Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Remaja: Masa Pencarian Jati Diri, Benarkah?

 Masa remaja mampu berkontribusi untuk perubahan umat yang hakiki
Ada sebuah pernyataan, “Masa remaja adalah masa pencarian jati diri”. Sebagian orang mungkin setuju, mungkin ada pula yang tidak setuju. Namun kebanyakan orangtua menganggap bahwa fase remaja adalah masa mencari jati diri.  

Apa sebenarnya makna fase mencari jati diri? Fase ini adalah proses saat seseorang mencari karakter dasar dirinya. Biasanya ditandai dengan berbagai perubahan sikap. Baik sikap positif ataupun negatif.

Benarkah bahwa masa remaja adalah fase seseorang disibukkan dengan mencari jati dirinya? Dr. Khalid Asy-syantut, pakar pendidikan dari King Abdul Aziz University Jeddah, dalam bukunya Tarbiyatusy Syabab Al-Muslim lil Aba’ wad du’at menjelaskan bahwa "masa remaja adalah fase mencari jati diri” merupakan pernyataan yang keliru. Pernyataan yang selama ini diwariskan turun menurun. Sehingga masyarakat termakan opini bahwa masa remaja adalah masa kegilaan (madness). Ditandai dengan sikap pembangkangan, pemberontakan, ketegangan dan sulit diatur.

Opini ini diperkuat dengan pernyataan seorang ahli psikolog remaja pertama, yaitu Stanley Hall. Dia mengatakan bahwa, "Remaja adalah fase sulit diatur, keras dan kasar, diiringi krisis kejiwaan, dengan perasaan berat, frustasi, perang batin, resah, banyak masalah, dan sulit menurut, yang semuanya itu mendominasi emosi.”

Namun apa yang dikemukakan Stanley ini bukan kebenaran secara mutlak. Melainkan hasil penelitian yang dilakukan kepada anak remaja di Amerika. Sudah pasti kehidupan remaja Amerika jauh dari aturan Islam. Berbagai karakter negatif yang dikemukakan Stanley tersebut adalah karakter khas para remaja di Amerika. Maka masa remaja sebagai fase mencari jati diri dengan berbagai perubahan sikap yang negatif sejatinya merupakan produk sistem kehidupan sosial yang terjadi pada remaja Amerika. Bukanlah fenomena alamiah yang dialami umat manusia.   

Lain yang dikemukakan Stanley, lain pula pernyataan yang dikemukakan oleh Margaret Mead. Seorang antropolog yang melakukan penelitian di masyarakat tradisonal. Margaret mengatakan bahwa “Remaja adalah fase perkembangan biasa, selama berjalan secara normal dan tidak menghadapi berbagai krisis.”

Dari kedua peneliti di atas, dapat ditarik pelajaran bahwa, orangtua hendaknya berpikir cerdas dan tidak termakan opini yang salah tentang remaja. Sebab opini yang salah dapat berpengaruh pada persepsi orangtua dalam mendidik dan mendampingi tumbuh kembang mereka. Akibatnya orang tua akan memandang wajar setiap perilaku negatif yang dilakukan mereka di masa remaja dengan dalih “proses mencari jati diri”.

Lantas seperti apa Islam memandang masa remaja?

Sama halnya dengan pernyataan Margaret Mead, Islam memandang bahwa masa remaja adalah fase normal biasa. Justru sejatinya fase remaja itu tidak ada. Yang ada adalah perubahan dari fase anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan proses aqil baligh. Di fase ini, mereka memiliki banyak potensi besar. Energi, semangat, waktu dan kreativitas untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat.

Jadi sejatinya masa remaja bukanlah masa mencari jati diri melainkan masa berkontribusi untuk perubahan umat yang hakiki. Maka tugas orangtua membantu mereka menjadi sosok pemuda revolusioner dambaan umat. Pemuda yang dapat mengubah peradaban kufur menjadi peradabn yang bermarbat dengan Islam.
Share:

Bersabar Dalam Ketaatan


Sabar adalah kunci dalam menempuh jalan ketaatan.(-nh-)
Merupakan suatu kebahagiaan bagi seorang Muslim ketika Allah membimbingnya berhijrah dari kegelapan menuju cahaya Islam, menapaki hari dengan kataatan. 

Namun menempuh jalan taat bukanlah perkara yang mudah. Akan banyak rintangan menghadang. Semua itu karena Allah ingin menguji seberapa kuat ketaatan hamba-Nya. 

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."  [Surah Al-Ankabut : 2-3].

Melaksanakan ketaatan, memilih dan menetapi kebenaran adalah perkara yang tidak ringan karena pada umumnya dibenci oleh hawa nafsu. Oleh karena itu, butuh kesabaran dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Tak jarang orang yang telah taat kemudian kembali kepada maksiat hanya karna kurang sabar dalam menghadapi ujian yang Allah berikan. 

Meskipun berat menjalani ketaatan, namun haruslah tetap dilakukan agar kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung.

Allah Taala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (QS. Ali Imran: 200).

Ujian bisa datang dari lingkungan, keluarga, kondisi ekonomi, dan lain sebagainya. Mungkin yang akan kita hadapi adalah banyaknya hujatan yang ditujukan kepada kita yang sedang belajar untuk taat secara total kepada aturan Allah, karena menjaga ketaatan dalam kondisi lingkungan sekuler adalah hal yang asing. Tapi berbanggalah kita dipilih Allah untuk menjadi orang-orang terasing. "Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing." (HR. Muslim no. 145).

Ada pula yang diuji dengan ekonomi keluarga yang merosot karena baru meninggalkan riba dan cara-cara yang tidak diberkahi Allah.

Maka apapun ujian yang Allah berikan, bersabarlah dengan ketaatan yang telah kita pilih. 

Ingatlah perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam mendakwahkan Islam, semata-mata karna ketaatannya kepada Allah. Rasulullah adalah suri tauladan terbaik dalam bersikap sabar, tabah, dan beliau adalah pemimpin dari orang-orang yang bersabar dan bersyukur. Beliau tetap sabar meskipun menghadapi berbagai macam tekanan dari orang-orang jahiliyah yang pada saat itu menolak dakwahnya. Juga dengan kesabaran para sahabat ketika ditekan untuk kembali kepada agama nenek moyang dan meninggalkan agama yang mulia ini. Tapi mereka memilih untuk bersabar demi mempertahan kemuliaan Islam, hingga akhirnya Islam bisa sampai kepada kita. 

Teruslah melangkah di bawah cahaya Islam dan ingatlah sabda Rasulullah, 

"Sesungguhnya tidaklah Engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti)  yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad no. 20739.)

Semoga kita tetap istiqomah dalam kesabaran seperti Rasulullah dan para sahabat dalam menjalani ketaatan.

Wallahua'lam
Share:

Sunnah: Bagaimana Ucapan Idul Fitri?


Oleh : *Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A*.



Sehubungan dengan akan datangnya *Idul Fitri*, sering kita dengar tersebar ucap

Taqobbalallahu minna wa minkum

 an: 

*"MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”*



Seolah-olah saat *Idul Fitri* hanya khusus untuk minta maaf.



Sungguh sebuah kekeliruan, karena *Idul Fitri* bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. 



Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari *Idul Fitri...*



Demikian _*Rasulullah shallallahu alaihi wasallam*_ mengajarkan kita.



Tidak ada satu ayat _*Qur'an*_ ataupun suatu _*Hadits*_ yang menunjukan keharusan mengucapkan *“Mohon Maaf Lahir dan Batin”* disaat-saat *Idul Fitri.*



Satu lagi, saat *Idul Fitri,* yakni mengucapan :

*"MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN".*



Arti dari ucapan tersebut adalah :

*"Kita kembali dan meraih kemenangan”*



*KITA MAU KEMBALI KEMANA?*

Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? 



Meraih kemenangan? 

Kemenangan apa? 



Apakah kita menang melawan bulan *Ramadhan* sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 



Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan

*“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”*



Lantas diikuti dengan kalimat,

*“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”*.



Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. 



Ini sungguh *KELIRU* luar biasa...



Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di *Pakistan, Turki, Saudi Arabia* atau negara-negara lain....



*PASTI PADA BINGUNG....*



Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita *HINDARI.*



Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat _*Rasulullah shallallahu alaihi wasallam*_ , yaitu :



*"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM"*

(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).



Jadi lebih baik, ucapan di SMS /BBM / WA,, kita :



*"Selamat Idul Fitri.*

*Taqobbalallahu minna wa minkum "*

*Barakallahu Fiikum*



Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Karena kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya *Allah* lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba *NYA* yg *IA* kehendaki [
}



Semoga bermanfaat...


Share:

Hasil Training Ramadan

Allah subhaanhu wa ta'ala mewajibkan orang mukmin berpuasa agar menjadi orang bertaqwa. Kita ditraining selama sebulan dengan berpuasa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajib
kan atas orang-orang yang berpuasa diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu-agar kamu bertaqwa.

Allah subhaanhu wa ta'ala menjelaskan sifat orang  bertaqwa yang akan mendapat ampunan dan surga yang seluas langit dan bumi :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ(136)

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.

(yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,

dan orang-orang yang menahan amarahnya

dan memaafkan (kesalahan) orang.

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

"Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal."

(Qs.Ali Imran :133-136)

Semoga training puasa ramadan kita berhasil menjadikan kita hamba Allah yang bertaqwa. Aamiin.
Share:

Dipersaudarakan oleh Allah



Ukhuwah  islamiyah adalah persaudaraan atas dasar keislaman. Dua orang yang aslinya tidak bersaudara, dipersaudarakan oleh Allah karena keislaman. Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Ayat ini diawali dengan kata “Innama”. Dalam bahasa Arab, innama merupakan adatul hasyr. Yaitu alat yang digunakan untuk membatasi sesuatu, bahwa ia “Tak lain dan tak bukan”. Maka kalimat “innamal mu’minuna ikhwatun” mengandung makna bahwa, orang-orang yang beriman itu, tak lain dan tak bukan, hakekatnya adalah bersaudara.

Oleh karena itu, setiap muslim siapa pun dia, dimana pun ia tinggal, apapun mazhab yang dianutnya, mereka adalah saudara kita. Setiap muslim, tak peduli apakah ia bersikap baik kepada kita atau bahkan menyakiti kita, mereka tetap saudara kita. Yang wajib bagi kita untuk menjaga hubungan baik dengan mereka dan wajib bagi kita untuk mendamaikan, seandainya diantara mereka terdapat perselisihan. Maafkan, do’akan dan bersikap baiklah kepada setiap muslim. Karena Allah telah mempersaudarakan kita dengan mereka. 

Lalu Allah melanjutkan ayat tersebut dengan perintah bertaqwa, niscaya  Allah akan mendatangkan kasih sayang (rahmat) kepada kita. Kalimat ini mengisyaratkan agar kita ridlo, menerima persaudaraan dengan sesama kaum muslimin, seburuk apa pun sikap mereka kepada kita. Dan Allah tahu bersikap semacam ini sulit, kecuali bagi orang yang bertaqwa; yaitu orang yang tidak pernah membantah Allah. Oleh karenanya, Allah memerintahkan kita bertaqwa. Lalu sebagai buah dari ketaatan tersebut, Allah menjanjikan “turhamun” diberi kasih sayang (rahmat) oleh Allah. 

Dengan bersandar pada ayat ini, seorang muslim tidak boleh memperlakukan sesama muslim perlakuan “mu’amalah bi mitsli”; Bila engkau berlaku baik, maka aku pun akan berlaku baik, tapi bila engkau berlaku buruk, maka aku pun akan berlaku buruk. Tidak boleh, ada jalinan hubungan semacam ini. Yang  ada haruslah “Apa pun sikapmu terhadapku, engkau tetap saudaraku.” Inilah ukhuwah islamiyah, yang dengannya Allah menjamin pasti menurunkan rasa kasih sayang diantara sesama muslim, sebagaimana dalam surat al Hujurat ayat 10.

Share:

PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH FUTUR

Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat.

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan.

Orang yang terkena penyakit futur ini berada pada tiga golongan, yaitu:
Menimba ilmu adalah aktivitas kebaikan.

1). Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak sekali.

2). Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.

3). Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit. [1]

Futur memiliki banyak dan bermacam-macam sebab. Apabila seorang muslim selamat dari sebagiannya, maka sedikit sekali kemungkinan selamat dari yang lainnya. Sebab-sebab ini sebagiannya ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.

Di antara sebab-sebab itu adalah.

1). Hilangnya keikhlasan.
2). Lemahnya ilmu syar’i.
3). Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat.
4). Fitnah (cobaan) berupa isteri dan anak.
5). Hidup di tengah masyarakat yang rusak.
6). Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
7). Melakukan dosa dan maksiyat serta memakan yang haram.
8). Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah).
9). Lemahnya iman.
10). Menyendiri (tidak mau berjama’ah).
11). Lemahnya pendidikan. [2]

Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia pun menurunkan obatnya. Akan mengetahuinya orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahuinya orang-orang yang enggan mengetahuinya.

*Di antara obat penyakit futur adalah*

1). Memperbaharui keimanan.
Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjama’ah, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat Tahajjud dan Witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.
2). Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya.
3). Ikhlas dan takwa.
4). Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiyat).
5). Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syar’iyyah.
6). Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
7). Mencari teman yang baik (shalih).
8). Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap suul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).
9). Sabar dan belajar untuk sabar.
10). Berdo’a dan memohon pertologan Allah. [3]

PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH PUTUS ASA DALAM MENUNTUT ILMU DAN WASPADA TERHADAP BOSAN

Sebab, bosan adalah penyakit yang mematikan, membunuh cita-cita seseorang sebesar sifat bosan yang ada pada dirinya. Setiap kali orang itu menyerah terhadap kebosanan, maka ilmunya akan semakin berkurang. Terkadang sebagian kita berkata dengan tingkah lakunya, bahkan dengan lisannya, “Saya telah pergi ke banyak majelis ilmu, namun saya tidak bisa mengambil manfaat kecuali sedikit.”

Ingatlah wahai saudaraku, kehadiran Anda dalam majelis ilmu cukup membuat Anda mendapatkan pahala. Bagaimana jika Anda mengumpulkan antara pahala dan manfaat? Oleh karena itu, janganlah putus asa. Ketahuilah, ada beberapa orang yang jika saya ceritakan kisah mereka, maka Anda akan terheran-heran. Di antaranya, pengarang kitab Dzail Thabaqaat al-Hanabilah. Ketika menulis biografi, ia menyebutkan banyak cerita unik beberapa orang ketika mereka menuntut ilmu.

‘Abdurrahman bin an-Nafis -salah seorang ulama madzhab Hanbali- dulunya adalah seorang penyanyi. Ia mempunyai suara yang bagus, lalu ia bertaubat dari kemunkaran ini. Ia pun menuntut ilmu dan ia menghafal kitab al-Haraqi, salah satu kitab madzhab Hanbali yang terkenal. Lihatlah bagaimana keadaannya semula. Ketika ia jujur dalam taubatnya, apa yang ia dapatkan?

Demikian pula dengan ‘Abdullah bin Abil Hasan al-Jubba’i. Dahulunya ia seorang Nashrani. Kelurganya juga Nashrani bahkan ayahnya pendeta orang-orang Nashrani sangat mengagungkan mereka. Akhirnya ia masuk Islam, menghafal Al-Qur-an dan menuntut ilmu. Sebagian orang yang sempat melihatnya berkata, “Ia mempunyai pengaruh dan kemuliaan di kota Baghdad.”

Demikian juga dengan Nashiruddin Ahmad bin ‘Abdis Salam. Dahulu ia adalah seorang penyamun (perampok). Ia menceritakan tentang kisah taubatnya dirinya: Suatu hari ketika tengah menghadang orang yang lewat, ia duduk di bawah pohon kurma atau di bawah pagar kurma. Lalu melihat burung berpindah dari pohon kurma dengan teratur. Ia merasa heran lalu memanjat ke salah satu pohon kurma itu. Ia melihat ular yang sudah buta dan burung tersebut melemparkan makanan untuknya. Ia merasa heran dengan apa yang dilihat, lalu ia pun taubat dari dosanya. Kemudian ia menuntut ilmu dan banyak mendengar dari para ulama. Banyak juga dari mereka yang mendengar pelajarannya.

Inilah sosok-sosok yang dahulunya adalah seorang penyamun, penyanyi dan ada pula yang Nashrani. Walau demikian, mereka menjadi pemuka ulama, sosok mereka diacungi jempol dan amal mereka disebut-sebut setelah mereka meninggal.

Jangan putus asa, berusahalah dengan sungguh-sungguh, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Walaupun Anda pada hari ini belum mendapatkan ilmu, maka curahkanlah terus usahamu di hari kedua, ketiga, keempat,…. setahun, dua tahun, dan seterusnya…[4]

Seorang penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru dalam meraih ilmu syar’i. Menuntut ilmu syar’i tidak bisa kilat atau dikursuskan dalam waktu singkat. Harus diingat, bahwa perjalanan dalam menuntut ilmu adalah panjang dan lama, oleh karena itu wajib sabar dan selalu memohon pertolongan kepada Allah agar tetap istiqamah dalam kebenaran.

__________
Foote Notes
[1]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj (hal. 22).
[2]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj (hal. 43-71).
[3]. Ibid (hal. 88-119) dengan diringkas.
[4]. Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi (hal. 278-279
Share:

BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Belajar Sepanjang Hayat
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me