termasuk dalam golongan yg digambarkan baginda nabi SAW itu. Dan ​senantiasa berdoa agar tidak terjebak masuk dalam kubangan dan lingkungan ahli maksiat yg menjerumuskan.​

"Allahumma akrim hajihil ummatul muhammadiyah bi jamiyli 'awaidika fiddarini ikromaa liman ja'altaha min ummatihi sollallahu 'alayhi wassalam"

"Ya Allah, muliakanlah umat Muhammad ini dengan indahnya pahala-Mu, baik di dunia maupun di akhirat, sebagai bentuk kemurahan-Mu bagi orang yang telah Engkau jadikan dia sebagai bagian dari umatnya"
Aamiin Allahumma, Aamiin...
Share:

Doa Pemacu Semangat Agar Hilang Rasa Malas

Kebanyakan orang yang baru pulang mudik mungkin didera kemalasan untuk kembali beraktivitas. Apalagi liburan Lebaran tahun ini cukup panjang. Suasana pulang
Keysha semangat beraktivitas
Semangat Beraktivitas
kampung masih terasa dan ingin berlama-lama di rumah.

Kemalasan bisa membuat kita ketinggalan. Pekerjaan atau aktivitas yang harusnya selesai cepat bisa tertunda.

Akibatnya, banyak peluang yang terlewat begitu saja. Padahal, peluang tersebut sangat bermanfaat jika kita bisa meraihnya.

Rasulullah Muhammad SAW sudah mewanti-wanti umat Islam memanfaatkan dua keadaan yaitu sehat dan waktu luang.

Dua kondisi tersebut dapat menjadi jalan kita untuk berusaha lebih baik lagi. Sehingga manfaat yang kita hasilkan bisa semakin luas.

Sedangkan rasa malas adalah musuh dari dua keadaan tersebut. Peluang bisa lepas begitu kita terlena oleh kemalasan. 

Doa Usir Malas
Untuk mengusir rasa malas, Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang bisa kita terapkan kapan saja.

Allahumma inni a‘udzubika minal kasali wa a‘udzubika minal jubni wa a‘udzubika minal harami wa a’ûdzubika minal bukhli.

Artinya,
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, dan aku aku berlindung kepada-Mu dari pikun, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat pelit."
Share:

Aladdin dan Ancaman Tauhid

Saya tahu, mungkin ada banyak yang tidak setuju dengan tulisan saya ini.

Namun izinkan saya menuliskan apa yang muncul di benak saya setelah nonton cuplikan Aladdin dan membaca resensi filmnya.
Tauhid Kunci Surga

Tenang, ini bukan spoiler. Lagian sudah tahulah ya cerita Aladdin. Dari dulu ya begitu aja, tidak berubah.

Niat saya adalah Minimal tulisan ini bisa menjadi masukan buat para orang tua yang membawa anaknya menonton Aladdin.

Ada baiknya sebelum atau sesudah nonton film ini para orang tua bisa menjelaskan apa yang saya tulis ini kepada anak-anak kita.

Dan menurut saya yang terbaik, bagi anak di bawah umur 13 tahun memang tidak usah menonton film ini ya.

Film ini memang R13+, artinya tuk remaja 13 tahun ke atas, ya tidak pas untuk anak dibawah 13 tahun.

Dan sejatinya ada banyak yang harus diwaspadai dari film tersebut pun untuk anak di atas 13 tahun.

Kalau saya memang tidak mengizinkan anak saya nonton, karena memang belum cukup umur dan memang ingin meminimalisir “kelunturan Tauhid”.

⭕️⭕️⭕️

Anda mungkin bilang, “Ah ini kan cuma film, gak usah lebay dhyk!”.

Well, bukankah memang Ghowzul Fikr atau Perang Pemikiran paling efektif itu adalah lewat media film?

Ketika para penonton terbawa emosi dari film tersebut, maka apa yang dipesankan secara tak sadar dari film tersebut akan masuk ke pikiran bawah sadar para penontonnya.

Dan seringkali menjadi sebuah BELIEF atau keyakinan yang bisa jadi membahayakan.

Dan saya beranikan menulis ini karena bisa jadi yang Luntur adalah urusan TAUHID.

Hmmh.. kalau Tauhid bermasalah, saya khawatir anak-anak kita bisa terjangkiti penyakit syirik. Syirik halus? Well apapun itu namanya.

Makanya buat Anda para orang tua, kalaupun kepo jadi mau nonton filmnya karena tulisan ini bareng anak-anak, ya temani dan beri pemahaman yang benar kepada mereka!

Ini masalah serius brother and sister... urusan Tauhid brooo...

⭕️⭕️⭕️

Beberapa Hal terkait BELIEF / KEYAKINAN / / IMAN yang menurut saya membahayakan, kalau soal Princess Jasmine yang sexy gak usah dibahas lah ya. 😊

1. MENCURI ITU BAIK?

Aladdin adalah seorang pencuri ulung. Dikesankan mencurinya pun tuk menolong kaum dhuafa.

Saya khawatir, anak-anak yang belum punya  pikiran yang kritis ya akan menerima begitu saja “Belief Installation@ yang disematkan oleh film ini.

“Ah ini kan cuma film... plis deh dhyk!”

Ingat guys, dengan media film, game, banyak kejahatan pornografi, pornoaksi yang terjadi, betul?

Bahkan pembunuhan masal di masjid New Zealand beberapa waktu lalu juga terinspirasi dari game kan. Ingat?

Sampai disini paham bahayanya tontonan?

2. MINTA KE JIN
Ini sih yang paling membahayakan menurut saya pribadi.

Gosok lampunya, si Genie alias Jin keluar dari lampu tersebut.

“Your wish is my command”. Permintaan kamu adalah perintah untukku kata si Jin.

Namun sayangnya hanya dibatasi sebanyak 3 permintaan. Apapun itu akan dikabulkan. Nice...

Kenapa nama karakternya harus Genie si Jin sih?

Mungkin kalau namanya pakai nama lain, bisa jadi tidak terlalu ketara pesan tersembunyinya, namun ini jelas dan tegas menggunakan nama JIN.

Dan ini sudah 27 tahun lamanya membrainwash kita-kita sejak pertama kali film ini direlease.

Wajar aja banyak diantara kita yang pelihara tuyul tuk jadi jalan pintas kesuksesan. Hehehe.

Disini letak titik bahaya untuk Tauhid kita dan anak-anak kita. Ngeri...

Cari Lampu Ajaib, bagai cari aja jalan pintas menuju apa yang kamu inginkan!

Lalu Minta ke Jin? nah loh... 😭😭😭

⭕️⭕️⭕️

Saya jadi kepikiran untuk membuat film tandingan nih, siapa tahu ada yang mau kerjasama hehe.

Judulnya filmnya adalah:

“ALLAH+DIN”

Bukan Aladdin, melainkan Allah ditambah Din Al-Islam sebagai jawaban.

Bagaimana kita bisa menjadikan ALLAH ﷻ sebagai satu-satunya tempat meminta tuk apapun hajat kita.

Bukan kepada Jin guys kita meminta.

Ditambah DIN yang berarti AGAMA, yang akan menjadi KARPET AJAIB nya.

Karpet ajaib yang akan membawa kita ke tempat tujuan kita dengan aman dan sejahtera. Ad Din Al Islam.

⭕️⭕️⭕️

Kalau ke Allah gak dibatasi hanya 3 Permintaan, bisa sebanyak yang kamu mau.

Kalau ke Allah, gak usah gosok lampu dulu dan katakan I WISH (Aku Meminta), dalam hati pun bisa.

Kalau ke Allah bisa minta didekatkan ke si dis, karena Allah Maha Pembolak balik hati si doi, setuju? Kalau si Genie gak bisa kalau urusan cinta kan ya.

Kalau ke Allah, apapun itu juga pasti dikabulkan. Percaya?

Masa sama Allah gak percaya?

Nih di Qur’an ada kok jaminannya,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

(ud’uni astajib lakum)
QS Al mukmin 60

Artinya : Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu…

Tinggal berdoa, jadi deh tuh barang. Kun fayakun!

Mau minta apa?

Jodoh?

Rumah?

Mobil?

Apapun itu guys, tinggal minta ke Allah, maka niscaya kukabulkan.

AUTO-KABUL kalau kata anak sekarang sih.

Tapi kok aku sudah sering berdoa, belum terkabul juga?

Panjang nih bahasannya, mau penjelasan praktis dariku ?

Tinggal diamalkan, إِنْ شَاءَ الله joss gandoss!

Kun fayakun!

⭕️⭕️⭕️

Belum terkabul itu salah satunya karena DIN nya belum oke.

Karpet Ajaib nya belum “terbang” sempurna.

Kalau mau terbang sempurna, DIN nya harus OKE dulu. Setuju?

Nih lakukan 3 hal ini dengan SUNGGUH-SUNGGUH ya brothers sisters fillah.

Dalam Surat Al-Furqon 25 : 70:

اِلَّا مَنۡ تَابَ وَ اٰمَنَ وَ عَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰٓئِکَ یُبَدِّلُ اللّٰہُ سَیِّاٰتِہِمۡ حَسَنٰتٍ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.
Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Intinya guys, kalau kamu ingin semua yang buruk-buruk, yang jahat-jahat, yang gak enak, yang nyebelin, yang nyusahin dalam hidup kamu, apakah itu karir pekerjaan, bisnis, jodoh, rumah tangga, apapun itu...

Kamu ingin ganti dengan KEBAIKAN, ganti dengan yang kamu INGINKAN, ganti dengan yang kamu IMPIKAN, ganti dengan yang kamu WISHING FOR, maka kata Allah ﷻ lakukan 3 hal ini:

1. #TAUBAT
Minta Ampun bro sis atas semua dosa, taubat yang serius! Jangan lakukan lagi dosa dan maksiat yang sudah kamu lakukan. Siap?

2. #IMAN
Kuatkan Iman kamu bro sis! Yakin sama Allah. Yakin kalau Allah itu Maha Pengampun. Maha Mendengar dan Melihat. Maha mengabulkan doa-doa kamu.

Kalau kamu gak yakin, ya pantes aja belum terkabul juga permintaan kamu.

3. #AMALSHOLEH
Banyak-banyak deh sedekah, wakaf, infaq! Mulai sekarang perhatikan hak-hal anak yatim. Kasih makan orang miskin.

Bantu urusan agama Allah, maka Allah akan membantumu segala urusanmu. Itu rumusnya guys!

Ketiga hal di atas kami singkat dengan singkatan T-I-AS.

Taubat Iman Amal Sholeh. Siap action?

Dan ayat tersebut ditutup dengan pernyataan kalau Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Kalau dosa sudah diampuni, tak ada lagi penghalang atas doa-doa kita guys.

Kalau Allah sudah sayang sama kita, apa sih yang nggak buat kita?
Share:

Generasi Bahagia & Generasi Keras

Ada 2 generasi. Yang pertama dibesarkan dengan pola asuh penuh stress dan kekerasan (bully)
Generasi Bahagia Penuh Cinta
Yang kedua dibesarkan dengan pola asuh penuh cinta kasih dan kebahagiaan.
Yang pertama melahirkan generasi stress penuh tekanan, yang siswa sekolahnya menembak gurunya atau gurunya menembak siswanya.
Yang kedua melahirkan sebuah Negara bernama Denmark, yang berdasarkan survey setiap tahun selama lebih dari 40 tahun berturut-turut menjadi negara dengan penduduk paling BAHAGIA sedunia.

Tidak hanya Paling Bahagia, tapi juga paling Makmur dengan pendapatan per kapita paling tinggi di dunia.
Dan tentu saja menjadi paling damai di dunia juga.
*************

Sahabatku,
Ternyata pola asuh yang telah dibangun oleh orang tua mereka dulu itu terus diturunkan dari Generasi ke Generasi.
Generasi yang dibangun dengan pola asuh PENUH KEKERASAN, akan mewariskan pola-pola penuh kekerasan ini pada anak mereka, anak mereka pada anaknya lagi, dan seterusnya.

Begitu juga sebaliknya, Generasi yang dibangun dengan polah asuh penuh cinta dan kasih sayang akan mewariskan hal yang sama.

Nah pertanyaannya bagaimana kita bisa memutus mata rantai kekerasan ini....?
Rahasia ini di ungkap dalam buku yang berjudul "Rahasia Cara Orang Denmark mendidik dan membesarkan anak-anaknya"  yang telah terbukti selama 40 tahun melahirkan generasi bangsa yang hidup paling Bahagia di dunia.
Dan sungguh bersyukur bahwa buku tersebut kini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan sudah bisa didapat di Toko buku Gramedia, Tokopedia dan toko buku on line lainnya.

Siapa yang mau belajar mengubah pola asuh dan memutus matarantai kekerasan ini, maka sesungguhnya dia adalah PAHLAWAN KELUARGA DAN BANGSA.
Semoga kita masih banyak memiliki orang tua yang mau menjadi PAHLAWAN KELUARGA pemutus mata rantai kekerasan pola asuh kita di rumah dan di sekolah.
-Ayah Edy-
Share:

Anak-anak yang Dijamin Oleh Allah SWT

Pejuang Subuh Sejak Dini

Anak-Anak Subuh... 

Ada Anak Lelaki yang hampir setiap Subuh ikut berjamaah, ia berdiri dan duduk persis di sebelah ayahnya. Meniru semua gerakan ayahnya, si ayah Salat Sunnah ia ikut, begitu seterusnya. 

Ada anak usia sekitar tiga tahun yang kadang-kadang ikut ayahnya ke masjid. Wajahnya terlihat baru bangun tidur, masih pakai diapers pula. Berdiri persis di samping ayahnya mengikuti ayahnya salat sunnah sebelum Subuh. Sampai gerakan sujud nggak bangun lagi, hingga ayahnya selesai salat fardu ternyata ia tertidur sambil sujud. 

Ada lagi anak yang usianya juga sekitar tiga tahun. Juga berdiri di sebelah ayahnya, namun pada saat salat Subuh tak berapa lama setelah takbir dan imam membaca alfatihah, ia ngeloyor meninggalkan barisan. Hingga salat Subuh usai, biasanya ia duduk di pojok masjid menunggu ayahnya selesai. 

Ada pula ayah yang membawa anaknya ke masjid dalam kondisi masih terlelap. Digendong turun dari mobilnya, sampai ke masjid dan bahkan hingga jamaah bubar si anak tetap terlelap. Meski sang ayah sudah mencoba membangunkannya. Maklum, masih usia dua tahun. 

Yang menarik ada anak yang rajin ke masjid padahal tidak ada ayahnya. Entah bagaimana ibunya mendidik, menarik pastinya. Meski tanpa ayah yang sudah lama meninggal, ia tetap rajin ke masjid. 

Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di Subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini. 

Selama masih ada orang-tua, terutama para ayah yang berupaya mengajak serta anak-anaknya salat Subuh berjamaah di masjid, maka akan  kokohlah barisan pejuang agama allah. Negarapun akan  selamat.

Insya' allah . . .

Khawatirlah. . .
Bila sudah tidak ada kalangan muda dalam barisan jama'ah Subuh di masjid-masjid, bagaimana nasib ummat ini di masa datang?

Ada riwayat yang terbaca, salah satu rahasia kehebatan para pejuang aceh, yang membuat penjajah kesulitan mengalahkan rakyat aceh adalah, teuku umar dan para panglima memilih pasukannya dari masjid-masjid di waktu Subuh.

Mereka yang bangun Subuh adalah para pejuang. Orang-orang yang bersungguh-sungguh, yang telah bisa mengalahkan rasa lelah dan malasnya, tak turuti kantuknya, menguasai egonya.

Kagum kepada para orang tua yang tak lelah mengenalkan, mengajarkan dan memberi contoh kepada anak-anaknya untuk salat berjamaah Subuh di masjid. Kelak anak-anak ini menjadi pribadi yang tangguh jiwa dan raganya.

Tak perlu khawatir, bila Subuh bisa dikuasai, kelak masa depan bisa di genggam....


Share:

Kekeliruan Jangan Katakan 'Jangan'

Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!


Kekeliruan Buku Pendidikan:
(1). Mengharomkan kata 'jangan'
Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.

Salah seorang pendidik pernah berkata,

”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu

🔴dunia psikologi dan

🔵dunia pendidikan



Karena itulah, berangkat dari hal ini.

Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku

👉pendidikan,

👉seminar,

👉teori pendidikan, dll.

yg kadang sudah menjangkiti bbrp para

👳pendidik muslim,

👪para ayah dan ibu.



Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.



Mari kita lihat, beberapa perkataan2

‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,



1. Diantaranya Ayah Edy,

dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,



“..gunakan kata-kata preventif, seperti

🔄hati-hati,

🚫berhenti,

❌diam di tempat, atau

⛔stop.

Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”



2. Pada media online, detik.com, 

pernah menulis judul artikel :



‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,



“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”



3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,

“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,



“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,

maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan 

yang dapat diterima anak…”



Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.



Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?



Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?



Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.



Allohu Akbar, banyak sekali!



Mau dikemanakan kebenaran ini ?

Apa mau dibuang ?

Dan diadopsi dari teori dhoif ?



Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?



Surah Luqman ayat 12 sampai 19.

👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,

👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)



Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?



Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,



“Wahai anakku,

🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.



Inilah bentuk tindakan preventif 

yang divaliditas dalam al-Qur’an.



Sampai pada ayat 19,

ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu

🙅“laa tusyrik billah”,

🙅“fa laa tuthi’humaa”,

🙅“Wa laa tusho’ir

khoddaka linnaasi”, dan

🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.



Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.



Pun demikian dengan “Laa” yang lain,

tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.



Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan 

“diam/hati-hati”?

👉Karena ini bimbingan Allah.

Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak,  sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.



Dan perkataan 'jangan' juga

➕positif,

➖tidak negatif.



Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.



Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?



Tidak ada!



Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya. 



Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.



Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.

Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.

Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.


Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.



Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. 



Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,



Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata



“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.



Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi



“mereka memang begitu, yang  penting saya tidak melakukannya”.



Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.



Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.



Simpan saja AL-Qur’an di lemari  paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.



Astagfirulloh…

Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..



Aamiin……



Mari kita renungkan bersama.





(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan  Budi Azhari)Untuk para orang tua & pendidik harap disimak dengan saksama!



Kekeliruan Buku Pendidikan:



(1). Mengharomkan kata 'jangan'


Dengan kata 'jangan', justru menjadikan anak paham hakikat mengendalikan diri.




Salah seorang pendidik pernah berkata,

”Pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh YAHUDI adalah 2 yaitu

🔴dunia psikologi dan

🔵dunia pendidikan



Karena itulah, berangkat dari hal ini.

Kita akan mengupas beberapa “KEKELIRUAN” pada buku-buku

👉pendidikan,

👉seminar,

👉teori pendidikan, dll.

yg kadang sudah menjangkiti bbrp para

👳pendidik muslim,

👪para ayah dan ibu.



Beberapa waktu lalu, saya sepakat dengan hal ini. Maka dengan tertulisnya artikel ini, ana bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari bahayanya doktrin di atas.



Mari kita lihat, beberapa perkataan2

‘DALAM PENDIDIKAN’ tentang larangan mengucapkan kata 'jangan' pd anak,



1. Diantaranya Ayah Edy,

dia mengatakan pada buku ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30,



“..gunakan kata-kata preventif, seperti

🔄hati-hati,

🚫berhenti,

❌diam di tempat, atau

⛔stop.

Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'…”



2. Pada media online, detik.com, 

pernah menulis judul artikel :



‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau 'jangan', bertuliskan demikian,



“…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata 'jangan' atau tidak…”



3. Pada sebuah artikel lain, berjudul,

“Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata 'jangan' tertulis,



“Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif & larangan dari kita sbg orang tua,

maka dari itu coba utk mengganti dg kata yang lebih positif dan berikan alasan 

yang dapat diterima anak…”



Nah,inilah keraguan. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung “bahaya yang kronis”.



Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya,kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits?



Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata "Laa ('jangan')”?



Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata 'jangan'.



Allohu Akbar, banyak sekali!



Mau dikemanakan kebenaran ini ?

Apa mau dibuang ?

Dan diadopsi dari teori dhoif ?



Kalau mereka mengatakan kata JANGAN bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya,
apakah Anda mengenal Luqman AL-Hakim ?



Surah Luqman ayat 12 sampai 19.

👉Kisah ini dibuka dg penekanan Allah bahwa Luqman itu org yg diberi hikmah,

👉orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)



Apa bunyi ayat yg kemudian muncul?



Ayat 13 lebih TEGAS menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya,



“Wahai anakku,

🙅JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.



Inilah bentuk tindakan preventif 

yang divaliditas dalam al-Qur’an.



Sampai pada ayat 19,

ada 4 kata “laa” (Jangan) yg dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu

🙅“laa tusyrik billah”,

🙅“fa laa tuthi’humaa”,

🙅“Wa laa tusho’ir

khoddaka linnaasi”, dan

🙅“wa laa tamsyi fil ardli maraha”.



Luqman tidak perlu mengganti kata “Jangan menyekutukan Alloh” dengan (misalnya) “Esakanlah Alloh”.



Pun demikian dengan “Laa” yang lain,

tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.



Mengapa Luqmanul Hakim tidak mengganti 'jangan' dengan 

“diam/hati-hati”?

👉Karena ini bimbingan Allah.

Perkataan 'jangan' itu mudah dicerna oleh anak,  sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya.



Dan perkataan 'jangan' juga

➕positif,

➖tidak negatif.



Ini semua bimbingan dari Alloh subhaanahu wa ta’aala, bukan teori pendidikan Yahudi.



Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman ?



Tidak ada!



Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allaah dlm Kitab suci krn ketinggian ilmunya. 



Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.



Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak hanya DIMANJA oleh pilihan yang serba benar.

Membuang kata 'jangan' justru menjadikan anak tidak paham hakikat mengendalikan diri.

Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Allaah, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.


Nas alulloha salaman wal ‘afiyah.



Anak-anak hasil didikan tanpa 'jangan' berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. 



Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran,



Tidak perhatian lagi dg “amar ma’ruf nahi mungkar”, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yg dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata



“Itu pilihan mrk, saya tidak demikian”.



Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi



“mereka memang begitu, yang  penting saya tidak melakukannya”.



Itulah sebenar-benar paham liberal, yg ‘humanis’, toleran & menghargai pilihan2.



Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.



Simpan saja AL-Qur’an di lemari  paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.



Astagfirulloh…

Semoga Alloh subhanallohu wa ta’aala memberi taufik kepada kita semua…..



Aamiin……



Mari kita renungkan bersama.





(Sumber: Ikhtisar dari ceramah ustadz Faudhil Adzim, Abah Ihsan, dan  Budi Azhari)
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me