Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Menanamkan Adab pada Anak (1)

Apa yang ada dalam benak kita ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan dan santun perilakunya, hormat dan patuh kepada orangtuanya, pandangannya tidak liar, wajahnya berseri-seri? Tentu, anak seperti ini membuat senang siapa saja yang melihat dan berjumpa dengannya. Pasti kita yakin bahwa ia adalah anak yang terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan adab yang baik serta akhlak yang mulia. Pastinya, setiap orangtua menginginkan anak yang demikian; anak-anak yang menjadi penyejuk hati orang-orang dekatnya, terutama orang tuanya.

Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Oleh karena itu, anak-anak harus mendapat perhatian saksama agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas prima. Mereka harus menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tangguh, yang selalu menjaga sikap dan perilakunya dengan baik. 

Dengan begitu mereka siap terjun dalam kancah kehidupan dengan membawa Islam dalam setiap langkah-langkahnya. Dengan itu pula mereka mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi, baik persoalan pribadinya maupun persoalan umat secara keseluruhan.

Kewajiban Menanamkan Adab

Banyak ulama telah membahas makna adab dalam pandangan Islam. Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah).

KH Asy’ari membuka karya tulisnya, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, dengan mengutip sabda Rasulullah, ”Hak seorang anak atas orangtuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik.”

Adab: Bagian dari Hukum Syariah

Penanaman adab dan sopan-santun pada anak merupakan hal yang sangat penting dalam Islam karena merupakan bagian dari hukum syara. Adab dan sopan-santun merupakan bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan Rasulullah. Setiap muslim wajib menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum muslim memiliki akhlak tercela. Abdullah bin Umar r.a. menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Islam memerintahkan orangtua untuk menanamkan adab dan sopan santun kepada anak sejak dini, sebagaimana sabda Rasulullah, “Jika anak telah mencapai usia enam tahun, hendaklah ia diajari adab dan sopan-santun.” (HR Ibnu Hibban).

Beliau pun bersabda:

 يَا غُلاَمُ سَمِّ الله، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang bersama anaknya. Rasulullah kemudian bertanya kepada anak tersebut, “Siapa ini?” Lalu ia menjawab, “Ayahku.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu jangan berjalan di depan dia, jangan melakukan perbuatan yang dapat membuat dia mengumpat kamu karena marah, jangan duduk sebelum ia duduk, dan jangan memanggil dengan menggunakan namanya.”

(bersambung: Cara Agar Anak Beradab)
Share:

Kekerasan Verbal Dibalik Kata 'Memotivasi'



Mendidik anak bukan hal yang mudah. Salah langkah bisa mengakibatkan salah asuhan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui apa yang semestinya dilakukan dan apa yang semestinya dihindari. Ditambah pula faktor-faktor yang akan mendukung pendidikan yang sedang kita lakukan.
Abu Umar Yusuf Ibnu ‘Abdil Barr al-Qurthubi rahimahullah dalam kitabnya Jami’ Bayanil ‘Ilmi fa Fadhlihi mengatakan, “Keadaan seorang anak di hadapan pendidiknya kala mendidiknya, bagaikan seorang pasien yang tergambar jelas di hadapan seorang dokter ketika mengobatinya. Dia mengawasi keadaan, kemampuan, dan tabiat si anak, sehingga pendidikan itu akan membuahkan hasil yang paling sempurna dan optimal.”
Kekerasan Verbal dalam Mendidik Anak

Ucapan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah ini merupakan fondasi bagi pergaulan orang tua terhadap anak-anak. Cara bertindak terhadap anak kecil juga bervariasi antara satu individu dan yang lain, antara satu anak dan anak yang lain, antara satu waktu dan waktu yang lain. Di sini kita akan memaparkan beberapa cara bertindak yang salah terhadap anak kecil, agar kita dapat menghindarinya semampu kita.

KEKERASAN NO KETEGASAN YES !

Para ahli pendidikan dan pakar kejiwaan memandang cara ini sebagai cara yang paling berbahaya bagi anak, apabila terlalu sering dilakukan. Memang ketegasan dibutuhkan dalam momen-momen tertentu, namun kekerasan justru hanya akan menambah ruwet masalah dan memuncak. Tatkala sang pendidik emosi hingga kehilangan kontrol, melupakan kesabaran dan kelapangan hati, dia akan menyerang si anak dengan cercaan dan mencaci-makinya dengan kata-kata yang amat jelek dan kasar.

Salah satu bentuk kekerasan yang sering dilakukan para orang tua dan pendidik adalah mengeluarkan kata. kasar dan ungkapan-ungkapan buruk yang ditujukan si anak. Muhammad Rasyid Dimas di dalam bukunya Siyasah Tarbawiyyah Khathi'ah mengutip beberapa contoh kalimat yang kerapkali diucapkan oleh para orang tua atau pendidik -- umumnya ketika sedang marah - dan disinyalir dapat melukai jiwa anak. Yakni ungkapan-ungkapan seperti, ”G*bl*k! " "Kamu t*l*l! ”, "Diam, dungu! ", "Kemarilah, hai anak nakal! ". "Kamu seperti keledai, tidak paham juga!”, "Aku tidak merasa bangga kamu jadi anakku! ", ”Kamu orang paling bodoh pernah saya lihat!", ”Mengapa kamu tidak Seperti adikmu! ", dan lain sebagainya.

Kalimat-kalimat semacam itu, menurut Rasyid Dimas, sangat berbahaya bagi jiwa anak, dan hendaknya dihindari oleh para pendidik. Kalimat-kalimat seperti itu jika terlalu sering diucapkan akan menjadikan anak merasa diintimidasi, dizhalimi dan diitindas, sehingga menyebabkan luka di dalam jiwanya. Luka tersebut tidak akan hilang dalam waktu yang cepat, melainkan akan menempel kuat dan membuat parit yang dalam pada perasaan dan jiwanya. Dan itu akan menghambat proses perkembangan jiwa si anak dan membuatnya menjadi orang yang introvert (tertutup), murung, merasa tidak aman dan membenci diri sendiri ; serta akan menumbuhkan sikap aproiri, pembangkang, frustasi, pasif dan permusuhan terhadap orang lain. Yang lebih parah lagi, hal itu akan rnemangkas rasa percaya diri dan motivasi anak, sehingga anak menjadi mudah putus asa, minder dan tidak memiliki semangat untuk maju.

Astaghfirullahal 'azhim. Dengan dalih mendidik, orang tua dan pendidik ternyata telah melakukan sebuah kesalahan besar terhadap anaknya. Mereka begitu enteng berkata kasar, membentak, marah-marah dan melayangkan tamparan atau _ pukulan keras penuh emosi kepada si anak, yang secara tidak disadari telah melukai jiwa anak dan membabat proses pertumbuhan elemen-elemen kejiwaan penting dari dalam dirinya, seperti rasa percaya diri, kreativitas, juga semangat inovasi dan kreasi. Inilah sebuah pembantaian motivasi, sebuah penindasan rasa percaya diri, sebuah penghancuran semangat berkreasi dan kebebasan berekspresi anak yang sungguh sangat kejam.  Dan mungkin juga,  inilah sebuah bentuk 'terorisme'  dalam pendidikan anak yang menjadikan anak tertindas secara kejiwaan.

Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me