Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Nikmatnya Digibahin: 3 Cara Menikmatinya

Hasil gambar untuk pahala gibahMasing-masing kita pernah menjadi korban gunjingan, atau malah menjadi penggunjing. Kali ini saya fokus bagaimana menyikapi gunjingan, Jadi gak perlu ngambek atau mutung dan ngamuk-ngamuk, pakai saja cara orang-orang cerdas nan shalih sebelum kita. Jika kita luput dari satu cara, semoga tidak luput dgn dua cara yang lain, Atau setidaknya bisa mempraktikkan satu di antara 3 cara berikut ini,

PERTAMA
"Selamat datang pahala, tanpa beramal apa-apa,  tanpa tenaga dan tak ada ujub dan riya'di sana." ini adalah jurus Imam Hasan al-Bashri menghadapi gunjingan.

KEDUA
"Jika apa yang dikatakannya benar (tentang keburukanku), semoga Allah mengampuniku, namun jika apa yg dikatakannya dusta, semoga Allah mengampuninya." Ini adalah jurus Imam asy-Sya'bi menyikapi tuduhan

KETIGA
Adalah Imam asy-Syafi'i ketika digunjing, beliau mengirimkan hadiah kepada penggunjing seraya berkata, "Anda telah hadiahkan kebaikan Anda kepada saya, dan ini adalah hadiah saya untuk Anda, tapi maafkan jika hadiah saya tidak setara dengan hadiah Anda."
Share:

Betapa Banyak Manusia yang Mendapatkan Hidayah Berpakaian, Tetapi Tidak Mendapatkan Hidayah Lisan

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata,

اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء

Hasil gambar untuk lisan keji pakaian baik“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)

Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara?

Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.

Yahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,

القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه

“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)

Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)

Hamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut.

Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ

“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)

Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, tetapi tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.

Oleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ

“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)

Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Share:

Wahai Santri... Jadilah 'Ember' yang Baik

Menjadi santri itu sungguh luar biasa karena merupakan anugerah Ilahi sehingga ia harus selalu rajin mengaji dan mau serta mampu melakukan berbagai aktifitas secara mandiri.

Sebagai salah-seorang yang tumbuh remaja sebagai santri dan kini berkhidmah untuk memberikan excellent service kepada para santri, kami punya pengalaman menarik bagimana membersamai mereka ketika sedang mengaji di masjid dan belajar di kelas sampai timbul fikiran membuat analogi ini yang diharapkan mudah difahami para santri bagaimana seharusnya sikap mereka ketika mengaji dan belajar. Jika berkenan silahkan gunakan juga tulisan ini untuk menasehati para santri yang antum sedang didik, semoga menjadi shadaqah jariyah bagi kita semuanya.

Jika para Kiai dan Ustadz/ah yang menyampaikan pencerahan berbagai ilmu pengetahuan dibaratkan hujan yang tercurah dari langit maka para santri laksana tempat yang akan menerima air tersebut. Tempat air tersebut bisa saja berupa kolam, bak, drum, ember, baskom, gelas dan lainnya sesuai kapasitas masing-masing. Kami ambil pertengahan yakni ember yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Juga, karena kata ember ini sudah sering dijadikan 'panggilan atau julukan' untuk menyifati orang tertentu.

Kami gunakan Piramida terbalik sebagai pola penulisan dengan harapan akan lebih membuat kesan dan perhatian hal mana yang harus paling dihindari bagi seorang santri ketika sedang belajar atau mengaji bersama Ustadz/ah atau Kiai.

Pertama, ketika air hujan turun dari langit dan ember yang ada dalam keadaan tengkurap (bagian terbuka menghadap ke bawah) maka tidak akan ada sedikitpun air yang masuk ke dalamnya. Inilah kondisi santri yang tidur ketika mengaji atau belajar di kelas. Sehebat dan sesemangat apapun Kiai dan Ustadz/ah mengajarkan ilmu pengetahuan yang penting kalau santrinya tidur maka tidak akan mendapatkan tambahan pengetahuan sama sekali. An Nâim Kal Mayyit, orang yang tidur itu seperti mayat.

Kedua, ketika air hujan turun ke bumi namun sementara embernya dalam posisi miring maka air yang masuk tidak akan penuh. Demikian juga santri yang melamun, menghayal dan tidak fokus menyimak pencerahan dari Kiai atau Ustadz/ah tidak akan memahaminya dengan kuat dan tepat.

Ketiga adalah ember bocor yang menerima air hujan, meskipun air masuk maka tidak akan tersisa karena keluar lagi semuanya. Inilah gambaran santri yang suka ngobroooool saja ketika Kiai atau Ustadz/ah menyampaikan pencerahan, walaupun ia mendengar tetapi dapat dipastikan tidak akan mengerti sama sekali.

Nah, ember yang terbaik adalah yang tidak bocor, tidak miring dan tidak tengkurap ketika turun air hujan sehingga akan terisi air dengan penuh.

Sikap santri yang dengan penuh khusyu', khudhu' dan tawadhu' ketika menyimak penjelasan Kiai atau Ustadz/ah merupakan bagian dari Shuhbatul Ustâdzi yakni 1 diantara 6 syarat memperoleh ilmu: Cerdas, Tamak terhadap Ilmu, Bersungguh-sungguh, Dana, Bergaul dengan guru, Waktu yang memadai.
Share:

Sifat Wajib Bagi Guru (1)

Wahai para Guru, apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri, mengapa Anda menjadi seorang Guru? Mengapa Anda memilih peran ini sebagai jalan hidup?  Mengakui hal ini dengan jujur dan terbuka, akan menentukan jati diri Anda, hubungan dan pendekatan yang Anda lakukan.  Dan ketika kita melihat ke sekitar, maka akan kita temukan spektrum guru sebagai berikut:
Pertama, ada guru yang melihat pendidikan sebagai satu-satunya pekerjaan yang tersedia baginya, bukan menjadi keinginan atau kepentingannya, melainkan hanya pekerjaan dimana ia akan mendapatkan gaji dan rezeki.

Seandainya ia bisa mencari pekerjaan lain dan memperoleh pemasukan yang lebih besar tanpa harus menanggung sulitnya pendidikan.

Kedua, guru yang mengeluh dan meratapi dirinya karena beban mengajar yang rumit dan kurangnya gaji, dibandingkan dengan rekan-rekan yang telah memilih pekerjaan selain pendidikan.  

Ketiga, guru yang perhatian utamanya pada penyelesaian bahan ajar yang diwajibkan pada murid dan tidak menghubungkannya dengan realitas, Aqidah, iman, akhlak dan menanamkannya pada perilaku dan pemahaman muridnya.

Dan ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di luar kelas meskipun itu kerusakan, bahkan ia tidak berfikir untuk menjelaskan kesalahannya kepada murid. Ia benar-benar terpisah dari realitas murid-muridnya, masyarakat dan juga bangsa.

Dan yang keempat, kelima, keenam yang memenuhi dunia pendidikan dengan citra negatif dan pengaruh buruk di berbagai institusi masyarakat. Untuk itu harus curahan upaya dan inovasi, motivasi dan keikhlasan untuk mengubah orang-orang seperti itu, karena demikianlah kondisi dan cara pandang mereka hari ini.

Lantas, sifat-sifat apa yang mesti dimiliki seorang guru agar sesuai dengan hadis Rasulullah SAW berikut?

«إنَّ اللهَ ومَلائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَواتِ والأرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ في حِجْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ على مُعَلِمِي النَّاسِ الخَيْرَ» (رواه الترمذي)

Artinya: “Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”. (HR. at-Turmudzi).  

Dan sifat apa yang mesti dimiliki penerus risalah para Nabi seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a:

«لا حَسَدَ إلاَّ في اثنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاه اللهُ مَالاً فسَلَّطَهُ عَلى هَلَكتِهِ في الحَقَّ ورَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقضِي بِها ويُعَلِمُّها».

Artinya: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Sifat yang paling utama adalah Takwa dan Ikhlas karena Allah.  Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya mencari ridlo Allah, bukan karena gaji, pujian dari atasannya, demi ketenaran, promosi jabatan ataupun yang lainnya.  Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة،ِ يَعْنِي رِيحَهَا»

Artinya: “Siapa pun yang mempelajari suatu ilmu yang difokuskan mengharap pada ridho Allah SWT, tetapi ia mempelajari ilmu hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi semata, maka ia tidak akan mencium wangi surga di akhirat nanti”.

Seorang guru harus meniatkan pengajaran pada muridnya untuk kebaikan umat dan Islam. Imam al-Nawawi mengatakan: "Wajib bagi guru untuk mencari ridlo Allah, dan tidak ditujukan untuk capaian duniawi. Mesti hadir dalam benaknya bahwa mendidik adalah ibadah, agar menjadi dorongan untuk memperbaiki niat, dan motivasi untuk menjaga dirinya dari kekhawatiran dan segala hal yang tidak disukainya, dan khawatir hilangnya keutamaan dan kebaikan yang besar". Hilangnya sifat takwa dan ikhlas akan memunculkan kemunafikan, kemalasan dan kelalaian.

Sehingga akan menghasilkan pemuda dengan tsaqofah yang dangkal dan aqidah yang lemah, tidak peka dan faham akan masalah umat, alih-alih menjadi pelopor dalam kebangkitan umat, yang ada justru menjadi beban.

Sudah difahami bahwa guru akan mendapat gaji setiap bulan baik apakah dia ikhlas atau pun tidak, karenanya keikhlasan dan ketakwaan pada Allah menjadi hantaman fatal dalam pendidikan.  Karenanya wajib bagi guru untuk terampil dalam materi pengajaran yang dipelajarinya, menarik dalam cara penyampaian ilmu kepada murid-muridnya.
Share:

Sifat Wajib Bagi Guru (2)

Termasuk sifat penting bagi guru adalah sabar, bijaksana, panjang pemikiran. Wajib bagi guru pendidik sebagai pencetak generasi untuk mengikuti metode dan aqidah Laa Ilaha illallah Muhammad ar Rasulullah agar menjadi sabar dan bijak sehingga ia dapat memikul tugas.

Dan untuk kesabaran dan kebijaksanaannya itu telah disediakan pahala besar disisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: 

 وَا للّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

"... Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 146)

Begitupun baginda Rasulullah SAW menyuruh bersabar, bahkan dalam situasi yang sulit. Panjang pemikiran dan keluasan hati adalah perkara penting terutama saat guru menyadari bahwa pahala dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang diletakkan di atas pundaknya.

Hendaknya guru menyadari bahwa setiap murid mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya masalah dan perhatian yang berbeda.

Dan guru adalah ayah dan pendidik bagi mereka yang mesti meluaskan hatinya untuk mereka, menyayangi dan mengasihi, lembut dan bersabar atas sulitnya mengajari mereka dan menjelaskan pemikiran kepada mereka dengan ragamnya kemampuan, keinginan, perilaku dan tingkat berfikir mereka, karena diantara murid ada yang mampu memahami ungkapan dan pelajaran dengan satu kali penjelasan, dan ada yang mesti berulang kali dan dengan penjealasan yang rinci.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR. Muslim).

Namun kita lihat beberapa guru – semoga Allah memberi mereka petunjuk – tidak mempunyai kesabaran dan kasih sayang sedikitpun.  Hanya memarahi muridnya ketika ia tidak faham satu masalah dan mengerti apa yang diminta gurunya, dia akan terlihat marah dan meledak emosinya ketimbang bersikap sabar, bijak dan berusaha menghadapinya, kadang ia mengeluarkan kata-kata dan bersikap yang menyakiti perasaan muridnya. Karenanya seorang guru harus bisa mengendalikan diri, bersabar, merenung, dan mengelola emosinya terhadap pertanyaan-pertanyaan murid, meski terkadang terjadi kejenuhan.

Kita diingatkan dengan kisah Mu’awiyah bin al-Hakam, r.a. saat ia mengikuti sholat jama’ah dan ia belum tahu bahwa berbicara ketika sholat itu diharamkan.  Seorang sahabat bersin, kemudian ia menegurnya, sahabat lain mengingatkannya dengan isyarat, namun ia tidak faham dan melanjutkan kalimatnya.

Ketika sholat usai, Rasulullah SAW memanggilnya, Mu’awiyah menghampiri dengan ketakutan, kemudian bersabda Rasulullah dengan kelembutan: ” … Saat sedang sholat, tidak boleh terjadi apapun dari ucapan manusia, selain tasbih, tahmid dan bacaan Qur’an..”.

Mu’awiyah mengomentari perbuatan Rasulullah SAW dengan mengatakan: “Demi Ayah dan Ibuku, belum pernah aku melihat pengajaran terbaik dan paling santun selain dari pengajaran Baginda Rasulullah SAW.  Seperti itulah kesabaran dan kasih sayang Rasulullah, suri tauladan dan guru yang seluruh ucapan dan perbuatannya adalah pengajaran.
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me