Siapa pun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tidak akan sirna darinya.

  • Dipersaudarakan oleh Allah

    Allah berfirman dalam surat al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  • Kecantikan Sejati

    Kau tahu apa yang bisa membuat wajah kusutmu menjadi kinclong lagi? Sederhana saja; kau bolak- balik sedikit hati kau.”

Wahai Santri... Jadilah 'Ember' yang Baik

Menjadi santri itu sungguh luar biasa karena merupakan anugerah Ilahi sehingga ia harus selalu rajin mengaji dan mau serta mampu melakukan berbagai aktifitas secara mandiri.

Sebagai salah-seorang yang tumbuh remaja sebagai santri dan kini berkhidmah untuk memberikan excellent service kepada para santri, kami punya pengalaman menarik bagimana membersamai mereka ketika sedang mengaji di masjid dan belajar di kelas sampai timbul fikiran membuat analogi ini yang diharapkan mudah difahami para santri bagaimana seharusnya sikap mereka ketika mengaji dan belajar. Jika berkenan silahkan gunakan juga tulisan ini untuk menasehati para santri yang antum sedang didik, semoga menjadi shadaqah jariyah bagi kita semuanya.

Jika para Kiai dan Ustadz/ah yang menyampaikan pencerahan berbagai ilmu pengetahuan dibaratkan hujan yang tercurah dari langit maka para santri laksana tempat yang akan menerima air tersebut. Tempat air tersebut bisa saja berupa kolam, bak, drum, ember, baskom, gelas dan lainnya sesuai kapasitas masing-masing. Kami ambil pertengahan yakni ember yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Juga, karena kata ember ini sudah sering dijadikan 'panggilan atau julukan' untuk menyifati orang tertentu.

Kami gunakan Piramida terbalik sebagai pola penulisan dengan harapan akan lebih membuat kesan dan perhatian hal mana yang harus paling dihindari bagi seorang santri ketika sedang belajar atau mengaji bersama Ustadz/ah atau Kiai.

Pertama, ketika air hujan turun dari langit dan ember yang ada dalam keadaan tengkurap (bagian terbuka menghadap ke bawah) maka tidak akan ada sedikitpun air yang masuk ke dalamnya. Inilah kondisi santri yang tidur ketika mengaji atau belajar di kelas. Sehebat dan sesemangat apapun Kiai dan Ustadz/ah mengajarkan ilmu pengetahuan yang penting kalau santrinya tidur maka tidak akan mendapatkan tambahan pengetahuan sama sekali. An Nâim Kal Mayyit, orang yang tidur itu seperti mayat.

Kedua, ketika air hujan turun ke bumi namun sementara embernya dalam posisi miring maka air yang masuk tidak akan penuh. Demikian juga santri yang melamun, menghayal dan tidak fokus menyimak pencerahan dari Kiai atau Ustadz/ah tidak akan memahaminya dengan kuat dan tepat.

Ketiga adalah ember bocor yang menerima air hujan, meskipun air masuk maka tidak akan tersisa karena keluar lagi semuanya. Inilah gambaran santri yang suka ngobroooool saja ketika Kiai atau Ustadz/ah menyampaikan pencerahan, walaupun ia mendengar tetapi dapat dipastikan tidak akan mengerti sama sekali.

Nah, ember yang terbaik adalah yang tidak bocor, tidak miring dan tidak tengkurap ketika turun air hujan sehingga akan terisi air dengan penuh.

Sikap santri yang dengan penuh khusyu', khudhu' dan tawadhu' ketika menyimak penjelasan Kiai atau Ustadz/ah merupakan bagian dari Shuhbatul Ustâdzi yakni 1 diantara 6 syarat memperoleh ilmu: Cerdas, Tamak terhadap Ilmu, Bersungguh-sungguh, Dana, Bergaul dengan guru, Waktu yang memadai.
Share:

Sifat Wajib Bagi Guru (1)

Wahai para Guru, apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri, mengapa Anda menjadi seorang Guru? Mengapa Anda memilih peran ini sebagai jalan hidup?  Mengakui hal ini dengan jujur dan terbuka, akan menentukan jati diri Anda, hubungan dan pendekatan yang Anda lakukan.  Dan ketika kita melihat ke sekitar, maka akan kita temukan spektrum guru sebagai berikut:
Pertama, ada guru yang melihat pendidikan sebagai satu-satunya pekerjaan yang tersedia baginya, bukan menjadi keinginan atau kepentingannya, melainkan hanya pekerjaan dimana ia akan mendapatkan gaji dan rezeki.

Seandainya ia bisa mencari pekerjaan lain dan memperoleh pemasukan yang lebih besar tanpa harus menanggung sulitnya pendidikan.

Kedua, guru yang mengeluh dan meratapi dirinya karena beban mengajar yang rumit dan kurangnya gaji, dibandingkan dengan rekan-rekan yang telah memilih pekerjaan selain pendidikan.  

Ketiga, guru yang perhatian utamanya pada penyelesaian bahan ajar yang diwajibkan pada murid dan tidak menghubungkannya dengan realitas, Aqidah, iman, akhlak dan menanamkannya pada perilaku dan pemahaman muridnya.

Dan ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di luar kelas meskipun itu kerusakan, bahkan ia tidak berfikir untuk menjelaskan kesalahannya kepada murid. Ia benar-benar terpisah dari realitas murid-muridnya, masyarakat dan juga bangsa.

Dan yang keempat, kelima, keenam yang memenuhi dunia pendidikan dengan citra negatif dan pengaruh buruk di berbagai institusi masyarakat. Untuk itu harus curahan upaya dan inovasi, motivasi dan keikhlasan untuk mengubah orang-orang seperti itu, karena demikianlah kondisi dan cara pandang mereka hari ini.

Lantas, sifat-sifat apa yang mesti dimiliki seorang guru agar sesuai dengan hadis Rasulullah SAW berikut?

«إنَّ اللهَ ومَلائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَواتِ والأرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ في حِجْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ على مُعَلِمِي النَّاسِ الخَيْرَ» (رواه الترمذي)

Artinya: “Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”. (HR. at-Turmudzi).  

Dan sifat apa yang mesti dimiliki penerus risalah para Nabi seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a:

«لا حَسَدَ إلاَّ في اثنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاه اللهُ مَالاً فسَلَّطَهُ عَلى هَلَكتِهِ في الحَقَّ ورَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقضِي بِها ويُعَلِمُّها».

Artinya: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Sifat yang paling utama adalah Takwa dan Ikhlas karena Allah.  Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya mencari ridlo Allah, bukan karena gaji, pujian dari atasannya, demi ketenaran, promosi jabatan ataupun yang lainnya.  Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة،ِ يَعْنِي رِيحَهَا»

Artinya: “Siapa pun yang mempelajari suatu ilmu yang difokuskan mengharap pada ridho Allah SWT, tetapi ia mempelajari ilmu hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi semata, maka ia tidak akan mencium wangi surga di akhirat nanti”.

Seorang guru harus meniatkan pengajaran pada muridnya untuk kebaikan umat dan Islam. Imam al-Nawawi mengatakan: "Wajib bagi guru untuk mencari ridlo Allah, dan tidak ditujukan untuk capaian duniawi. Mesti hadir dalam benaknya bahwa mendidik adalah ibadah, agar menjadi dorongan untuk memperbaiki niat, dan motivasi untuk menjaga dirinya dari kekhawatiran dan segala hal yang tidak disukainya, dan khawatir hilangnya keutamaan dan kebaikan yang besar". Hilangnya sifat takwa dan ikhlas akan memunculkan kemunafikan, kemalasan dan kelalaian.

Sehingga akan menghasilkan pemuda dengan tsaqofah yang dangkal dan aqidah yang lemah, tidak peka dan faham akan masalah umat, alih-alih menjadi pelopor dalam kebangkitan umat, yang ada justru menjadi beban.

Sudah difahami bahwa guru akan mendapat gaji setiap bulan baik apakah dia ikhlas atau pun tidak, karenanya keikhlasan dan ketakwaan pada Allah menjadi hantaman fatal dalam pendidikan.  Karenanya wajib bagi guru untuk terampil dalam materi pengajaran yang dipelajarinya, menarik dalam cara penyampaian ilmu kepada murid-muridnya.
Share:

Sifat Wajib Bagi Guru (2)

Termasuk sifat penting bagi guru adalah sabar, bijaksana, panjang pemikiran. Wajib bagi guru pendidik sebagai pencetak generasi untuk mengikuti metode dan aqidah Laa Ilaha illallah Muhammad ar Rasulullah agar menjadi sabar dan bijak sehingga ia dapat memikul tugas.

Dan untuk kesabaran dan kebijaksanaannya itu telah disediakan pahala besar disisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: 

 وَا للّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

"... Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 146)

Begitupun baginda Rasulullah SAW menyuruh bersabar, bahkan dalam situasi yang sulit. Panjang pemikiran dan keluasan hati adalah perkara penting terutama saat guru menyadari bahwa pahala dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang diletakkan di atas pundaknya.

Hendaknya guru menyadari bahwa setiap murid mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya masalah dan perhatian yang berbeda.

Dan guru adalah ayah dan pendidik bagi mereka yang mesti meluaskan hatinya untuk mereka, menyayangi dan mengasihi, lembut dan bersabar atas sulitnya mengajari mereka dan menjelaskan pemikiran kepada mereka dengan ragamnya kemampuan, keinginan, perilaku dan tingkat berfikir mereka, karena diantara murid ada yang mampu memahami ungkapan dan pelajaran dengan satu kali penjelasan, dan ada yang mesti berulang kali dan dengan penjealasan yang rinci.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR. Muslim).

Namun kita lihat beberapa guru – semoga Allah memberi mereka petunjuk – tidak mempunyai kesabaran dan kasih sayang sedikitpun.  Hanya memarahi muridnya ketika ia tidak faham satu masalah dan mengerti apa yang diminta gurunya, dia akan terlihat marah dan meledak emosinya ketimbang bersikap sabar, bijak dan berusaha menghadapinya, kadang ia mengeluarkan kata-kata dan bersikap yang menyakiti perasaan muridnya. Karenanya seorang guru harus bisa mengendalikan diri, bersabar, merenung, dan mengelola emosinya terhadap pertanyaan-pertanyaan murid, meski terkadang terjadi kejenuhan.

Kita diingatkan dengan kisah Mu’awiyah bin al-Hakam, r.a. saat ia mengikuti sholat jama’ah dan ia belum tahu bahwa berbicara ketika sholat itu diharamkan.  Seorang sahabat bersin, kemudian ia menegurnya, sahabat lain mengingatkannya dengan isyarat, namun ia tidak faham dan melanjutkan kalimatnya.

Ketika sholat usai, Rasulullah SAW memanggilnya, Mu’awiyah menghampiri dengan ketakutan, kemudian bersabda Rasulullah dengan kelembutan: ” … Saat sedang sholat, tidak boleh terjadi apapun dari ucapan manusia, selain tasbih, tahmid dan bacaan Qur’an..”.

Mu’awiyah mengomentari perbuatan Rasulullah SAW dengan mengatakan: “Demi Ayah dan Ibuku, belum pernah aku melihat pengajaran terbaik dan paling santun selain dari pengajaran Baginda Rasulullah SAW.  Seperti itulah kesabaran dan kasih sayang Rasulullah, suri tauladan dan guru yang seluruh ucapan dan perbuatannya adalah pengajaran.
Share:

Menanamkan Adab pada Anak (1)

Apa yang ada dalam benak kita ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan dan santun perilakunya, hormat dan patuh kepada orangtuanya, pandangannya tidak liar, wajahnya berseri-seri? Tentu, anak seperti ini membuat senang siapa saja yang melihat dan berjumpa dengannya. Pasti kita yakin bahwa ia adalah anak yang terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan adab yang baik serta akhlak yang mulia. Pastinya, setiap orangtua menginginkan anak yang demikian; anak-anak yang menjadi penyejuk hati orang-orang dekatnya, terutama orang tuanya.

Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Oleh karena itu, anak-anak harus mendapat perhatian saksama agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas prima. Mereka harus menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tangguh, yang selalu menjaga sikap dan perilakunya dengan baik. 

Dengan begitu mereka siap terjun dalam kancah kehidupan dengan membawa Islam dalam setiap langkah-langkahnya. Dengan itu pula mereka mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi, baik persoalan pribadinya maupun persoalan umat secara keseluruhan.

Kewajiban Menanamkan Adab

Banyak ulama telah membahas makna adab dalam pandangan Islam. Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah).

KH Asy’ari membuka karya tulisnya, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, dengan mengutip sabda Rasulullah, ”Hak seorang anak atas orangtuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik.”

Adab: Bagian dari Hukum Syariah

Penanaman adab dan sopan-santun pada anak merupakan hal yang sangat penting dalam Islam karena merupakan bagian dari hukum syara. Adab dan sopan-santun merupakan bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan Rasulullah. Setiap muslim wajib menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum muslim memiliki akhlak tercela. Abdullah bin Umar r.a. menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Islam memerintahkan orangtua untuk menanamkan adab dan sopan santun kepada anak sejak dini, sebagaimana sabda Rasulullah, “Jika anak telah mencapai usia enam tahun, hendaklah ia diajari adab dan sopan-santun.” (HR Ibnu Hibban).

Beliau pun bersabda:

 يَا غُلاَمُ سَمِّ الله، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang bersama anaknya. Rasulullah kemudian bertanya kepada anak tersebut, “Siapa ini?” Lalu ia menjawab, “Ayahku.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu jangan berjalan di depan dia, jangan melakukan perbuatan yang dapat membuat dia mengumpat kamu karena marah, jangan duduk sebelum ia duduk, dan jangan memanggil dengan menggunakan namanya.”

(bersambung: Cara Agar Anak Beradab)
Share:

Kekerasan Verbal Dibalik Kata 'Memotivasi'



Mendidik anak bukan hal yang mudah. Salah langkah bisa mengakibatkan salah asuhan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui apa yang semestinya dilakukan dan apa yang semestinya dihindari. Ditambah pula faktor-faktor yang akan mendukung pendidikan yang sedang kita lakukan.
Abu Umar Yusuf Ibnu ‘Abdil Barr al-Qurthubi rahimahullah dalam kitabnya Jami’ Bayanil ‘Ilmi fa Fadhlihi mengatakan, “Keadaan seorang anak di hadapan pendidiknya kala mendidiknya, bagaikan seorang pasien yang tergambar jelas di hadapan seorang dokter ketika mengobatinya. Dia mengawasi keadaan, kemampuan, dan tabiat si anak, sehingga pendidikan itu akan membuahkan hasil yang paling sempurna dan optimal.”
Kekerasan Verbal dalam Mendidik Anak

Ucapan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah ini merupakan fondasi bagi pergaulan orang tua terhadap anak-anak. Cara bertindak terhadap anak kecil juga bervariasi antara satu individu dan yang lain, antara satu anak dan anak yang lain, antara satu waktu dan waktu yang lain. Di sini kita akan memaparkan beberapa cara bertindak yang salah terhadap anak kecil, agar kita dapat menghindarinya semampu kita.

KEKERASAN NO KETEGASAN YES !

Para ahli pendidikan dan pakar kejiwaan memandang cara ini sebagai cara yang paling berbahaya bagi anak, apabila terlalu sering dilakukan. Memang ketegasan dibutuhkan dalam momen-momen tertentu, namun kekerasan justru hanya akan menambah ruwet masalah dan memuncak. Tatkala sang pendidik emosi hingga kehilangan kontrol, melupakan kesabaran dan kelapangan hati, dia akan menyerang si anak dengan cercaan dan mencaci-makinya dengan kata-kata yang amat jelek dan kasar.

Salah satu bentuk kekerasan yang sering dilakukan para orang tua dan pendidik adalah mengeluarkan kata. kasar dan ungkapan-ungkapan buruk yang ditujukan si anak. Muhammad Rasyid Dimas di dalam bukunya Siyasah Tarbawiyyah Khathi'ah mengutip beberapa contoh kalimat yang kerapkali diucapkan oleh para orang tua atau pendidik -- umumnya ketika sedang marah - dan disinyalir dapat melukai jiwa anak. Yakni ungkapan-ungkapan seperti, ”G*bl*k! " "Kamu t*l*l! ”, "Diam, dungu! ", "Kemarilah, hai anak nakal! ". "Kamu seperti keledai, tidak paham juga!”, "Aku tidak merasa bangga kamu jadi anakku! ", ”Kamu orang paling bodoh pernah saya lihat!", ”Mengapa kamu tidak Seperti adikmu! ", dan lain sebagainya.

Kalimat-kalimat semacam itu, menurut Rasyid Dimas, sangat berbahaya bagi jiwa anak, dan hendaknya dihindari oleh para pendidik. Kalimat-kalimat seperti itu jika terlalu sering diucapkan akan menjadikan anak merasa diintimidasi, dizhalimi dan diitindas, sehingga menyebabkan luka di dalam jiwanya. Luka tersebut tidak akan hilang dalam waktu yang cepat, melainkan akan menempel kuat dan membuat parit yang dalam pada perasaan dan jiwanya. Dan itu akan menghambat proses perkembangan jiwa si anak dan membuatnya menjadi orang yang introvert (tertutup), murung, merasa tidak aman dan membenci diri sendiri ; serta akan menumbuhkan sikap aproiri, pembangkang, frustasi, pasif dan permusuhan terhadap orang lain. Yang lebih parah lagi, hal itu akan rnemangkas rasa percaya diri dan motivasi anak, sehingga anak menjadi mudah putus asa, minder dan tidak memiliki semangat untuk maju.

Astaghfirullahal 'azhim. Dengan dalih mendidik, orang tua dan pendidik ternyata telah melakukan sebuah kesalahan besar terhadap anaknya. Mereka begitu enteng berkata kasar, membentak, marah-marah dan melayangkan tamparan atau _ pukulan keras penuh emosi kepada si anak, yang secara tidak disadari telah melukai jiwa anak dan membabat proses pertumbuhan elemen-elemen kejiwaan penting dari dalam dirinya, seperti rasa percaya diri, kreativitas, juga semangat inovasi dan kreasi. Inilah sebuah pembantaian motivasi, sebuah penindasan rasa percaya diri, sebuah penghancuran semangat berkreasi dan kebebasan berekspresi anak yang sungguh sangat kejam.  Dan mungkin juga,  inilah sebuah bentuk 'terorisme'  dalam pendidikan anak yang menjadikan anak tertindas secara kejiwaan.

Share:

Karakteristik Kepribadian Anak (1)


Salah satu penyebab utama kegagalan pendidikan anak adalah minimnya pengetahuan orang tua atau pendidik tentang karakteristik kejiwaan anak. Ibarat seorang dokter, orang tua dan pendidik kurang mampu mendiagnosis penyakit pasiennya, sehingga proses pengobatan yang ia lakukan menjadi tidak terarah dan asal-asalan.  Pendidikan yang tidak terarah sangat membahayakan perkembangan jiwa anak. Anak akan tumbuh dalam kondisi kejiwaan yang tidak utuh, seperti gampang putus asa, minder, penakut, pemarah dan lain sebagainya. Untuk itu, pengertahuan dan pemahaman tentang jiwa anak-anak (ma’rifatul aulad) menjadi modal dasar bagi kesuksesan mendidik anak. Ma’rifatul aulad menjadi landasan gerak bagi proses pendidikan anak.

SIFAT-SIFAT KHAS ANAK

Syaikh Muhammad Sa’id Mursi di dalam bukunya fan tarbiyatil Aulad fil Islam menjelaskan beberapa sifat khusus yang dimiliki anak-anak. Sifat khusus ini perlu dimengerti dan dipahami oleh para orang tua dan pendidik, sehingga pendidikan yang ia lakukan selaras dengan kondisi kejiwaan anak. Sifat khusus pada diri anak-anak yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi adalah tidak bisa diam dan banyak bergerak, selalu ingin meniru, suka membangkang, tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, banyak bertanya, memiliki daya ingat yang sangat kuat, senang diberi motivasi, gemar bermain dan bersuka ria, senang bersaing, senang berkhayal, kecenderungan untuk memiliki keterampilan (skill), cepat menguasai suatu Bahasa, menyukai permainan bongkar pasang, dan sensitive (peka).
Pentingnya memahami karakter anak
Diantara semua sifat –sifat khas yang dimiliki oleh anak-anak di atas  dan paling menonjol adalah,
  • BANYAK BERGERAK, GEMAR BERMAIN DAN BERSUKA

Inilah sifat motorik anak yang khas. Anak – terutama di bawah usia 8 tahun – selalu banyak bergerak, tidak bisa diam untuk waktu yang lama, gemar bermain dan selalu bersuka ria. Ini adalah sifat yang wajar dan tidak membahayakan. Malah justru jika seorang anak tidak banyak bergerak dan sering menyendiri, maka akan dipastika ia memiliki ‘kelainan’ secara kejiwaan. Orang tua dan pendidik yang paham dengan sifat anak ini akan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak, dengan tetap memberikan kontrol yang  intens. Namun orang tua dan pendidik yang tidak memahami sifat anak ini, akan cenderung emosional dan suka memarahi anak. Dan ini merupakan sebuah bentuk ‘penindasan’ naluri fitriah anak. Banyak bergerak akan menambah kecerdasan dan pengalaman anak setelah dewasa.
  •  SELALU INGIN MENIRU

Anak kecil akan selalu meniru orang dewasa, khususnya kedua orang tuanya dan gurunya dalam hal yang baik maupun buruk. Anak akan menyerap semua tingkah laku orang dewasa yang dekat dengan dirinya. Maka, salah satu problem besar yang menaungi dunia pendidikan anak saat ini adalah tidak baiknya kepribadian pendidik (syakhshiyyatul murabbi). Orang tua dan guru tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Untuk itu, wahai para orang tua dan guru, jika Engkau ingin memperbaiki akhlak anak, maka ibda’ min nafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Perbaikilah dulu akhlak Engkau, niscaya akhlak anak pun akan ikut baik. Sebuah Syair yang cukup menggelitik mengatakan:

"Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah dari penyimpangan
JIka itu engkau lakukan maka engkau termasuk orang yang bijak
Kala itu nasihatmu akan diterima
Ilmumu  akan diikuti dan pengajaranmu akan berguna."

  • MEMILIKI  DAYA INGAT YANG SANGAT KUAT


Memori anak kecil itu masih putih bersih dan belum ternoda dengan berbagai macam permasalahan. Oleh sebab itulah, anak sangat mudah menghafal walaupun ia tidak paham. Inilah yang dimaksud dengan daya ingat yang sangat kuat. Umur anak-anak merupakan ‘umur emas’ (‘umrun dzahabiyyun), yang ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalan yang amat kuat. Maka, kita bisa menyalurkan daya ingat anak yang kuat itu untuk banyak menghafal Alquran, hadits, doa-doa dan dzikir. Apa yang sudah tersimpan dalam ingatan anak akan sulit terlupakan. Sehingga, dalam catatan sejarah, kita banyak mendapatkan para ulama yang telah hafal Alquran sebelum ia berumur 10 tahun. Orang tua dan guru yang cerdas akan berusaha memenuhi memori anaknya sejak kecil dengan hafalan Alquran, hadist, doa-doa. Itu akan berpengaruh sangat positif bagi kepribadian anak ketika menginjak dewasa. Memenuhi anak dengan sinetron-sinetron cinta, lagu-lagu dan tayangan-tanyangan televise yang tidak mendidik serta hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebuah kebodohan nyata yang banyak dilakukan oleh para orang tua dan guru. Mereka telah melakukan sebuah ‘pembunuhan moral’ dan ‘perusakan kepribadian’ satu generasi. Ini merupakan sebuah kedzaliman yang besar.

  •  SENANG DIMOTIVASI ATAU DIPUJI


Inilah yang banyak dilupakan oleh para orang tua dan guru. Yakni memberikan pujian kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil melaksanakan tugasnya. Pujian akan memperbarui semangat dan menyegarkan jiwa anak. Selama ini anak agaknya lebih sering diteror jiwanya dengan bentakan, kata-kata kasar, makian, bahkan pukulan; dan kurang mendapatkan pujian, penghargaan dan motivasi secara proporsional.
Salah satu hal yang efektif dan perlu diperhatikan orang tua dan guru dalam memberikan motivasi kepada anak adalah mengaitkan motivasi itu dengan pahala akhirat. Misalnya kita mengatakan kepada si anak, “Allah akan meridhai orang yang gemar membaca Alquran, pahala setiap hurufnya berlipat menjadi 10 kebaikan”, “Shalat yang kita lakukan di masjid pahalanya adalah 27 kali lipat dari shalat yang dilakukan sendirian di rumah”. Atau bisa juga kita kaitkan dengan apa yang diperbuat oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika anak pergi berolahraga, kita katakan kepadanya, “Kamu akan menjadi orang yang kuat seperti Umar bin Khathab, sehingga orang-orang kafir takut kepadanya.” Motivasi atau dorongan yang dikaitkan dengan masalah agama dan akhirat lebih kuat dan mengakar dan mengendap pada jiwa anak. Dan hal tersebut sangat efektif untuk menumbuhkan kesadaran anak untuk melakukan kebaikan.


Bersambung…


Share:

Bangun Pagi Kunci Pertama Kesuksesan Anak

Perbaikan kualitas generasi selayaknya dimulai dengan kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab generasi unggul bermula dari pagi yg masygul (sibuk).

Jika anak terbiasa bangun pagi sedari dini, itu ciri anak berprestasi. Tak mudah dipengaruhi berbagai pergaulan yg tidak islami.
Bangun Pagi Kunci Pertama Kesuksesan Anak

8 cara membangunkan anak setiap pagi:

  1. Usap dadanya
  2. Kecup keningnya
  3. Bacakan doa bangun tidur ditelinganya
  4. Dudukan pelan-pelan
  5. Gosok punggungnya
  6. Ulangi baca doa
  7. Dalam kondisi duduk ulangi baca doa
  8. Setelah buka mata senyumlah dihadapannya


So, tunggu apalagi. Jangan cuma bisa marah dan mencaci. Segera bertindak untuk buah hati. Fokuslah kepada bangun pagi.

Semangat beraksi ayah bunda, Barokallohu fiikum.
Share:

Ikuti Nova Hida di Youtube

Follow Me