Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Saat Diberi Ucapan Selamat Ulang Tahun

  1. Jika kita mendapat ucapan selamat ulang tahun, tidak perlu direspon atau dijawab. Jika harus disetujui pun, ya Ucapkan saja terima kasih. 

  2. Jika kita didoakan, semisal semoga semakin berkah usianya , semoga semakin shalihah, dst… Maka aminkan doanya. 
  3. Jika kita menerima hadiah ulang tahun, maka tolaklah secara halus dan katakan: mohon maaf saya tidak setuju ulang tahun .. 
  4. Jika dia memberi hadiah dan khawatir dia tersinggung jika menolaknya, maka terima hadiahnya dan ucapkan terima kasih. 
  5. Ucapkan padanya : Tahâdû tahâbû (salinglah memberi hadiah niscaya kalian saling mencintai).
  6. Jika kita ditraktir makan, maka terima traktirannya dan sampaikan padanya: tidak ada ucapan selamat ulang tahun atau yang semisal. 
  7. Jika kita suka orang tua kita untuk mentraktir kawan² kita sebagai rasa syukur lalu mereka memberi kita uang, maka silakan gunakan uang ini itu mentraktir mereka atau selainnya. Semoga bisa menjadi sedekah. Tapi ingat, jangan diniatkan untuk ulang tahun dan sampaikan ke kawan yang ditraktir, maka ini adalah traktiran bukan karena ulang tahun.
  8. Jika banyak yang komplain dan protes, kamu kok ekstrem banget sih beragama. Masak ulang tahun aja ga boleh… 
            ❗ Maka sampaikan aku Muslim, aku terima agamaku, aku juga cinta Nabîku. Orang lain: man                 tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum ("Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia                 termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar).

            ❗ Aku tidak mau diserupakan dengan kaum selain Islam.

       9. Jika ada yang mengatakan: bukan untuk merayakan ultah, tapi bersyukur atas usia kita dengan                 acara syukuran dan berdoa, selamat milad, dan semisalnya. Masak nggak boleh?

            ❗ Maka katakanlah, aku bersyukur kepada Allâh setiap hari, dan hari² yang telah lalu tidak ada                 yang istimewa dan spesial kecuali Allâh sendiri atau Nabî yang mengistimewakan atau                         menspesialkan. 

            ❗ Hari kelahiranku tidak istimewa dan spesial, bahkan usiaku tidak semakin panjang, namun                 semakin pendek. Aku bersyukur kepada Allâh setiap waktu, jika aku disuruh memilih untuk                 berbagi seperti sedekah atau hadiah, maka aku cari hari yang diistimewakan oleh Nabîku, yaitu              pada hari Jumat, atau pada hari Arofah, atau pada 10 hari awal Dzulhijjah, atau hari² lain yang                 Allah istimewakan… 

❗ Jadi, tetap istiqomah, tidak perlu takut menjawab yang benar, tetap rendah hati, selalu                         melakukan yang baik, santun dan sopan, insya Allah, yang berhubungan dengan kita adalah                     orang-orang yang baik dan sholeh/sholehah, serta keberkahan lainnya…

Hanya Allah yang menberi Taufik




Share:

Nikmatnya Digibahin: 3 Cara Menikmatinya

Hasil gambar untuk pahala gibahMasing-masing kita pernah menjadi korban gunjingan, atau malah menjadi penggunjing. Kali ini saya fokus bagaimana menyikapi gunjingan, Jadi gak perlu ngambek atau mutung dan ngamuk-ngamuk, pakai saja cara orang-orang cerdas nan shalih sebelum kita. Jika kita luput dari satu cara, semoga tidak luput dgn dua cara yang lain, Atau setidaknya bisa mempraktikkan satu di antara 3 cara berikut ini,

PERTAMA
"Selamat datang pahala, tanpa beramal apa-apa,  tanpa tenaga dan tak ada ujub dan riya'di sana." ini adalah jurus Imam Hasan al-Bashri menghadapi gunjingan.

KEDUA
"Jika apa yang dikatakannya benar (tentang keburukanku), semoga Allah mengampuniku, namun jika apa yg dikatakannya dusta, semoga Allah mengampuninya." Ini adalah jurus Imam asy-Sya'bi menyikapi tuduhan

KETIGA
Adalah Imam asy-Syafi'i ketika digunjing, beliau mengirimkan hadiah kepada penggunjing seraya berkata, "Anda telah hadiahkan kebaikan Anda kepada saya, dan ini adalah hadiah saya untuk Anda, tapi maafkan jika hadiah saya tidak setara dengan hadiah Anda."
Share:

Betapa Banyak Manusia yang Mendapatkan Hidayah Berpakaian, Tetapi Tidak Mendapatkan Hidayah Lisan

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata,

اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء

Hasil gambar untuk lisan keji pakaian baik“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)

Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara?

Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.

Yahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,

القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه

“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)

Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)

Hamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut.

Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ

“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)

Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, tetapi tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.

Oleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ

“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)

Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Share:

Wahai Santri... Jadilah 'Ember' yang Baik

Menjadi santri itu sungguh luar biasa karena merupakan anugerah Ilahi sehingga ia harus selalu rajin mengaji dan mau serta mampu melakukan berbagai aktifitas secara mandiri.

Sebagai salah-seorang yang tumbuh remaja sebagai santri dan kini berkhidmah untuk memberikan excellent service kepada para santri, kami punya pengalaman menarik bagimana membersamai mereka ketika sedang mengaji di masjid dan belajar di kelas sampai timbul fikiran membuat analogi ini yang diharapkan mudah difahami para santri bagaimana seharusnya sikap mereka ketika mengaji dan belajar. Jika berkenan silahkan gunakan juga tulisan ini untuk menasehati para santri yang antum sedang didik, semoga menjadi shadaqah jariyah bagi kita semuanya.

Jika para Kiai dan Ustadz/ah yang menyampaikan pencerahan berbagai ilmu pengetahuan dibaratkan hujan yang tercurah dari langit maka para santri laksana tempat yang akan menerima air tersebut. Tempat air tersebut bisa saja berupa kolam, bak, drum, ember, baskom, gelas dan lainnya sesuai kapasitas masing-masing. Kami ambil pertengahan yakni ember yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Juga, karena kata ember ini sudah sering dijadikan 'panggilan atau julukan' untuk menyifati orang tertentu.

Kami gunakan Piramida terbalik sebagai pola penulisan dengan harapan akan lebih membuat kesan dan perhatian hal mana yang harus paling dihindari bagi seorang santri ketika sedang belajar atau mengaji bersama Ustadz/ah atau Kiai.

Pertama, ketika air hujan turun dari langit dan ember yang ada dalam keadaan tengkurap (bagian terbuka menghadap ke bawah) maka tidak akan ada sedikitpun air yang masuk ke dalamnya. Inilah kondisi santri yang tidur ketika mengaji atau belajar di kelas. Sehebat dan sesemangat apapun Kiai dan Ustadz/ah mengajarkan ilmu pengetahuan yang penting kalau santrinya tidur maka tidak akan mendapatkan tambahan pengetahuan sama sekali. An Nâim Kal Mayyit, orang yang tidur itu seperti mayat.

Kedua, ketika air hujan turun ke bumi namun sementara embernya dalam posisi miring maka air yang masuk tidak akan penuh. Demikian juga santri yang melamun, menghayal dan tidak fokus menyimak pencerahan dari Kiai atau Ustadz/ah tidak akan memahaminya dengan kuat dan tepat.

Ketiga adalah ember bocor yang menerima air hujan, meskipun air masuk maka tidak akan tersisa karena keluar lagi semuanya. Inilah gambaran santri yang suka ngobroooool saja ketika Kiai atau Ustadz/ah menyampaikan pencerahan, walaupun ia mendengar tetapi dapat dipastikan tidak akan mengerti sama sekali.

Nah, ember yang terbaik adalah yang tidak bocor, tidak miring dan tidak tengkurap ketika turun air hujan sehingga akan terisi air dengan penuh.

Sikap santri yang dengan penuh khusyu', khudhu' dan tawadhu' ketika menyimak penjelasan Kiai atau Ustadz/ah merupakan bagian dari Shuhbatul Ustâdzi yakni 1 diantara 6 syarat memperoleh ilmu: Cerdas, Tamak terhadap Ilmu, Bersungguh-sungguh, Dana, Bergaul dengan guru, Waktu yang memadai.
Share:

Sifat Wajib Bagi Guru (1)

Wahai para Guru, apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri, mengapa Anda menjadi seorang Guru? Mengapa Anda memilih peran ini sebagai jalan hidup?  Mengakui hal ini dengan jujur dan terbuka, akan menentukan jati diri Anda, hubungan dan pendekatan yang Anda lakukan.  Dan ketika kita melihat ke sekitar, maka akan kita temukan spektrum guru sebagai berikut:
Pertama, ada guru yang melihat pendidikan sebagai satu-satunya pekerjaan yang tersedia baginya, bukan menjadi keinginan atau kepentingannya, melainkan hanya pekerjaan dimana ia akan mendapatkan gaji dan rezeki.

Seandainya ia bisa mencari pekerjaan lain dan memperoleh pemasukan yang lebih besar tanpa harus menanggung sulitnya pendidikan.

Kedua, guru yang mengeluh dan meratapi dirinya karena beban mengajar yang rumit dan kurangnya gaji, dibandingkan dengan rekan-rekan yang telah memilih pekerjaan selain pendidikan.  

Ketiga, guru yang perhatian utamanya pada penyelesaian bahan ajar yang diwajibkan pada murid dan tidak menghubungkannya dengan realitas, Aqidah, iman, akhlak dan menanamkannya pada perilaku dan pemahaman muridnya.

Dan ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di luar kelas meskipun itu kerusakan, bahkan ia tidak berfikir untuk menjelaskan kesalahannya kepada murid. Ia benar-benar terpisah dari realitas murid-muridnya, masyarakat dan juga bangsa.

Dan yang keempat, kelima, keenam yang memenuhi dunia pendidikan dengan citra negatif dan pengaruh buruk di berbagai institusi masyarakat. Untuk itu harus curahan upaya dan inovasi, motivasi dan keikhlasan untuk mengubah orang-orang seperti itu, karena demikianlah kondisi dan cara pandang mereka hari ini.

Lantas, sifat-sifat apa yang mesti dimiliki seorang guru agar sesuai dengan hadis Rasulullah SAW berikut?

«إنَّ اللهَ ومَلائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَواتِ والأرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ في حِجْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ على مُعَلِمِي النَّاسِ الخَيْرَ» (رواه الترمذي)

Artinya: “Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”. (HR. at-Turmudzi).  

Dan sifat apa yang mesti dimiliki penerus risalah para Nabi seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a:

«لا حَسَدَ إلاَّ في اثنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاه اللهُ مَالاً فسَلَّطَهُ عَلى هَلَكتِهِ في الحَقَّ ورَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقضِي بِها ويُعَلِمُّها».

Artinya: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Sifat yang paling utama adalah Takwa dan Ikhlas karena Allah.  Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya mencari ridlo Allah, bukan karena gaji, pujian dari atasannya, demi ketenaran, promosi jabatan ataupun yang lainnya.  Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة،ِ يَعْنِي رِيحَهَا»

Artinya: “Siapa pun yang mempelajari suatu ilmu yang difokuskan mengharap pada ridho Allah SWT, tetapi ia mempelajari ilmu hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi semata, maka ia tidak akan mencium wangi surga di akhirat nanti”.

Seorang guru harus meniatkan pengajaran pada muridnya untuk kebaikan umat dan Islam. Imam al-Nawawi mengatakan: "Wajib bagi guru untuk mencari ridlo Allah, dan tidak ditujukan untuk capaian duniawi. Mesti hadir dalam benaknya bahwa mendidik adalah ibadah, agar menjadi dorongan untuk memperbaiki niat, dan motivasi untuk menjaga dirinya dari kekhawatiran dan segala hal yang tidak disukainya, dan khawatir hilangnya keutamaan dan kebaikan yang besar". Hilangnya sifat takwa dan ikhlas akan memunculkan kemunafikan, kemalasan dan kelalaian.

Sehingga akan menghasilkan pemuda dengan tsaqofah yang dangkal dan aqidah yang lemah, tidak peka dan faham akan masalah umat, alih-alih menjadi pelopor dalam kebangkitan umat, yang ada justru menjadi beban.

Sudah difahami bahwa guru akan mendapat gaji setiap bulan baik apakah dia ikhlas atau pun tidak, karenanya keikhlasan dan ketakwaan pada Allah menjadi hantaman fatal dalam pendidikan.  Karenanya wajib bagi guru untuk terampil dalam materi pengajaran yang dipelajarinya, menarik dalam cara penyampaian ilmu kepada murid-muridnya.
Share:

Sifat Wajib Bagi Guru (2)

Termasuk sifat penting bagi guru adalah sabar, bijaksana, panjang pemikiran. Wajib bagi guru pendidik sebagai pencetak generasi untuk mengikuti metode dan aqidah Laa Ilaha illallah Muhammad ar Rasulullah agar menjadi sabar dan bijak sehingga ia dapat memikul tugas.

Dan untuk kesabaran dan kebijaksanaannya itu telah disediakan pahala besar disisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: 

 وَا للّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

"... Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 146)

Begitupun baginda Rasulullah SAW menyuruh bersabar, bahkan dalam situasi yang sulit. Panjang pemikiran dan keluasan hati adalah perkara penting terutama saat guru menyadari bahwa pahala dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang diletakkan di atas pundaknya.

Hendaknya guru menyadari bahwa setiap murid mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya masalah dan perhatian yang berbeda.

Dan guru adalah ayah dan pendidik bagi mereka yang mesti meluaskan hatinya untuk mereka, menyayangi dan mengasihi, lembut dan bersabar atas sulitnya mengajari mereka dan menjelaskan pemikiran kepada mereka dengan ragamnya kemampuan, keinginan, perilaku dan tingkat berfikir mereka, karena diantara murid ada yang mampu memahami ungkapan dan pelajaran dengan satu kali penjelasan, dan ada yang mesti berulang kali dan dengan penjealasan yang rinci.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR. Muslim).

Namun kita lihat beberapa guru – semoga Allah memberi mereka petunjuk – tidak mempunyai kesabaran dan kasih sayang sedikitpun.  Hanya memarahi muridnya ketika ia tidak faham satu masalah dan mengerti apa yang diminta gurunya, dia akan terlihat marah dan meledak emosinya ketimbang bersikap sabar, bijak dan berusaha menghadapinya, kadang ia mengeluarkan kata-kata dan bersikap yang menyakiti perasaan muridnya. Karenanya seorang guru harus bisa mengendalikan diri, bersabar, merenung, dan mengelola emosinya terhadap pertanyaan-pertanyaan murid, meski terkadang terjadi kejenuhan.

Kita diingatkan dengan kisah Mu’awiyah bin al-Hakam, r.a. saat ia mengikuti sholat jama’ah dan ia belum tahu bahwa berbicara ketika sholat itu diharamkan.  Seorang sahabat bersin, kemudian ia menegurnya, sahabat lain mengingatkannya dengan isyarat, namun ia tidak faham dan melanjutkan kalimatnya.

Ketika sholat usai, Rasulullah SAW memanggilnya, Mu’awiyah menghampiri dengan ketakutan, kemudian bersabda Rasulullah dengan kelembutan: ” … Saat sedang sholat, tidak boleh terjadi apapun dari ucapan manusia, selain tasbih, tahmid dan bacaan Qur’an..”.

Mu’awiyah mengomentari perbuatan Rasulullah SAW dengan mengatakan: “Demi Ayah dan Ibuku, belum pernah aku melihat pengajaran terbaik dan paling santun selain dari pengajaran Baginda Rasulullah SAW.  Seperti itulah kesabaran dan kasih sayang Rasulullah, suri tauladan dan guru yang seluruh ucapan dan perbuatannya adalah pengajaran.
Share:

Menanamkan Adab pada Anak (1)

Apa yang ada dalam benak kita ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan dan santun perilakunya, hormat dan patuh kepada orangtuanya, pandangannya tidak liar, wajahnya berseri-seri? Tentu, anak seperti ini membuat senang siapa saja yang melihat dan berjumpa dengannya. Pasti kita yakin bahwa ia adalah anak yang terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan adab yang baik serta akhlak yang mulia. Pastinya, setiap orangtua menginginkan anak yang demikian; anak-anak yang menjadi penyejuk hati orang-orang dekatnya, terutama orang tuanya.

Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Oleh karena itu, anak-anak harus mendapat perhatian saksama agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas prima. Mereka harus menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tangguh, yang selalu menjaga sikap dan perilakunya dengan baik. 

Dengan begitu mereka siap terjun dalam kancah kehidupan dengan membawa Islam dalam setiap langkah-langkahnya. Dengan itu pula mereka mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi, baik persoalan pribadinya maupun persoalan umat secara keseluruhan.

Kewajiban Menanamkan Adab

Banyak ulama telah membahas makna adab dalam pandangan Islam. Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah).

KH Asy’ari membuka karya tulisnya, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, dengan mengutip sabda Rasulullah, ”Hak seorang anak atas orangtuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik.”

Adab: Bagian dari Hukum Syariah

Penanaman adab dan sopan-santun pada anak merupakan hal yang sangat penting dalam Islam karena merupakan bagian dari hukum syara. Adab dan sopan-santun merupakan bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan Rasulullah. Setiap muslim wajib menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum muslim memiliki akhlak tercela. Abdullah bin Umar r.a. menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Islam memerintahkan orangtua untuk menanamkan adab dan sopan santun kepada anak sejak dini, sebagaimana sabda Rasulullah, “Jika anak telah mencapai usia enam tahun, hendaklah ia diajari adab dan sopan-santun.” (HR Ibnu Hibban).

Beliau pun bersabda:

 يَا غُلاَمُ سَمِّ الله، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang bersama anaknya. Rasulullah kemudian bertanya kepada anak tersebut, “Siapa ini?” Lalu ia menjawab, “Ayahku.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu jangan berjalan di depan dia, jangan melakukan perbuatan yang dapat membuat dia mengumpat kamu karena marah, jangan duduk sebelum ia duduk, dan jangan memanggil dengan menggunakan namanya.”

(bersambung: Cara Agar Anak Beradab)
Share:

Kekerasan Verbal Dibalik Kata 'Memotivasi'



Mendidik anak bukan hal yang mudah. Salah langkah bisa mengakibatkan salah asuhan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui apa yang semestinya dilakukan dan apa yang semestinya dihindari. Ditambah pula faktor-faktor yang akan mendukung pendidikan yang sedang kita lakukan.
Abu Umar Yusuf Ibnu ‘Abdil Barr al-Qurthubi rahimahullah dalam kitabnya Jami’ Bayanil ‘Ilmi fa Fadhlihi mengatakan, “Keadaan seorang anak di hadapan pendidiknya kala mendidiknya, bagaikan seorang pasien yang tergambar jelas di hadapan seorang dokter ketika mengobatinya. Dia mengawasi keadaan, kemampuan, dan tabiat si anak, sehingga pendidikan itu akan membuahkan hasil yang paling sempurna dan optimal.”
Kekerasan Verbal dalam Mendidik Anak

Ucapan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah ini merupakan fondasi bagi pergaulan orang tua terhadap anak-anak. Cara bertindak terhadap anak kecil juga bervariasi antara satu individu dan yang lain, antara satu anak dan anak yang lain, antara satu waktu dan waktu yang lain. Di sini kita akan memaparkan beberapa cara bertindak yang salah terhadap anak kecil, agar kita dapat menghindarinya semampu kita.

KEKERASAN NO KETEGASAN YES !

Para ahli pendidikan dan pakar kejiwaan memandang cara ini sebagai cara yang paling berbahaya bagi anak, apabila terlalu sering dilakukan. Memang ketegasan dibutuhkan dalam momen-momen tertentu, namun kekerasan justru hanya akan menambah ruwet masalah dan memuncak. Tatkala sang pendidik emosi hingga kehilangan kontrol, melupakan kesabaran dan kelapangan hati, dia akan menyerang si anak dengan cercaan dan mencaci-makinya dengan kata-kata yang amat jelek dan kasar.

Salah satu bentuk kekerasan yang sering dilakukan para orang tua dan pendidik adalah mengeluarkan kata. kasar dan ungkapan-ungkapan buruk yang ditujukan si anak. Muhammad Rasyid Dimas di dalam bukunya Siyasah Tarbawiyyah Khathi'ah mengutip beberapa contoh kalimat yang kerapkali diucapkan oleh para orang tua atau pendidik -- umumnya ketika sedang marah - dan disinyalir dapat melukai jiwa anak. Yakni ungkapan-ungkapan seperti, ”G*bl*k! " "Kamu t*l*l! ”, "Diam, dungu! ", "Kemarilah, hai anak nakal! ". "Kamu seperti keledai, tidak paham juga!”, "Aku tidak merasa bangga kamu jadi anakku! ", ”Kamu orang paling bodoh pernah saya lihat!", ”Mengapa kamu tidak Seperti adikmu! ", dan lain sebagainya.

Kalimat-kalimat semacam itu, menurut Rasyid Dimas, sangat berbahaya bagi jiwa anak, dan hendaknya dihindari oleh para pendidik. Kalimat-kalimat seperti itu jika terlalu sering diucapkan akan menjadikan anak merasa diintimidasi, dizhalimi dan diitindas, sehingga menyebabkan luka di dalam jiwanya. Luka tersebut tidak akan hilang dalam waktu yang cepat, melainkan akan menempel kuat dan membuat parit yang dalam pada perasaan dan jiwanya. Dan itu akan menghambat proses perkembangan jiwa si anak dan membuatnya menjadi orang yang introvert (tertutup), murung, merasa tidak aman dan membenci diri sendiri ; serta akan menumbuhkan sikap aproiri, pembangkang, frustasi, pasif dan permusuhan terhadap orang lain. Yang lebih parah lagi, hal itu akan rnemangkas rasa percaya diri dan motivasi anak, sehingga anak menjadi mudah putus asa, minder dan tidak memiliki semangat untuk maju.

Astaghfirullahal 'azhim. Dengan dalih mendidik, orang tua dan pendidik ternyata telah melakukan sebuah kesalahan besar terhadap anaknya. Mereka begitu enteng berkata kasar, membentak, marah-marah dan melayangkan tamparan atau _ pukulan keras penuh emosi kepada si anak, yang secara tidak disadari telah melukai jiwa anak dan membabat proses pertumbuhan elemen-elemen kejiwaan penting dari dalam dirinya, seperti rasa percaya diri, kreativitas, juga semangat inovasi dan kreasi. Inilah sebuah pembantaian motivasi, sebuah penindasan rasa percaya diri, sebuah penghancuran semangat berkreasi dan kebebasan berekspresi anak yang sungguh sangat kejam.  Dan mungkin juga,  inilah sebuah bentuk 'terorisme'  dalam pendidikan anak yang menjadikan anak tertindas secara kejiwaan.

Share:

Karakteristik Kepribadian Anak (1)


Salah satu penyebab utama kegagalan pendidikan anak adalah minimnya pengetahuan orang tua atau pendidik tentang karakteristik kejiwaan anak. Ibarat seorang dokter, orang tua dan pendidik kurang mampu mendiagnosis penyakit pasiennya, sehingga proses pengobatan yang ia lakukan menjadi tidak terarah dan asal-asalan.  Pendidikan yang tidak terarah sangat membahayakan perkembangan jiwa anak. Anak akan tumbuh dalam kondisi kejiwaan yang tidak utuh, seperti gampang putus asa, minder, penakut, pemarah dan lain sebagainya. Untuk itu, pengertahuan dan pemahaman tentang jiwa anak-anak (ma’rifatul aulad) menjadi modal dasar bagi kesuksesan mendidik anak. Ma’rifatul aulad menjadi landasan gerak bagi proses pendidikan anak.

SIFAT-SIFAT KHAS ANAK

Syaikh Muhammad Sa’id Mursi di dalam bukunya fan tarbiyatil Aulad fil Islam menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak. Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi, gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu Bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitive (peka).
Pentingnya memahami karakter anak
Diantara semua sifat –sifat khas yang dimiliki oleh anak-anak di atas  dan paling menonjol adalah,
  • BANYAK BERGERAK, GEMAR BERMAIN DAN BERSUKA

Inilah sifat motorik anak yang khas. Anak – terutama di bawah usia 8 tahun – selalu banyak bergerak, tidak bisa diam untuk waktu yang lama, gemar bermain dan selalu bersuka ria. Ini adalah sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka akan dipastika ia memiliki ‘kelainan’ secara kejiwaan. Orang tua dan pendidik yang paham dengan sifat anak ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak, dengan tetap memberikan kontrol yang  intens. Namun orang tua dan pendidik yang tidak memahami sifat anak ini, akan cenderung emosional dan suka memarahi anak. Dan ini merupakan sebuah bentuk ‘penindasan’ naluri fitriah anak. Banyak bergerak akan menambah kecerdasan dan pengalaman anak setelah dewasa.
  •  SELALU INGIN MENIRU

Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya dan gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Maka, salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik (syakhshiyyatul murabbi). Orang tua dan guru tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu, wahai para orang tua dan guru, jika Engkau ingin memperbaiki akhlak anak, maka ibda’ min nafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Perbaikilah dulu akhlak Engkau, niscaya akhlak anak pun akan ikut baik. Sebuah Syair yang cukup menggelitik mengatakan:

"Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah dari penyimpangan
JIka itu engkau lakukan maka engkau termasuk orang yang bijak
Kala itu nasihatmu akan diterima
Ilmumu  akan diikuti dan pengajaranmu akan berguna."

  • MEMILIKI  DAYA INGAT YANG SANGAT KUAT


Memori anak kecil itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam permasalahan. Oleh sebab itulah, anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Inilah yang dimaksud dengan daya ingat yang sangat kuat. Umur anak-anak merupakan ‘umur emas’ (‘umrun dzahabiyyun), yang ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang amat kuat. Maka, kita bisa menyalurkan daya ingat anak yang kuat itu untuk banyak menghafal Alquran, hadits, doa-doa dan dzikir. Apa yang sudah tersimpan dalam ingatan anak akan sulit terlupakan. Sehingga, dalam catatan sejarah, kita banyak mendapatkan para ulama yang telah hafal Alquran sebelum ia berumur 10 tahun. Orang tua dan guru yang cerdas akan berusaha memenuhi memori anaknya sejak kecil dengan hafalan Alquran, hadist, doa-doa. Itu akan berpengaruh sangat positif bagi kepribadian anak ketika menginjak dewasa. Memenuhi anak dengan sinetron-sinetron cinta, lagu-lagu dan tayangan-tanyangan televise yang tidak mendidik serta hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebuah kebodohan nyata yang banyak dilakukan oleh para orang tua dan guru. Mereka telah melakukan sebuah ‘pembunuhan moral’ dan ‘perusakan kepribadian’ satu generasi. Ini merupakan sebuah kedzaliman yang besar.

  •  SENANG DIMOTIVASI ATAU DIPUJI


Inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua dan guru. Yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbarui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi secara proporsional.
Salah satu hal yang efektif dan perlu diperhatikan orang tua dan guru dalam memberikan motivasi kepada anak adalah mengaitkan motivasi itu dengan pahala akhirat. Misalnya kita mengatakan kepada si anak, “Allah akan meridhai orang yang gemar membaca Alquran, pahala setiap hurufnya berlipat menjadi 10 kebaikan”, “Shalat yang kita lakukan di masjid pahalanya adalah 27 kali lipat dari shalat yang dilakukan sendirian di rumah”. Atau bisa juga kita kaitkan dengan apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak pergi berolahraga, kita katakan kepadanya, “Kamu akan menjadi orang yang kuat seperti Umar bin Khathab, sehingga orang-orang kafir takut kepadanya.” Motivasi atau dorongan yang dikaitkan dengan masalah agama dan akhirat lebih kuat dan mengakar dan mengendap pada jiwa anak. Dan hal tersebut sangat efektif untuk menumbuhkan kesadaran anak untuk melakukan kebaikan.


Bersambung…


Share:

Bangun Pagi Kunci Pertama Kesuksesan Anak

Perbaikan kualitas generasi selayaknya dimulai dengan kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab generasi unggul bermula dari pagi yg masygul (sibuk).

Jika anak terbiasa bangun pagi sedari dini, itu ciri anak berprestasi. Tak mudah dipengaruhi berbagai pergaulan yg tidak islami.
Bangun Pagi Kunci Pertama Kesuksesan Anak

8 cara membangunkan anak setiap pagi:

  1. Usap dadanya
  2. Kecup keningnya
  3. Bacakan doa bangun tidur ditelinganya
  4. Dudukan pelan-pelan
  5. Gosok punggungnya
  6. Ulangi baca doa
  7. Dalam kondisi duduk ulangi baca doa
  8. Setelah buka mata senyumlah dihadapannya


So, tunggu apalagi. Jangan cuma bisa marah dan mencaci. Segera bertindak untuk buah hati. Fokuslah kepada bangun pagi.

Semangat beraksi ayah bunda, Barokallohu fiikum.
Share:

Bolehkah Bercanda Model "Prank" ?

Akhir-akhir ini sering kita saksikan guyonan dengan model prank yaitu bercanda untuk ngerjain orang sehingga bikin dia panik atau nangis. Bagaimana sebenarnya hukum prank dalam pandangan agama?

Bercanda dengan model prank hukumnya Tidak Boleh,  karena beberapa dalil berikut:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

"Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti saudara muslim lainnya". (HR. Abu Dawud 5004 dan Ahmad 23064 dengan sanad shohih, dishahihkan al-Albani dalam Ghoyatul Marom 447).
Hadits ini menunjukkan tidak boleh membuat panik dan takut saudara kita sesama muslim.

Lebih tegas lagi, Nabi menjelaskan bahwa tidak boleh menakuti saudara kita walaupun hanya bercanda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا

“Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.” (HR. Abu Dawud, dihasankan Al Albani)

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh membuat takut, panik serta sedih saudara kita dengan apapun bentuknya,  karena hal itu bisa jadi akan meretakkan hubungan sesama muslim dan menyakiti perasaannya, apalagi tidak semua orang mau untuk dikerjain.

Ingat, Islam sangat menekankan kepada kita untuk menjaga persaudaraan sesama muslim. Oleh karenanya,  segala bentuk sarana yang dapat merusak persaudaraan maka harus ditutup rapat-rapat.

Bercanda hukum asalnya boleh,  hanya saja ada aturan-aturan dan batasan-batasannya,  diantaranya:

1. Tidak boleh bercanda dalam urusan agama.
2. Tidak boleh bikin panik,  takut dan sedih orang lain.
3. Tidak boleh berlebihan.
4. Memperhatikan orang dan waktu yang pas.
5. Jujur tidak boleh bohong hanya demi membuat orang lain tertawa.
Share:

Penting: Mencetak Anak yang Adibah

Kalimat-kalimat "Kasian tu anaknya sekolah di swasta" atau "Ah sekolahnya ngga favorit" sudah lama kami abaikan dan tebal kuping dengan kalimat tersebut.

Bagi kami yang notebene adalah seorang guru. Sejak anak masih kecil-kecil sudah memiliki prinsip bahwa pendidikan tidak bergantung pada dimana dia disekolahkan. Tapi pendidikan utama adalah kembali ke rumah dan kami sebagai orang tuanya lah yang bertanggung-jawab mendidik dan mengajar mereka. Sebab kelak kamilah
yang akan ditanya di akhirat tentang anak-anak kami. Bukan gurunya, kepala sekolah atau wali kelasnya.

Anak-anak kebetulan telah kami uji coba sekolah di sekolah negeri, setengah negeri dan sekolah swasta. Masing-masing sekolah selalu ada plus dan minusnya alias tidak ada sekolah yang sempurna.

Ya ujung-ujungnya konsep mendidik mereka kembali ke tangan kita sebagai orang tua. Apa yang mereka dapat di sekolah jika positif ya alhamdulillah. Jika negatif maka harus kita perbaiki di rumah dan menguatkan mereka.

Sebisa mungkin sebaiknya kita hindari intervensi pola didik gurunya kecuali dalam hal-hal yang membahayakan misalnya kasus bullying yang berulang di sekolah. Ketika anak masuk sekolah maka percayakanlah mereka pada institusi sekolah yang sudah kita teliti baik-baik.

Pendidikan anak sebaiknya adalah mengedepankan masalah akhlak. Zaman sekarang anak yang berakhlak lambat laun mulai berkurang jumlahnya. Sudah banyak contoh anak yang pintar & sekolah di sekolah favorit tapi gagal dalam hal akhlak atau adab.

"Mencetak anak pintar itu penting tapi mencetak anak yang berakhlak jauh lebih penting."

Sebab saat kita tua, kita tak memerlukan anak-anak yang nilainya excellent. Kita tak memerlukan anak-anak yang mendapat penghargaan ini dan itu. Kita tak memerlukan anak-anak yang hartanya melimpah.

Tapi kita perlu anak yang bisa merawat kita kala sakit. Memandikan jenazah kita. Menyolatkan kita. Menggotong dan mengantarkan kita ke liang lahat. Mendoakan dan menjaga keluarga sepeninggal kita.

Kita memerlukan anak-anak yang peduli dan berakhlak pada orang tua dan keluarganya.

Jangan terlalu sibuk dengan sekolah favorit ya pak bu. Pikirkan bagaimana nanti anak kita setelah kita tiada. Karena salah satu amalan yang tetap mengalir, adalah doan anak saleh dan salehah.
Share:

Hujan Bulan Juni

Ketabahan Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Ketabahan Huhan Bulan Juni
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Pecinta puisi dan penggemar setia karya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, yang juga sering dipanggil SDD, pasti sangat familier (dan suka) puisi di atas–Hujan Bulan Juni. Hujan Bulan Juni hanya satu dari sederet puisi populer SDD. Beberapa puisi lain yang tidak kalah banyak pecintanya antara lain Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana dan Yang Fana Adalah Waktu.

Kesederhanaan pilihan kata-kata untuk setiap puisinya membuat orang yang bukan penggemar puisi pun mudah menyukainya karena langsung bisa meresapi maknanya.

Sastrawan kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940, ini mulai menulis sejak SMP; dia terus mengembangkan kecintaannya itu seiring tingkat pendidikannya semakin tinggi dan karier profesionalnya di dunia pendidikan (sebagai dosen) dan sebagai sastrawan semakin meningkat.

Hujan Bulan Juni yang legendaris
Jika dilakukan survei tentang karya SDD yang paling populer dan melekat di benak banyak orang, hampir bisa dipastikan puisi Hujan Bulan Juni menempati urutan teratas. Tidak salah jika puisi ini disebut puisi legendaris Prof. Sapardi Djoko Damono.

Saking legendaris, tahun 2017 Hujan Bulan Juni pun difilmkan setelah perjalanan yang cukup panjang. Puisi Hujan Bulan Juni pertama kali terbit di surat kabar tahun 1989. Tahun 1990 lahir album Hujan Bulan Juni yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu adalah bagian dari sejumlah penyanyi, yang merupakan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Menerima penghargaan
Tahun ini, Prof. Sapardi Djoko Damono mendapatkan penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2018 untuk dua buku terbaiknya, Hujan Bulan Juni dan Yang Fana Adalah Waktu. Penghargaan itu diberikan di acara Kuala Lumpur International Book Fair yang digelar di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu, 28 April 2018. Hujan Bulan Juni mendapatkan penghargaan untuk kategori Buku Kompilasi Terbaik, sedangkan buku Yang Fana Adalah Waktu mendapatkan penghargaan untuk kategori Penulisan Prolifik.

Tentu saja ini bukan penghargaan pertama yang dia terima. Pada 1978, Sapardi Djoko Damono menerima penghargaan Cultural Award dari Australia. Selain itu, dia juga pernah mendapatkan penghargaan Anugerah Puisi Putra dari Malaysia pada 1983.

Salut untuk kecintaan, dedikasi, dan konsistensi Prof. Sapardi Djoko Damono pada dunia sastra Indonesia. Semoga dari hatinya yang bening terus lahir puisi-puisi yang melembutkan banyak hati dan menginspirasi kita semua.

Saya semakin bangga Indonesia. Kalau kamu?

Keep Breathing, Keep Inspiring!
Share:

Bila Akhlak Telah Rusak

Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan:

"Apabila akhlak telah rusak,  maka rusak pula aqidah.  Dan bila aqidah telah
 rusak maka hilanglah ketergantungan kaum

muslimin kepada Robb mereka,  dan saat itulah mereka menjadi umat yang paling lemah".

(Tafsir Surat Fushilat hlm.  39)
Share:

Agar Ucapanmu Tak Melalaikanmu

Dalam banyak hadits ini, Nabi menganjurkan kepada kita untuk mengucapkan ucapan yang baik atau diam. Banyak sekali dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan sunnah yang memerintahkan kita untuk menjaga lisan & tidak ada asal ngegas tanpa memikirkan secara matang dampaknya.
Lalai dalam ucapan pun sangat berbahaya

Sungguh betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan yang tak bertulang sehingga menjadi faktor utama dicampakkannya ke api Neraka !!

Dan perlu diketahui bahwa seorang sebelum melintarkan sebuah ucapan,  maka hendaknya mengecek empat aspek:

1. Tujuan dan Niat.
Baiknya niat menjadikan kata yang terucap dari lisan terasa sejuk dan mendatangkan kedamaian bagi orang yang mendengarnya. Apalah artinya kata-kata indah jika ternyata tersimpan dalam hatinya bisa dan racun yang mematikan.

2. Kanduangan makna ucapan.
Oleh karenanya seorang harus selektif dalam bertutur kata karena setiap huruf yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, yang berdampak tentang nasibnya kelak di akherat.

3. Kelembutan kata.
Tutur kata yang lembut dan santun terbukti ampuh memikat hati dan meruntuhkan amarah yang berkobar-kobar dan berubah menjadi keakraban dan kasih sayang.

4. Efek ucapan.
Bisa jadi ucapan kita benar, dikemas secara santun, dilandasi dengan niat yang baik, namun ternyata berdampak buruk akibatnya. Oleh karenanya, pertimbangkan baik-baik ucapan sebelum disampaikan agar tidak berujung pada malapetaka dalam hidup dan melukai perasaan saudara anda. (Lihat buku “Cerdas Berkomunikasi Ala Nabi “ hlm. 11-43 oleh Dr. Muhammad Arifin Badri, cet Pustaka Imam Syafi’i).

Point keempat ini perlu diperhatikan baik-baik, terutama bagi para dai dan penuntut ilmu agar kita tidak menghancurkan bangunan yang terbangun. Imam Asy-Syathibi berkata:
"Memikirkan buah suatu perbuatan adalah sangat penting dalam pandangan syari'at, baik perbuatan tersebut benar atau salah, sebab seorang alim tidak bisa menghukumi secara benar tentang suatu perbuatan kecuali setelah melihat buah yang dihasilkan dari perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan". (Al Muwafaqot 5/177)
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhali hafizahullah berkata:

"Di antara fiqh menghadapai zaman fitnah:
Sesungguhnya keyakinan harus dibangun di atas ilmu, sedangkan ucapan dan penjelasan (kepada ummat) harus dibangun di atas kemaslahatan.

Maka seorang muslim harus meyakini apa yang ditunjukkan oleh dalil dan apa yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun ucapan dan penjelasan kepada ummat maka harus didasarkan pada kemaslahatan.

Maka tidak disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengucapakan setiap apa yang dia ilmui, akan tetapi dia harus menimbang, jika dengan mengucapkannya ada kemaslahatan maka dia mengucapkannya. Namun jika menurut maslahat, perkara tersebut harus diakhirkan maka diapun harus mengakhirkannya dan menunda untuk mengatakannya".
Sumber: (Fiqhul al-Fitan, Syeikh Dr.  Sulaiman Ar-Ruhaily, hlm.  40-41)
Share:

Tantangan dalam Berdakwah

Setiap orang yang mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat, pasti mendapatkan resiko dan tantangan dakwah. Alangkah bagusnya perkataan Waraqah bin Naufal kepada Nabi:

لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُوْدِيَ

“Tidak ada seorang pun yang datang
Tantangan yang medekatkan pada-Nya. 
dengan mengemban ajaranmu kecuali akan dimusuhi.”
(HR.  Al-Bukhori (no. 7) dan Muslim (no. 160)

 Syaikh al-Albani berkata: “Ketika aku menggariskan manhaj (metode) ini pada diriku yaitu berpegang teguh dengan Sunnah ash-Shohihah dan aku realisasikan dalam kitab-kitabku yang akan tersebar pada manusia -insya Allah-, aku sangat menyadari bahwa hal itu tidak akan menyenangkan sebagian kelompok dan madzhab, bahkan kemungkinan besar mereka akan meluncurkan dan melancarkan berbagai celaan padaku secara lisan dan tulisan.
Bagiku pribadi, semua itu tidak menjadi masalah karena memang keridhaan manusia adalah suatu tujuan yang sulit digapai dan sebagaimana sabda Nabi:

مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَّلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, niscaya Alloh akan menyerahkannya pada manusia.”(HR. Tirmidzi (II/67), al-Qudha'i (II/42), Ibnu Busyran dalam al-Amali (144-145) dan lain-lain dengan sanad Shohih. Lihat Silsilah ash-Shohihah (no. 2311) oleh al-Albani).

 Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:

وَلَسْتُ بِنَاجٍ مِنْ مَقَالَةِ طَاعِنٍ
 وَلَوْ كُنْتُ فِيْ غَارٍ عَلَى جَبَلٍ وَعْرِ
وَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْجُوْ مِنَ النَّاسِ سَالِمًا
 وَلَوْ غَابَ عَنْهُمْ بَيْنَ خَافِيَتَيْ نَسْرِ

Aku tidak akan pernah selamat dari celaan orang
 Sekalipun aku bersembunyi di gua atau gunung yang sulit didaki
Siapakah orangnya yang bakal selamat dari manusia
 Walau dia telah bersembunyi di antara dua sayap burung. (Muqaddimah Shifat Sholat Nabi (hal. 44-45).

 Tetapi percaya atau tidak, semua celaan dan tuduhan dusta tersebut tidaklah membahayakan dan menggoyang kursi kedudukan para penyeru al haq, bahkan sebalik-nya, sangat membahayakan nasib para pencela beliau sendiri.

يَا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِيْ لِيَكْلِمَهُ
 أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ

Hai orang yang akan menabrak gunung tinggi untuk menghancurkannya
 Kasihanilah kepala anda, jangan kasihan pada gunungnya. (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi Ibnu Abdil Barr 2/310)

 Bahkan kita optimis bahwa semua tantangan itu akan menambah tinggi kedudukan dan keutamaan para pendakwah,  sebagaimana kata penyair:

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلَةٍ
 طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ

Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang rahasia
 Maka, Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk menebarkannya. (Diwan Abu Tammam (45).
Share:

Sifat malu: Belajar dari Putri Nabi

Putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pernah berpesan kepada Asma’:

 “Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk perilaku kaum wanit yang memakai pakaian yang dapat menggambarkan tubuhnya.
Muslimah wajib memiliki sifat malu.
Dan aku malu jika kelak aku mati saat dibawa keluar kepada para pria lalu terlihat lekuk tubuhku".

Asma' berkata: "Aku pernah melihat di Habasyah (Ethopia)  keranda yang ditutupi seperti penutup untuk pengantin wanita.

Fathimah mengatakan: "Alangkah bagusnya itu".

Ibnu Abdil Barr mengatakan: "Fathimah adalah orang yang pertama kali dalam Islam keranda jenazahnya ditutupi kain". (Al Isti'ab 4057)

Perhatikanlah sifat malu Fathimah yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat menyifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita.

Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bentuk dada, pinggang, betis, dan anggota badan lainnya.

Hendaknya mereka beristighfar kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya serta mengingat selalu sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya hal yang dijumpai manusia dari perkataan para nabi adalah, “Apabila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhori)
Share:

10 Golongan Umat Nabi Muhammad SAW Tidak Akan Masuk Surga

"Ada 10 golongan dari umatku tidak akan masuk surga". Begitu mula mula Ibnu Abbas RA meriwayatkan sebuah hadist baginda nabi.
Kelak semua akan kembali

​"Siapa mereka ya Rasulullah?"​

1. Al Qalla,
2. Al Jayyuf,
3. Al Qattaf,
4. Ad Daibub,
5. Ad Dayyuts,
6. Shahibul 'Athabah,
7. Shahibul Kubah,
8. Al 'Utul,
9. Az Zanim, dan
10. Al aq liwalidaith.

​"Terangkanlah siapa saja mereka itu?"​

​Beliau menjawab.​

AL QALLA, ​adalah manusia penjilat, mencari muka pada penguasa.​

AL JAYYUF, ​adalah pencuri kain kafan kuburan.​

AL QATTAR, ​adalah para pengadu "domba".​

AL DAIBUB, ​adalah mucikari penjual perempuan sebagai pelacur.​

AD DAYYUTS, ​adalah orang yang tidak cemburu melihat istri dan anak gadisnya bergaul dengan laki laki lain.​

SHAHIBUL "ATHABAH, ​adalah para penabuh gendang besar.​

SHAHIBUL KUBAH, ​adalah para penabuh gendang kecil.​

AL 'UTUL, ​adalah Orang sombong yang tidak mau memberi maaf saudaranya yg meminta maaf.​

AZ ZANIM, ​adalah para pengunjing orang yg suka duduk duduk di pinggir jalan.​

AL 'AQ LIWALIDAITH, ​adalah pendurhaka pada orang tuanya.​

Muadz RA lantas bertanya,

​"Terangkan pada kami apa maksud dari ayat; "Pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong bondong"​ (QS. An Naba (78) : 18)

​"Kau menanyakan perkara besar wahai sahabatku Muadz..."​

​"...kelak ummatku akan dikumpulkan terpisah 10 golongan. Mereka menampakan rupa sesuai amal perbuatannya di dunia. Ada yang bewujud...:"​

1. ​KERA, mereka para pengadu domba manusia.​

2. ​BABI, pemakan barang haram dan mencari rizki dengan cara haram.​

3. ​Ada yang berjalan dengan KAKI DIATAS dengan MUKA terseret dibawah, merekalah pemakan RIBA.​

4. ​BUTA dan BINGUNG, mereka manusia zalim dalam memutus hukum.​

5. ​TULI, BISU dan GILA, mereka orang yg bangga dengan amal perbuatannya.​

6. ​Ada yg lidahnya terjulur dan dikunyahnya sendiri hingga darah nanah mengalir dari mulutnya, merekalah para ALIM ULAMA yg perbuatannya bertolak belakang dengan ucapannya.​

7. ​Ada yg tangan kakinya buntung, mereka orang yg suka menyakiti tetangganya.​

8. ​Ada yg tersalip lempengan besi membara, merekalah orang yg suka melaporkan orang lain pada penguasa atas laporan palsu (kriminalisasi)​

9. ​Ada yg tubuhnya busuk, orang yang tenggelam dengan syahwat mereka.​

10. ​Ada yg berselimut aspal mendidih, merekalah orang sombong nan angkuh.​

(HR. Al Qurthubi dalam Nashaihul 'Ibad Syaikh Nawawi).

***

Mudah-mudahan kita bukan termasuk dalam golongan yg digambarkan baginda nabi SAW itu. Dan ​senantiasa berdoa agar tidak terjebak masuk dalam kubangan dan lingkungan ahli maksiat yg menjerumuskan.​

"Allahumma akrim hajihil ummatul muhammadiyah bi jamiyli 'awaidika fiddarini ikromaa liman ja'altaha min ummatihi sollallahu 'alayhi wassalam"

"Ya Allah, muliakanlah umat Muhammad ini dengan indahnya pahala-Mu, baik di dunia maupun di akhirat, sebagai bentuk kemurahan-Mu bagi orang yang telah Engkau jadikan dia sebagai bagian dari umatnya"
Aamiin Allahumma, Aamiin...
Share:

Rumah: Sekolah Istimewa Anak

Seringkali kita menjumpai sebagian orang tua yang manakala anaknya nakal, mereka langsung melontarkan tuduhan miring kepada pihak sekolahan. Menyalahkan para guru dan mencap mereka sebagai biang kerok kenakalan anaknya. Atau beralasan, “Anak saya nakal karena terpengaruh
Kebiasaan di rumah berperan sentral dalam perkembangan jiwa anak. 
lingkungan pergaulan teman-temannya”.
Yang jadi pertanyaan, mengapa anak tersebut lebih terpengaruh teman daripada terpengaruh orang tuanya?

Bukankah jasa besar orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya, seharusnya membuat anak lebih terpengaruh orang tua? Terlebih, sejatinya anak-anak menghabiskan waktu sejak 0-18 tahun pertamanya lebih banyak dengan orang-orang terdekatnya dalam keluarga, bukan dengan orang lain. Lalu, mengapa mereka yang baru mengenal orang lain (teman-teman sepergaulan), kok jadi lebih banyak dipengaruhi orang lain ini daripada orang-orang dekat yang ada di keluarganya?

Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih berintrospeksi diri, sudahkah rumah menjadi media pendidikan yang baik untuk anak-anak kita?

Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka si anak akan jatuh dalam ‘pendidikan-pendidikan’ di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Sehingga lahirlah anak-anak berstatus broken home.

Ayah dan ibunya tidak mengacuhkannya di rumah, karena kesibukan masing-masing. Si ayah bekerja di kantor, sedangkan si ibu juga sibuk berkarir di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak di rumah pun terbengkalai. Sehingga anak mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. ‘Serigala-serigala’ buas pun sudah siap untuk memangsa sang buah hati.

Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah di rumah. Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup terhadap mereka. Jangan sampai merasa dicuekin oleh orang tuanya.
Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah, sebelum melepas anaknya ke luar. Maka dalam hal ini, suasana rumah yang islami amat membantu keberhasilan orang tua dalam mendidik putra-putrinya.
Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:

1.Di dalamnya anggoa keluarga bekumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

2.Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan. Sehingga membantu mereka untuk menirunya.

3.Penyampaian nasehat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak, akan lebih besar pengaruh positifnya bagi jiwa anak.

4.Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama. Hal ini akan membangkitkan keberanian untuk menumbuhkan budaya saling menasehati.

5.Memanfaatkan berbagai media islami untuk membantu pendidikan anak.
Tulisan ini bukan sama sekali untuk mengatakan tidak perlunya anak masuk ke sekolahan di luar. Namun tulisan ini hanya untuk menggugah kesadaran kita bersama bahwa rumah adalah sekolah pertama anak yang amat menentukan keberhasilan pendidikan mereka selanjutnya. Semoga bisa menginspirasi!

[Buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 61-62) dengan berbagai tambahan. ]

==========
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me