Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Kertas Bekas Diolah, Bahasa Indonesia Dipuja

Dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan di tingkat sekolah menengah, bisa jadi bahasa Indonesia merupakan salah satu bidang studi yang kurang diminati siswa. Bukan persoalan bidangnya yang membuat sebagian murid tidak tertarik, tetapi metode pembelajarannya yang sering kali dirasa membosankan. Selama ini, siswa hanya disuguhi materi pelajaran dari buku cetak, kemudian mesti menghapalnya dan diminta mengerjakan tugas-tugas. Joko Pramono, guru di SMA Negeri 1 Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengakui seperti di sekolah-sekolah lainnya, siswasiswi di sekolahnya pun banyak yang tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia. Sebagai guru bidang studi bahasa Indonesia, Joko merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilan para siswa dalam menangkap materi pelajaran bahasa Indonesia. Dia pun berharap bahasa Indonesia bisa menjadi bidang studi yang menarik untuk dipelajari anak-anak didiknya. Berbekal harapan itulah, Joko mencoba mengembangkan metode pembelajaran bahasa Indonesia yang lain dari biasanya. Dalam mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia kepada anak-anak didiknya, Joko menggunakan media koran bekas. Alasannya, dia ingin ada media pembelajaran lain di luar buku teks yang dapat menarik minat siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Dari pemikiran itu, Joko pun memanfaatkan tumpukan koran bekas yang ada di perpustakaan sekolah dan ruangan guru. “Selama ini koran-koran tersebut hanya dikliping dan sisanya ditumpuk begitu saja,” ujarnya. Lebih jauh, Joko menuturkan dirinya ingin mengajak siswa menghargai koran bekas. Media itu hendaknya tidak hanya dibuang dan kemudian dibakar, namun juga mesti bisa diambil manfaatnya dengan cara mencari informasi yang terdapat di dalamnya yang bisa dipelajari siswa. Melalui koran-koran bekas itu, dia mengembangkan tiga jenis metode pembelajaran, yakni klipkording, korsob, dan korpelbu. klipkording yang merupakan akronim dari kliping koran dinding berbentuk menyerupai majalah dinding (mading) yang umum ada di sekolah-sekolah. Berbagai macam rubrik koran, seperti berita, surat pembaca, opini, editorial, hingga iklan, lengkap dengan tanggal terbit koran, mengisi klipkording tersebut. Joko kemudian membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi pertanyaan dan mesti mengisi jawabannya di lembar UKS yang telah tersedia. Untuk mendapatkan jawaban yang tepat, para siswa harus mencarinya di klipkording tersebut. Joko mengatakan pertanyaan yang diberikan cukup beragam, semisal mengenai jumlah teroris yang tertangkap oleh pasukan Densus 88. Pertanyaan lainnya berkisar penulisan gramatika atau tata bahasa yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD). Murid diminta mencari kalimat yang sesuai dengan kaidah EYD maupun kalimat yang tidak sesuai EYD. “Contohnya, judul berita ‘Polisi Buru Teroris’ merupakan kalimat yang tidak sesuai EYD. Seharusnya yang benar adalah ‘Polisi Memburu Teroris’. Namun, kalimat yang tidak sesuai EYD itu kerap muncul di koran mengingat keterbatasan space,” kata Joko. Mirip Kuis Lebih lanjut, Joko memaparkan metode klipkording itu mirip kuis dan mengaktifkan siswa secara fisik karena mereka mesti berlari ke depan kelas dan mencatat langsung di depan papan tulis. Metode itu juga melatih kerja sama antarsiswa karena masing- masing siswa mengemban tugas berbeda. Ada siswa yang mencatat, ada pula siswa yang bertugas membaca.

Metode kedua yang diajarkan Joko ialah korsob atau koran sobek. Menurut Joko, pengembangan metode itu terinspirasi dari banyaknya koran yang dijadikan bungkus makanan yang dibuang begitu saja. Dia mewajibkan siswa membawa koran-koran bekas itu, lalu menceritakan isi berita yang ada di dalamnya. Dengan cara itu, Joko berharap minat membaca para siswa akan tumbuh, dan mereka pun lebih rajin membaca. Selain klipkording dan korsob, Joko mengembangkan metode korpelbu atau koran yang ditempel di sebuah buku tulis. Siswa diberi tugas menggunting rubrik di koran, lalu menempelkannya di buku hingga halaman terakhir buku tulis. Sebagai contoh, iklan lowongan kerja ditempelkan di dalam buku. Para siswa kemudian diminta untuk membuat lamaran sesuai dengan kriteria dan posisi yang tertulis di dalam iklan tersebut. Tidak hanya itu, Joko juga membiasakan murid-muridnya membaca rubrik opini. Setelah membaca rubrik itu, siswa diberi tugas mencari ide pokok dari opini tersebut secara cepat. Joko menyatakan tugas itu bertujuan menguji pemahaman siswa mengenai isi rubrik. Sementara itu, dengan menempelkan rubrik-rubrik tersebut di buku, para siswa akan terbiasa bekerja dengan rapi dan terorganisasi. Tugas itu merupakan tugas kokurikuler selama satu bulan. Menurut Joko, metode pembelajaran dengan menggunakan koran itu mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia. Meski demikian, dia mengaku, bukan berarti para siswa lancar-lancar saja dalam mempelajari bahasa Indonesia. Tidak jarang mereka tidak mengerti istilah asing atau bahasa gaul yang kerap tertulis di media cetak tersebut. Untuk mengatasi kesulitan itu, Joko meminta siswa membuat daftar kata-kata yang sulit dan mencari artinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Siswa dituntut untuk mengidentifikasi kata-kata sulit, lalu mencari arti kata tersebut dan membuat daftar sehingga menjadi kamus kecil atau glosarium,” ujar dia.

Metode pembelajaran bahasa Indonesia melalui koran bekas itu telah diterapkan Joko sejak 10 tahun yang lalu. Menurut dia, metode itu tidak hanya membuat siswa lebih tertarik mempelajari bahasa Indonesia, tetapi juga membantu pemahaman mereka terhadap bidang studi yang satu itu. Hal itu berdampak pada meningkatnya nilai akademik siswa. Saat ini, para siswa yang mendapatkan pelajaran dengan metode yang dikembangkan Joko berhasil meraih nilai bahasa Indonesia di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM bahasa Indonesia yang ditetapkan ialah 50, sementara rata-rata nilai siswa di SMAN 1, Kopang, mencapai 65. Melalui metode yang dikembangkannya itu, Joko berhasil meraih juara keempat dalam Lomba Karya Ilmiah Guru yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). wan/L-2
Share:

Kecantikan Sejati

Kecantikan sesungguhnya
"Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak-
balik sedikit hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Dengan kata lain, ikhlas, Nak."

 --Tere Liye, novel "Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah"
Share:

Kunci Sukses Mendidik Anak (1)

Salah satu penyebab utama kegagalan pendidikan anak adalah minimnya pengetahuan orang tua atau pendidik tentang karakteristik kejiwaan anak. Ibarat seorang dokter, orang tua dan pendidik kurang mampu mendiagnosis penyakit pasiennya, sehingga proses pengobatan yang ia lakukan menjadi tidak terarah da nasal-asalan.  Pendidikan yang tidak terarah sangat membahayakan perkembangan jiwa anak. Anka akan tumbuh dalam kondisi kejiwaan yang tidak utuh, seperti gampang putus asa, minder, penakut, pemarah dan lain sebagainya. Untuk itu, pengertahuan dan pemahaman tentang jiwa anak-anak (ma’rifatul aulad) menjadi modal dasar bagi kesuksesan mendidik anak. Ma’rifatul aulad menjadi landasan gerak bagi proses pendidikan anak.

SIFAT-SIFAT KHAS ANAK

Syaikh Muhammad Sa’id Mursi di dalam bukunya fan tarbiyatil Aulad fil Islam menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak. Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi, gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu Bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitive (peka).

Diantara semua sifat –sifat khas yang dimiliki oleh anak-anak di atas  dan paling menonjol adalah,

•   BANYAK BERGERAK, GEMAR BERMAIN DAN BERSUKA .

Inilah sifat motorik anak yang khas. Anak – terutama di bawah usia 8 tahun – selalu banyak bergerak, tidak bisa diam untuk waktu yang lama, gemar bermain dan selalu bersuka ria. Ini adalah sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka akan dipastika ia memiliki ‘kelainan’ secara kejiwaan. Orang tua dan pendidik yang paham dengan sifat anak ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak, dengan tetap memberikan kontrol yang  intens. Namun orang tua dan pendidik yang tidak memahami sifat anak ini, akan cenderung emosional dan suka memarahi anak. Dan ini merupakan sebuah bentuk ‘penindasan’ naluri fitriah anak.
Banyak bergerak akan menambah kecerdasan dan pengalaman anak setelah dewasa.

•  SELALU INGIN MENIRU.

Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya dan gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Mka, salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik (syakhshiyyatul murabbi). Orang tua dan guru tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu, wahai para orang tua dan guru, jika Egkau ingin memperbaiki akhlak anak, maka ibda’ min nafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Perbaikilah dulu akhlak Engkau, niscaya akhlak anak pun akan ikut baik. Sebuah Syair yang cukup menggelitik mengatakan:

"Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah dari penyimpangan
JIka itu engkau lakukan maka engkau termasuk orang yang bijak
Kala itu nasihatmu akan diterima
Ilmumu  akan diikuti dan pengajaranmu akan berguna."

•  MEMILIKI  DAYA INGAT YANG SANGAT KUAT.

Memori anak kecil itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam permasalahan. Oleh sebab itulah, anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Inilah yang dimaksud dengan daya ingat yang sangat kuat. Umur anak-anak merupakan ‘umur emas’ (‘umrun dzahabiyyun), yang ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang amat kuat. Maka, kita bisa menyalurkan daya ingat anak yang kuat itu untuk banyak menghafal Al-Quran, hadits, doa-doa dan dzikir. Dan apa yang sudah tersimpan dalam ingatan anak akan sulit terlupakan. Sehingga, dalam catatan sejarah, kita banyak mendapatkan para ulama yang telah hafal Al-Quran sebelum ia berumur 10 tahun. Orang tua dan guru yang cerdas akan berusaha memenuhi memori anaknya sejak kecil dengan hafalan Al-Quran, hadist, doa-doa. Dan itu akan berpengaruh sangat positif bagi kepribadian anak ketika menginjak dewasa. Memenuhi anak dengan sinetron-sinetron cinta, lagu-lagu dan tayangan-tanyangan televise yang tidak mendidik serta hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebuah kebodohan nyata yang banyak dilakukan oleh para orang tua dan guru. Mereka telah melakukan sebuah ‘pembunuhan moral’ dan ‘perusakan kepribadian’ satu generasi. Dan ini merupakan sebuah kedzaliman yang besar.

•  SENANG DIMOTIVASI ATAU DIPUJI.

Inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua dan guru. Yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbarui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi secara proporsional.
Salah satu hal yang efektif dan perlu diperhatikan orang tua dan guru dalam memberikan motivasi kepada anak adalah mengaitkan motivasi itu dengan pahala akhirat. Misalnya kita mengatakan kepada si anak, “Allah akan meridhai orang yang gemar membaca Al-Quran, pahala setiap hurufnya berlipat menjadi 10 kebaikan”, “Shalat yang kita lakukan di masjid pahalanya adalah 27 kali lipat dari shalat yang dilakukan sendirian di rumah”. Atau bisa juga kita kaitkan dengan apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak pergi berolahraga, kita katakan kepadanya, “Kamu akan menjadi orang yang kuat seperti Umar bin Khathab, sehingga orang-orang kafir takut kepadanya.” Motivasi atau dorongan yang dikaitkan dengan masalah agama dan akhirat lebih kuat dan mengakar dan mengendap pada jiwa anak. Dan hal tersebut sangat efektif untuk menumbuhkan kesadaran anak untuk melakukan kebaikan.

Wa Allahu A’lam Bisshawab

Bersambung…
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me