Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

Kertas Bekas Diolah, Bahasa Indonesia Dipuja

Dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan di tingkat sekolah menengah, bisa jadi bahasa Indonesia merupakan salah satu bidang studi yang kurang diminati siswa. Bukan persoalan bidangnya yang membuat sebagian murid tidak tertarik, tetapi metode pembelajarannya yang sering kali dirasa membosankan. Selama ini, siswa hanya disuguhi materi pelajaran dari buku cetak, kemudian mesti menghapalnya dan diminta mengerjakan tugas-tugas. Joko Pramono, guru di SMA Negeri 1 Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengakui seperti di sekolah-sekolah lainnya, siswasiswi di sekolahnya pun banyak yang tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia. Sebagai guru bidang studi bahasa Indonesia, Joko merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilan para siswa dalam menangkap materi pelajaran bahasa Indonesia. Dia pun berharap bahasa Indonesia bisa menjadi bidang studi yang menarik untuk dipelajari anak-anak didiknya. Berbekal harapan itulah, Joko mencoba mengembangkan metode pembelajaran bahasa Indonesia yang lain dari biasanya. Dalam mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia kepada anak-anak didiknya, Joko menggunakan media koran bekas. Alasannya, dia ingin ada media pembelajaran lain di luar buku teks yang dapat menarik minat siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Dari pemikiran itu, Joko pun memanfaatkan tumpukan koran bekas yang ada di perpustakaan sekolah dan ruangan guru. “Selama ini koran-koran tersebut hanya dikliping dan sisanya ditumpuk begitu saja,” ujarnya. Lebih jauh, Joko menuturkan dirinya ingin mengajak siswa menghargai koran bekas. Media itu hendaknya tidak hanya dibuang dan kemudian dibakar, namun juga mesti bisa diambil manfaatnya dengan cara mencari informasi yang terdapat di dalamnya yang bisa dipelajari siswa. Melalui koran-koran bekas itu, dia mengembangkan tiga jenis metode pembelajaran, yakni klipkording, korsob, dan korpelbu. klipkording yang merupakan akronim dari kliping koran dinding berbentuk menyerupai majalah dinding (mading) yang umum ada di sekolah-sekolah. Berbagai macam rubrik koran, seperti berita, surat pembaca, opini, editorial, hingga iklan, lengkap dengan tanggal terbit koran, mengisi klipkording tersebut. Joko kemudian membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok diberi pertanyaan dan mesti mengisi jawabannya di lembar UKS yang telah tersedia. Untuk mendapatkan jawaban yang tepat, para siswa harus mencarinya di klipkording tersebut. Joko mengatakan pertanyaan yang diberikan cukup beragam, semisal mengenai jumlah teroris yang tertangkap oleh pasukan Densus 88. Pertanyaan lainnya berkisar penulisan gramatika atau tata bahasa yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD). Murid diminta mencari kalimat yang sesuai dengan kaidah EYD maupun kalimat yang tidak sesuai EYD. “Contohnya, judul berita ‘Polisi Buru Teroris’ merupakan kalimat yang tidak sesuai EYD. Seharusnya yang benar adalah ‘Polisi Memburu Teroris’. Namun, kalimat yang tidak sesuai EYD itu kerap muncul di koran mengingat keterbatasan space,” kata Joko. Mirip Kuis Lebih lanjut, Joko memaparkan metode klipkording itu mirip kuis dan mengaktifkan siswa secara fisik karena mereka mesti berlari ke depan kelas dan mencatat langsung di depan papan tulis. Metode itu juga melatih kerja sama antarsiswa karena masing- masing siswa mengemban tugas berbeda. Ada siswa yang mencatat, ada pula siswa yang bertugas membaca.

Metode kedua yang diajarkan Joko ialah korsob atau koran sobek. Menurut Joko, pengembangan metode itu terinspirasi dari banyaknya koran yang dijadikan bungkus makanan yang dibuang begitu saja. Dia mewajibkan siswa membawa koran-koran bekas itu, lalu menceritakan isi berita yang ada di dalamnya. Dengan cara itu, Joko berharap minat membaca para siswa akan tumbuh, dan mereka pun lebih rajin membaca. Selain klipkording dan korsob, Joko mengembangkan metode korpelbu atau koran yang ditempel di sebuah buku tulis. Siswa diberi tugas menggunting rubrik di koran, lalu menempelkannya di buku hingga halaman terakhir buku tulis. Sebagai contoh, iklan lowongan kerja ditempelkan di dalam buku. Para siswa kemudian diminta untuk membuat lamaran sesuai dengan kriteria dan posisi yang tertulis di dalam iklan tersebut. Tidak hanya itu, Joko juga membiasakan murid-muridnya membaca rubrik opini. Setelah membaca rubrik itu, siswa diberi tugas mencari ide pokok dari opini tersebut secara cepat. Joko menyatakan tugas itu bertujuan menguji pemahaman siswa mengenai isi rubrik. Sementara itu, dengan menempelkan rubrik-rubrik tersebut di buku, para siswa akan terbiasa bekerja dengan rapi dan terorganisasi. Tugas itu merupakan tugas kokurikuler selama satu bulan. Menurut Joko, metode pembelajaran dengan menggunakan koran itu mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia. Meski demikian, dia mengaku, bukan berarti para siswa lancar-lancar saja dalam mempelajari bahasa Indonesia. Tidak jarang mereka tidak mengerti istilah asing atau bahasa gaul yang kerap tertulis di media cetak tersebut. Untuk mengatasi kesulitan itu, Joko meminta siswa membuat daftar kata-kata yang sulit dan mencari artinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Siswa dituntut untuk mengidentifikasi kata-kata sulit, lalu mencari arti kata tersebut dan membuat daftar sehingga menjadi kamus kecil atau glosarium,” ujar dia.

Metode pembelajaran bahasa Indonesia melalui koran bekas itu telah diterapkan Joko sejak 10 tahun yang lalu. Menurut dia, metode itu tidak hanya membuat siswa lebih tertarik mempelajari bahasa Indonesia, tetapi juga membantu pemahaman mereka terhadap bidang studi yang satu itu. Hal itu berdampak pada meningkatnya nilai akademik siswa. Saat ini, para siswa yang mendapatkan pelajaran dengan metode yang dikembangkan Joko berhasil meraih nilai bahasa Indonesia di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM bahasa Indonesia yang ditetapkan ialah 50, sementara rata-rata nilai siswa di SMAN 1, Kopang, mencapai 65. Melalui metode yang dikembangkannya itu, Joko berhasil meraih juara keempat dalam Lomba Karya Ilmiah Guru yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). wan/L-2
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me