Salah satu penyebab utama kegagalan pendidikan anak adalah minimnya pengetahuan orang tua atau pendidik tentang karakteristik kejiwaan anak. Ibarat seorang dokter, orang tua dan pendidik kurang mampu mendiagnosis penyakit pasiennya, sehingga proses pengobatan yang ia lakukan menjadi tidak terarah da nasal-asalan. Pendidikan yang tidak terarah sangat membahayakan perkembangan jiwa anak. Anka akan tumbuh dalam kondisi kejiwaan yang tidak utuh, seperti gampang putus asa, minder, penakut, pemarah dan lain sebagainya. Untuk itu, pengertahuan dan pemahaman tentang jiwa anak-anak (ma’rifatul aulad) menjadi modal dasar bagi kesuksesan mendidik anak. Ma’rifatul aulad menjadi landasan gerak bagi proses pendidikan anak.
SIFAT-SIFAT KHAS ANAK
Syaikh Muhammad Sa’id Mursi di dalam bukunya fan tarbiyatil Aulad fil Islam menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak. Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi, gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu Bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitive (peka).
Diantara semua sifat –sifat khas yang dimiliki oleh anak-anak di atas dan paling menonjol adalah,
• BANYAK BERGERAK, GEMAR BERMAIN DAN BERSUKA .
Inilah sifat motorik anak yang khas. Anak – terutama di bawah usia 8 tahun – selalu banyak bergerak, tidak bisa diam untuk waktu yang lama, gemar bermain dan selalu bersuka ria. Ini adalah sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka akan dipastika ia memiliki ‘kelainan’ secara kejiwaan. Orang tua dan pendidik yang paham dengan sifat anak ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak, dengan tetap memberikan kontrol yang intens. Namun orang tua dan pendidik yang tidak memahami sifat anak ini, akan cenderung emosional dan suka memarahi anak. Dan ini merupakan sebuah bentuk ‘penindasan’ naluri fitriah anak.
Banyak bergerak akan menambah kecerdasan dan pengalaman anak setelah dewasa.
• SELALU INGIN MENIRU.
Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya dan gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Mka, salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik (syakhshiyyatul murabbi). Orang tua dan guru tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu, wahai para orang tua dan guru, jika Egkau ingin memperbaiki akhlak anak, maka ibda’ min nafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Perbaikilah dulu akhlak Engkau, niscaya akhlak anak pun akan ikut baik. Sebuah Syair yang cukup menggelitik mengatakan:
"Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah dari penyimpangan
JIka itu engkau lakukan maka engkau termasuk orang yang bijak
Kala itu nasihatmu akan diterima
Ilmumu akan diikuti dan pengajaranmu akan berguna."
• MEMILIKI DAYA INGAT YANG SANGAT KUAT.
Memori anak kecil itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam permasalahan. Oleh sebab itulah, anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Inilah yang dimaksud dengan daya ingat yang sangat kuat. Umur anak-anak merupakan ‘umur emas’ (‘umrun dzahabiyyun), yang ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang amat kuat. Maka, kita bisa menyalurkan daya ingat anak yang kuat itu untuk banyak menghafal Al-Quran, hadits, doa-doa dan dzikir. Dan apa yang sudah tersimpan dalam ingatan anak akan sulit terlupakan. Sehingga, dalam catatan sejarah, kita banyak mendapatkan para ulama yang telah hafal Al-Quran sebelum ia berumur 10 tahun. Orang tua dan guru yang cerdas akan berusaha memenuhi memori anaknya sejak kecil dengan hafalan Al-Quran, hadist, doa-doa. Dan itu akan berpengaruh sangat positif bagi kepribadian anak ketika menginjak dewasa. Memenuhi anak dengan sinetron-sinetron cinta, lagu-lagu dan tayangan-tanyangan televise yang tidak mendidik serta hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebuah kebodohan nyata yang banyak dilakukan oleh para orang tua dan guru. Mereka telah melakukan sebuah ‘pembunuhan moral’ dan ‘perusakan kepribadian’ satu generasi. Dan ini merupakan sebuah kedzaliman yang besar.
• SENANG DIMOTIVASI ATAU DIPUJI.
Inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua dan guru. Yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbarui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi secara proporsional.
Salah satu hal yang efektif dan perlu diperhatikan orang tua dan guru dalam memberikan motivasi kepada anak adalah mengaitkan motivasi itu dengan pahala akhirat. Misalnya kita mengatakan kepada si anak, “Allah akan meridhai orang yang gemar membaca Al-Quran, pahala setiap hurufnya berlipat menjadi 10 kebaikan”, “Shalat yang kita lakukan di masjid pahalanya adalah 27 kali lipat dari shalat yang dilakukan sendirian di rumah”. Atau bisa juga kita kaitkan dengan apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak pergi berolahraga, kita katakan kepadanya, “Kamu akan menjadi orang yang kuat seperti Umar bin Khathab, sehingga orang-orang kafir takut kepadanya.” Motivasi atau dorongan yang dikaitkan dengan masalah agama dan akhirat lebih kuat dan mengakar dan mengendap pada jiwa anak. Dan hal tersebut sangat efektif untuk menumbuhkan kesadaran anak untuk melakukan kebaikan.
Wa Allahu A’lam Bisshawab
Bersambung…
SIFAT-SIFAT KHAS ANAK
Syaikh Muhammad Sa’id Mursi di dalam bukunya fan tarbiyatil Aulad fil Islam menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak. Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi, gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu Bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitive (peka).
Diantara semua sifat –sifat khas yang dimiliki oleh anak-anak di atas dan paling menonjol adalah,
• BANYAK BERGERAK, GEMAR BERMAIN DAN BERSUKA .
Inilah sifat motorik anak yang khas. Anak – terutama di bawah usia 8 tahun – selalu banyak bergerak, tidak bisa diam untuk waktu yang lama, gemar bermain dan selalu bersuka ria. Ini adalah sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka akan dipastika ia memiliki ‘kelainan’ secara kejiwaan. Orang tua dan pendidik yang paham dengan sifat anak ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak, dengan tetap memberikan kontrol yang intens. Namun orang tua dan pendidik yang tidak memahami sifat anak ini, akan cenderung emosional dan suka memarahi anak. Dan ini merupakan sebuah bentuk ‘penindasan’ naluri fitriah anak.
Banyak bergerak akan menambah kecerdasan dan pengalaman anak setelah dewasa.
• SELALU INGIN MENIRU.
Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya dan gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Mka, salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik (syakhshiyyatul murabbi). Orang tua dan guru tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu, wahai para orang tua dan guru, jika Egkau ingin memperbaiki akhlak anak, maka ibda’ min nafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Perbaikilah dulu akhlak Engkau, niscaya akhlak anak pun akan ikut baik. Sebuah Syair yang cukup menggelitik mengatakan:
"Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah dari penyimpangan
JIka itu engkau lakukan maka engkau termasuk orang yang bijak
Kala itu nasihatmu akan diterima
Ilmumu akan diikuti dan pengajaranmu akan berguna."
• MEMILIKI DAYA INGAT YANG SANGAT KUAT.
Memori anak kecil itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam permasalahan. Oleh sebab itulah, anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Inilah yang dimaksud dengan daya ingat yang sangat kuat. Umur anak-anak merupakan ‘umur emas’ (‘umrun dzahabiyyun), yang ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang amat kuat. Maka, kita bisa menyalurkan daya ingat anak yang kuat itu untuk banyak menghafal Al-Quran, hadits, doa-doa dan dzikir. Dan apa yang sudah tersimpan dalam ingatan anak akan sulit terlupakan. Sehingga, dalam catatan sejarah, kita banyak mendapatkan para ulama yang telah hafal Al-Quran sebelum ia berumur 10 tahun. Orang tua dan guru yang cerdas akan berusaha memenuhi memori anaknya sejak kecil dengan hafalan Al-Quran, hadist, doa-doa. Dan itu akan berpengaruh sangat positif bagi kepribadian anak ketika menginjak dewasa. Memenuhi anak dengan sinetron-sinetron cinta, lagu-lagu dan tayangan-tanyangan televise yang tidak mendidik serta hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebuah kebodohan nyata yang banyak dilakukan oleh para orang tua dan guru. Mereka telah melakukan sebuah ‘pembunuhan moral’ dan ‘perusakan kepribadian’ satu generasi. Dan ini merupakan sebuah kedzaliman yang besar.
• SENANG DIMOTIVASI ATAU DIPUJI.
Inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua dan guru. Yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbarui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi secara proporsional.
Salah satu hal yang efektif dan perlu diperhatikan orang tua dan guru dalam memberikan motivasi kepada anak adalah mengaitkan motivasi itu dengan pahala akhirat. Misalnya kita mengatakan kepada si anak, “Allah akan meridhai orang yang gemar membaca Al-Quran, pahala setiap hurufnya berlipat menjadi 10 kebaikan”, “Shalat yang kita lakukan di masjid pahalanya adalah 27 kali lipat dari shalat yang dilakukan sendirian di rumah”. Atau bisa juga kita kaitkan dengan apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak pergi berolahraga, kita katakan kepadanya, “Kamu akan menjadi orang yang kuat seperti Umar bin Khathab, sehingga orang-orang kafir takut kepadanya.” Motivasi atau dorongan yang dikaitkan dengan masalah agama dan akhirat lebih kuat dan mengakar dan mengendap pada jiwa anak. Dan hal tersebut sangat efektif untuk menumbuhkan kesadaran anak untuk melakukan kebaikan.
Wa Allahu A’lam Bisshawab
Bersambung…






